DENPASAR, BALI EXPRESS - Perkembangan kain tenun di Indonesia erat kaitannya dengan pengaruh tenun India.
Bahkan hal ini telah terjadi sejak dua ribu tahun lalu.
Akibat pengaruh kain tenun ini pun disebabkan oleh beberapa faktor.
Seperti, perdagangan Maritim antara India dan Indonesia yang memfasilitasi pertukaran barang, termasuk tekstil.
Pedagang India berlayar melintasi Samudera Hindia, membawa kekayaan kain tenunnya ke kepulauan Indonesia.
Wakil Konsulat India di Bali, Ruchika Bisht mengatakan, Interaksi budaya antara budaya India dan Indonesia juga menyebabkan pertukaran ide, termasuk teknik produksi tekstil.
Sehingga pada zaman itu, pengrajin India kemungkinan besar membagikan metode dengan penenun Indonesia.
Seperti teknik pewarnaan, dan desain, yang mengadaptasi pengaruh-pengaruh ini ke dalam praktik tekstil.
“Teknik tenun India diperkenalkan kepada penenun Indonesia, dengan berbagai metode seperti ikat, ikat pewarna, termasuk teknik yang digunakan untuk membuat pola rumit pada kain. Tekstil India juga mempengaruhi perkembangan alat tenun dan praktik pewarnaan di Indonesia,” ujar Ruchika Bisht saat ditemui disela World Weavers Conference atau Konferensi Penenun Dunia, di Prama Hotel,Sanur, Minggu (18/2).
Terkait Motif dan Desain, tekstil India menampilkan beragam motif, pola, dan warna yang semarak. Termasuk pola bunga seperti paisley dan bentuk geometris berulang. Motif ini dan desainnya mempengaruhi penenun Indonesia dalam perkembangan dan evolusi khas mereka sendiri gaya menenun.
Tenun berakar kuat pada warisan budaya India dan Indonesia. Dengan terlibat dalam pertukaran tradisi, teknik, dan desain tenun, keduanya negara-negara dapat memperdalam pemahaman dan apresiasi mereka terhadap budaya masing-masing.
Pertukaran budaya ini, dapat mengarah pada rasa saling menghormati, empati, dan rasa memiliki warisan bersama.
Sehingga membina hubungan yang lebih erat antara masyarakat dan pemerintah India dan india. Menenun bukan hanya sebuah praktik budaya tetapi juga penting aktivitas ekonomi.
“Dengan mendorong kolaborasi dalam industri tekstil, India dan Indonesia dapat mencapai tujuan tersebut untuk meningkatkan perdagangan bilateral dan kerja sama ekonomi. Hal ini dapat mengarah pada peningkatan investasi, kemitraan bisnis, dan pertukaran keahlian, yang memberikan manfaat bagi perekonomian dan ekonomi kedua negara menciptakan peluang penciptaan lapangan kerja dan pengembangan keterampilan,” jelasnya.
Lebih lanjut dikatakan, Tenun juga dapat berfungsi sebagai platform pertukaran diplomatik dan diplomasi budaya antara India dan Indonesia.
Pemerintah dapat memfasilitasi lokakarya tenun, pameran, dan acara budaya yang mempertemukan para penenun, perajin, dan pakar dari keduanya negara.
Interaksi ini dapat menciptakan dialog, menumbuhkan pemahaman, dan membangun kepercayaan merupakan landasan penting bagi hubungan diplomatik yang kuat.
“Tradisi tenun seringkali dikaitkan dengan budaya suatu negara, warisan budaya, yang menarik wisatawan untuk mengeksplorasi kerajinan dan tradisi asli. Oleh karena itu, mempromosikan signifikansi budaya dari tradisi tenun mereka, India dan Indonesia, dapat menarik perhatian wisatawan dari negara masing-masing, sehingga meningkatkan interaksi antar masyarakat, pemahaman lintas budaya, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal,” bebernya.
Fashion Desainer juga Presiden Indonesia Fashion Week, Poppy Dharsono yang hadir sebagai pembicara pada kegiatan tersebut mengatakan, konferensi ini untuk memperingati Hari Tenun Internasional, yang asosiasinya ada di India. Peserta pada kegiatan ini, hadir dari setiap negara seperti singapura, malaysia, indonesia.
Pada kesempatan ini, pihaknya mewakili indonesia untuk menjadi pembicara.
Dalam konferensi ini juga digelar fashion show dengan menampilkan koleksi pakaian berbahan kain tenun yang ada di Bali. Termasuk juga kain sari yang dipakai sebagai dasar pembuatan.
Hal ini sebagai upaya untuk mempromosikan kain tenun lokal, dan mempromosikan produk produk UMKM lokal. Termasuk juga mengkampanye sustainable tekstil, atau tekstil ramah lingkungan.
“Mereka semua memakai bahan-bahan yang natural atau eco friendly yang tidak mencemari lingkungan. Tentu ini juga sangat membantu para penenun lokal yang menggunakan alat tradisional,” ucapnya.
Poppy menerangkan di Indonesia keberadaan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI)m sejak lama mendorong dan mendukung pengembangan industri fashion yang berkelanjutan, mandiri, dan berciri khas nasional.
Melalui cabangnya di berbagai daerah, APPMI mendorong kolaborasi dan pendampingan antara desainer APPMI dan tekstil produsen. APPMI mendukung pengembangan serat lokal seperti kapas, sutra eri, dan lainnya serat lokal sebagai bahan baku tekstil Indonesia.
Lebih lanjut ia menjelaskan, melalui pengembangan serat lokal maka akan membuka jalan bagi industri tekstil untuk menjadi lebih mandiri. Sehingga tidak bergantung pada produk impor bahan baku.
APPMI juga terus mendorong pengembangan industri tekstil berkelanjutan di Indonesia masing-masing daerah, termasuk di Nusa Tenggara Barat. “Setiap desainer APPMI didorong untuk menggunakan bahan tekstil ramah lingkungan dan sebagainya,” harapnya. (*)
Editor : Putu Resa Kertawedangga