BANGLI, BALI EXPRESS- Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan berbagai program, di antaranya adalah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Ni Nyoman Ariani, salah satu dari sekian banyak pelaku UMKM di Kabupaten Bangli, Bali yang telah merasakan dampak positif KUR BRI.
Usaha dagangnya di Desa Jehem, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli terus mengalami perkembangan.
Selain mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, berkat usaha itu ia bisa membangun rumah dan mendanai pendidikan anak-anaknya hingga perguruan tinggi.
“Satu anak saya sudah lulus kuliah sarjana. Satu lagi masih menyusun, iya menyusun skripsi," kata Ariani ditemui di sela-sela berjualan di tokonya, Senin, 1 April 2024.
Wanita berusia 47 tahun ini mengaku mulai merintis usaha dagang yang diberi nama Toko Ariani sekitar tahun 2008.
Pada mulanya hanya menyediakan pakan ternak dan beberapa kebutuhan pokok.
Bisnis tersebut berjalan dengan baik hingga muncul keinginan untuk menambahkan berbagai jenis barang dagangan lain sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitarnya.
“Waktu itu tidak berani pinjam modal di bank. Saya takut tidak bisa membayar kredit karena belum tahu ada KUR,” tuturnya.
Keinginan yang kuat untuk berkembang mendorong Ariani bekerja keras. Dia berupaya meningkatkan stok barang di toko dengan menggunakan keuntungan dari usaha dagang ditambah gaji suaminya yang saat itu bekerja di perusahaan leasing di Denpasar.
“Bisa sih berkembang, barang-barang yang dijual semakin banyak, cuma agak lambat,” ungkap Ariani.
Baru pada tahun 2019, ia dikenalkan dengan KUR setelah petugas BRI Cabang Bangli mendatanginya. Petugas tersebut menjelaskan tentang KUR dengan suku bunga rendah.
Tanpa pikir panjang, Ariani dan suami langsung mengakses KUR plafon Rp25 juta dengan memilih tenor 12 bulan.
Suntikan modal itu dipakai menambah barang dagangan. Ia mulai menjual alat-alat rumah tangga.
Usahanya semakin lancar. Ia pun mampu melunasi kredit tepat waktu hingga mendapat kepercayaan kembali mendapat suntikan KUR.
Pinjaman KUR kedua sebesar Rp25 juta. Setelah lunas dalam setahun, ditingkatkan menjadi Rp50 juta. Seluruhnya digunakan untuk mengembangkan toko.
“Barang-barang yang dijual semakin beragam. Item yang sudah ada saya perbanyak lagi,” tegasnya.
Namun wanita yang pernah menjadi sekuriti di pusat perbelanjaan di Kota Denpasar ini tidak dapat memastikan omzet penjualannya.
Ia tidak pernah menghitung secara pasti, tapi bisa merasakan bahwa usahanya semakin berkembang.
“Bisa dilihat dari barang yang dijual, saya juga bisa memenuhi kebutuhan yang lain,” terangnya.
Sebagai informasi tambahan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI telah menargetkan penyaluran KUR sebesar Rp300 triliun tahun ini. BRI mendapatkan alokasi KUR terbesar, yakni senilai Rp165 triliun
Direktur Bisnis Mikro BRI Supari telah menetapkan target penyaluran KUR tahun ini rampung pada September 2024.
Pihaknya optimis bisa menyalurkan sesuai target. Optimisme tersebut tak lepas dari strategi yang telah disusun perseroan utamanya terkait percepatan graduasi atau upaya menaikkelaskan nasabah eksisting, dan perluasan jangkauan penerima baru.
“Untuk tahun ini kami akan salurkan KUR kepada lebih dari 3,7 juta nasabah dari pipeline sebanyak 7 juta. (Selain itu), Kami juga sudah siapkan nasabah-nasabah lama kami kurang lebih 2 juta kita akan naikkelaskan,” kata Supari.
Pada tahun 2023 lalu, BRI berhasil menyalurkan KUR senilai Rp163,3 triliun kepada 3,5 juta debitur.
Mayoritas KUR BRI disalurkan untuk sektor produksi dengan proporsi mencapai 57,38 persen. (*)
Editor : Nyoman Suarna