Berkonsep wisata kuliner di atas kapal, Warung Pondok Bawang kian dikenal masyarakat. Dibuka akhir tahun 2019, hingga kini pengunjung warung makan ini tidak pernah sepi.
Made Sukarya, 47, owner Warung Pondok Bawang, memulai usaha ini lantaran masalah ekonomi. Minimnya wisatawan karena pandemi Covid-19, berdampak terhadap bisnis water sport-nya. Dari warung kecil menjual ikan bakar di rumah sendiri, berkembang hingga menggunakan dua kapal di pinggir laut Serangan sebagai tempat menikmati kuliner seafood.
“Warung Pondok Bawang spesial hanya mengolah seafood. Karena makin ramai, saya mulai berpikir, saya punya kapal yang tidak terpakai, terus saya manfaatkan. Lahan di sini kan utamanya mangrove dengan air laut pasang-surut. Makanya bisa saya bawa (kapal) ke sini tanpa merusak lingkungan di sini, karena ini juga saya pakai alur nelayan,” katanya saat ditemu di lokasi, Jalan Tukad Punggawa, Serangan, Denpasar Selatan, Senin (22/5).
Kecil di Serangan, Sukarya mencoba menggali potensi yang ada di hutan mangrove dengan mengembangkan konsep kulineran di atas kapal. Ia juga memberdayakan nelayan untuk memperoleh ikan dan masyarakat lokal sebagai karyawan. Selain itu, ia gencar memasarkan warung makannya di sosial media seperti facebook dan instagram hingga berkembang seperti saat ini.
Kapal yang digunakan, ungkap dia, merupakan kapal untuk bisnis water sport-nya. Sebelumnya ia gunakan sebagai tempat tunggu sebelum aktivitas water sport dimulai. Sebut saja, snorkeling, seawalker, dan diving. Kapasitasnya sendiri dapat menampung hingga 200 orang. Tetapi untuk kebutuhan tempat makan, hanya difungsikan sebesar 50 persen.
“Meja kursi saya isi (cukup untuk) 80 orang atas-bawah. Digunakan untuk warung karena sewaktu Covid-19, pariwisata sudah hampir tidak bisa bergerak. Biarpun ada, tidak mampu untuk menghidupi keluarga, apalagi bisnis water sport itu tergantung volume,” terangnya.
Sementara untuk harga kuliner yang ditawarkannya, mulai dari Rp 50-100 ribu. Menu andalannya mulai dari kerang bakar bumbu Serangan dan bumbu Bali, sup ikan bumbu rajang, dan sumi suna cekuh khas Bali. “Untuk bumbu Serangan, ciri khas dahulu di sini ada penyu. Bumbu rajang dan bumbu suna cekuh ini sebenarnya dipakai untuk bumbu (masakan) penyu. Ciri khas aroma, terutama yang orang asli Denpasar itu tahu betul. Itu yang saya angkat di sini,” ungkapnya.
Disinggung terkait pasang-surut air laut, Sukarya mengaku hingga saat ini masih aman-aman saja. Jika pasang, air bisa tinggi sampai tiga meter. Namun dikatakannya karena mengandung lumpur, tidak ada karang di bawah kapalnya, sehingga tidak merusak habitat laut. “Operasional kita mulai dari pukul 10.00-22.00 Wita,” katanya.
Editor : I Komang Gede Doktrinaya