DENPASAR, BALI EXPRESS- Menjelang Pemilu 2024, usaha periklanan atau advertising mulai menikmati keuntungan. Itu karena banyak bakal caleg mulai tebar pesona.
Omzet advertising naik sebesar 200-300 persen yang didominasi iklan dari bakal caleg yang memperkenalkan diri.
Salah satu yang menikmati berkah bakal caleg ini adalah Jagir Advertising. Owner Jagir Advertising dan Jeger House I Gede Agus Weda “Jagir” Wiguna mampu mengantongi omzet bersih sampai Rp700-800 juta per bulan.
“Ini mulailah ada penampakan bayar-membayar caleg-calegnya, sewa bulanan. Kita tidak mengambil salah satu partai, kita ambil semua (partai) yang penting bayar. Poinnya harus bayar, tidak bisa ngutang, karena kita juga harus bayar bahan tidak boleh ngutang,” katanya saat diwawancara di Jeger House, Rabu 27 September 2023.
Khusus pada tahun politik ini, Jagir bahkan memberikan diskon sewa baliho dan billboard hingga 50 persen untuk caleg-caleg yang ingin ‘nampang’.
Diskon ini diberikan demi menekan biaya politik partai. “Untuk iklan biasa lebih mahal. Harga pasarannya (iklan biasa bukan partai) sekitar Rp 20 juta per bulan, tergantung lokasi, premium atau tidak. Lokasinya seluruh Bali ada, karena kita menghandle seluruh Bali dulu, luar Bali nanti, ada waktunya,” ungkap pria dengan penuh tato di tangan ini.
Hingga saat ini, dirinya menyebutkan, sudah ada 5 partai politik yang menggunakan jasa advertising-nya.
Terbanyak datang dari Partai Golkar, Partai PSI, hingga Nasdem. “Terbanyak bahkan bukan dari PDIP, yang terbanyak ada Golkar, PSI, Nasdem, ada Demokrat juga,” katanya.
Menanggapi maraknya baliho liar, Jagir mengaku bahwa hal tersebut merupakan ranah dari Bawaslu dan Satpol PP.
Ia hanya menekankan bahwa baliho dan sejenisnya mestinya dipasang sesuai aturan, yang aman tidak boleh dipasang di sekitar wilayah pura, sekolah, dan instansi.
“Coba main ke Pura Tanah Kilap itu ada, padahal itu sudah melanggar. Di sekolah juga sudah pasti tidak boleh. Tapi bisa lihat kenyataannya gimana, apalagi yang mengganggu pejalan kaki. Itu paling sering. Kalau baliho-baliho liar itu justru menguntungkan kita, mereka kan nyetak di kita, tapi tim suksesnya yang pasang (sembarangan),” bebernya.
Tentunya, diakuinya, ada saja caleg yang ‘pongah’, meminta diskon di luar nalar. Hal seperti itu dikatakannya akan selalu ada, bahkan sampai ada yang minta gratisan.
“Sampai bertengkar (sama saya) juga pernah. Ada (caleg mengatasnamakan persahabatan agar gratis), tapi saya sudah tidak (menghiraukan),” ucapnya.
Membludaknya orderan sewa reklame ini disebutnya sudah mulai sejak 2 bulan lalu. Tidak hanya saat tahun politik, tetapi juga di saat hari raya seperti Galungan dan Kuningan lalu.
“Hari raya di Bali Galungan dan Kuningan itu sudah pasti ada ucapan dari partai-partai itu. Di musim hari raya itu ada,” kata dia.
Sementara di luar politik, salah satu iklan yang ramai datang padanya adalah produk kosmetik.
“Karena kalau di Denpasar rokok kan tidak bisa. Ada aturannya. Siapa tau kedepannya bisa rokok,” harapnya. (*)
Editor : I Made Mertawan