Kian viralnya lato-lato, dilihat oleh segelintir orang sebagai ladang cuan baru. Di Bali, euphoria permainan lato-lato ini tidak ketinggalan. Ini dapat dilihat dari mulai ramainya pedagang lato-lato di pinggir jalan di sekitaran wilayah Denpasar. Tak hanya pedagang mainan, pedagang buah pun turut menjual lato-lato.
Seperti yang dilakukan Zaenab, 40, yang mulai berjualan lato-lato sejak Jumat (6/1) lalu bersama suaminya. Pedagang buah sekaligus meubel di Jalan Letda Tantular, Dangin Puri Klod, Denpasar Timur ini mengaku iseng dan bermodal nekat mencoba berjualan lato-lato.
Tidak disangka, pembeli lato-latonya cukup ramai. Dalam sehari, ia bahkan pernah menjual sampai 100 buah lato-lato atau senilai Rp 1 juta.
“Lagi viral kan, iseng-iseng aslinya, mungkin rejeki saya di sini. Kemarin sehari dapat jualan 80 buah atau sekitar Rp 800 ribu. Paling tinggi pernah jualan Rp 1 juta sehari dari pagi pukul 10.00 Wita sampai 00.00 Wita. Memang sampai malam, sekalian buka meubel,” ungkapnya saat ditemui Selasa (10/1).
Selama 5 hari berjualan, Zaenab mengaku, sudah mengantongi keuntungan bersih sampai Rp 1,5 juta. “Awalnya cari 50 buah saja. Laku semua, terus ambil lagi 150 buah, dari pukul 14.00 Wita sampai malam habis 100 buah. Sekarang yang tergantung ada sekitar 150 buah lagi,” terang perempuan asli Jember ini.
Untuk lato-lato yang ia jual, tidak memiliki perbedaan kualitas dan harga. Lato-latonya tersedia sebanyak enam warna, mulai dari hijau, pink, kuning, oranye, biru, putih, dan merah. Menurut Zaenab, lato-lato ini ia peroleh langsung dari agen di Surabaya, Jawa Timur. Dengan membelinya di agen luar Bali, diakuinya, ia bisa menjual dengan harga lebih murah yakni Rp 10 ribu per buah. “Kalau ngambil di agen sini, jadinya jual mahal. Bisa Rp 12 per buah atau Rp 15 ribu per buah,” katanya.
Pembelinya tidak hanya dari kalangan anak-anak, melainkan ada yang dewasa, remaja, bahkan hingga kakek-nenek. “Mungkin belikan cucunya,” imbuhnya. Editor : I Dewa Gede Rastana