JAKARTA, BALI EXPRESS - Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) mencurigai bahwa impor atau pembelian alat kampanye Pemilu dari luar negeri menjadi penyebab utama penurunan omzet UMKM penjual atribut kampanye hingga 90%.
Deputi Bidang Usaha Mikro KemenKopUKM, Yulius, menyatakan bahwa pada Pemilu sebelumnya, pesanan barang-barang ke UMKM sangat tinggi, namun sekarang pesanan tersebut beralih ke e-commerce yang mayoritas mengimpor barang dari luar negeri.
"Beberapa Pemilu yang kemarin banyak memesan dari UMKM. Sekarang pesanan itu lari ke e-commerce, dan barangnya kita tahu berasal dari luar negeri," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Menurut Yulius, informasi mengenai pembelian alat kampanye dari luar negeri masih bersifat dugaan, diperoleh setelah wawancara dengan 15 pelaku UMKM di Pasar Tanah Abang dan Pasar Senen Jakarta.
Pembelian melalui e-commerce diklaim tidak memiliki data yang jelas, dan barang-barang yang dibeli online, seperti kaos, kemeja, jaket, atau topi, diduga berasal dari luar negeri dengan penambahan logo dan simbol partai lokal.
Yulius juga mencurigai bahwa peserta Pemilu yang telah memesan produk untuk kampanye melalui mitra usaha dari partai mungkin juga menjadi penyebab kampanye yang tidak berdampak signifikan pada pengusaha dalam negeri.
Pedagang dari Pasar Tanah Abang, Dody Ariyanto, mengakui bahwa pembelian atribut peraga kampanye dari luar negeri sering didengarnya dari mulut ke mulut sesama pedagang.
Meskipun demikian, penjualannya tidak dilakukan secara terang-terangan di toko, melainkan langsung dikirim dari luar negeri ke alamat peserta Pemilu.
Pembelian alat kampanye, terutama kaos, dikatakan Dody tidak hanya terjadi selama kampanye Pemilu 2024, tetapi sudah berlangsung sejak kampanye sebelumnya.
Namun, pada periode kampanye tahun ini, ia mengeluhkan penurunan omzet hingga 70%, dari biasanya Rp20 juta per hari.
Ketua IPKB (Indonesia Pengusaha Konfeksi Berkarya), Nandi Herdiaman, menyatakan bahwa kampanye Pemilu 2024 tidak memberikan dampak positif bagi pelaku UMKM, terutama yang bergerak di bidang konveksi dan sablon.
Meskipun ada pesanan, tetapi jumlahnya masih kurang, tidak sebanding dengan musim kampanye tahun 2019.
IPKB berupaya membantu para pelaku usaha dengan mendorong penjualan online selama enam bulan terakhir, bekerja sama dengan marketplace seperti Shopee.
Upaya ini dilakukan untuk membantu pelaku konveksi agar tetap bisa berjualan online dan bertahan di era digitalisasi saat ini. (*)