Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menguak Asal-usul Nasi Jinggo Bali: Kuliner Legendaris yang tak Lekang oleh Zaman

Wiwin Meliana • Jumat, 22 September 2023 | 19:38 WIB
NASI JINGGO: Kuliner legendaris yang tak lekang oleh zaman dan memiliki beragam asal-usul terkait sebutan nasi jinggo.
NASI JINGGO: Kuliner legendaris yang tak lekang oleh zaman dan memiliki beragam asal-usul terkait sebutan nasi jinggo.

BALI EXPRESS - Masyarakat Bali tentunya sudah tak asing lagi dengan sajian nasi jinggo yang berciri khas dibungkus daun pisang.

Uniknya, di tengah gempuran makan-makanan siap saji dan modern, nasi jingo tetap digemari oleh masyarakat, seolah tak lekang oleh zaman.

Pasalnya, rasanya yang enak dan harganya yang ramah di kantong, membuat nasi jinggo menjadi “pelarian” untuk mengisi perut kosong.

Tak hanya di Denpasar, nasi jinggo juga mudah dicari di seluruh wilayah di Bali.

Lalu bagaimana asal-usul nama nasi jinggo sebagai kuliner legendaris di Bali?

Tidak ada catatan sejarah atau pun dokumentasi terkait asal-usul nasi jinggo.

Seperti halnya kebudayaan khas Indonesia yang lain, asal-usul nasi jinggo diketahui dan diwariskan dari mulut ke mulut.

Beberapa versi juga bermunculan, menambah daftar referensi asal-usul nasi jinggo yang legendaris ini.

Ada versi yang menyebut jika nasi jinggo diambil dalam Bahasa Hokkien yakni Jenggo yang berarti seribu lima ratus.

Nah, sebelum krismon di penghujung tahun 1997, nasi jinggo dijual per porsi seharga Rp 1.500.

Maka tak heran apabila makanan ini dinamakan nasi jenggo atau nasi jinggo.

Versi selanjutnya menerangkan bahwa asal-usul kata jinggo berawal dari kepopuleran sebuah film cowboy berjudul “Djanggo” pada masa itu.

Ada yang menyebutkan, lantaran nasi yang dibungkus daun pisang menyerupai topi cowboy film Djanggo, maka nasi tersebut dinamai nasi jingo.

Berbeda dengan dua pendapat tersebut, seorang pemilik akun facebook Chef Bloem membeberkan asal-usul nama nasi jinggo di Bali.

Ia mengklaim jika pada tahun 1970, kedua orang tuanya menjual nasi bungkus dengan tiga pilihan lauk yakni babi, ayam dan sapi.

Ibunya menjual nasi tersebut setiap pagi di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Bali kepada sopir-sopir mobil tangki pertamina, pekerja pelabuhan dan para pemancing untuk sarapan pagi.

Nasi itu dijajakan oleh seseorang yang diupah oleh ibunya.

Saat menjual nasi, penjual berteriak, “Nasi Men Djenggo”.

Sebutan Men Djenggo muncul karena sang ayah yang merupakan pensiunan TNI adalah penggemar film cowboy Djanggo yang saat itu diperankan oleh Franco Nero.

“Saking sukanya dengan film tersebut, saya waktu bayi sering dininabobokan dengan nyanyian ‘Djanggo Jago Tembak’, sehingga tetangga dan saudara sekitar sering mendengar,” jelasnya dikutif dari status di media sosial Facebook Chef Bloem.

“Sejak saat itulah saya mulai dipanggil Djenggo,” sambungnya.

Sejak saat itu, sang ibu mulai dikenal dengan panggilan Men Djenggo.

Ia biasa membuat nasi 300 hingga 500 bungkus setiap harinya.

Bahkan bisa membuat 1.000 bungkus jika mendapat orderan dari kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Benoa.

Setelah 10 tahun berjualan, sang ibu harus berhenti karena memutuskan mengabdi menjadi ‘pelayan’ Tuhan.

Pada tahun 1984 ia menyebut mulai muncul nasi jinggo di Denpasar, tepatnya di Pasar Badung.

Kini, seiring berjalannya waktu, nasi jinggo mulai dikreasikan dalam bentuk yang lebih menarik dan dapat ditemui di seluruh sudut Pulau Bali.

Sejurus dengan melambungnya harga bahan baku, harga nasi jinggo pun ikut naik, yakni Rp 3.000 –Rp 10.000 per bungkus, tergantung porsi yang disajikan.  Beberapa resto ternama di Pulau Dewata bahkan mengaransemen tampilan nasi jinggo menjadi sajian berkelas dan menjualnya dengan harga yang tinggi.

Photo
Photo
Editor : Nyoman Suarna
#bali #Asal-usul #Nasi Jinggo #kuliner #legendaris