Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Melihat Produksi Sambal Mamone di Singaraja ; Usung Konsep Sosial Preneur, Libatkan Ibu Rumah Tangga Suport Bahan Baku

I Putu Mardika • Senin, 22 April 2024 | 00:02 WIB
Mahendri saat menunjukkan sambal Mamone di Kedai Sambal Mamone Singaraja.
Mahendri saat menunjukkan sambal Mamone di Kedai Sambal Mamone Singaraja.

 

SINGARAJA, BALI EXPRESS-Pecinta sambal di Kota Singaraja, Buleleng sepertinya sudah tidak asing dengan Sambal Mamone.

Sambal yang memiliki varian beragam bahkan sukses menembus pasar manca negara seperti Turki hingga Maldives.

 

Tidak sulit mencari kedai Sambal Mamone ini. Lokasinya di Jalan Ngurah Rai Singaraja, persis di depan Rumah Sakit TNI AD. Kedai yang didominasi dengan cat berwarna ungu ini menjadi ciri khas Sambal Mamone.

 

Di kedai ini puluhan jenis sambal sudah tersaji rapi di rak. Rata-rata sambal ini dibungkus di dalam botol berkemasan 200 ml.

Pembeli juga bisa menikmati langsung di kedai Mamone berbagai menu seperti ayam geprek, ayam goreng. Tentu dengan sambal khas Mamone. 

 

Niluh Mahendri selaku owner Sambal Mamone menceritakan, awal mula dirinya membuka usaha sambal dengan merk Mamone ini sekitar tahun 2021 silam. Kala itu, ia masih aktif menjadi pegawai di salah satu Bank BPR di Singaraja.

 

Demi menambah penghasilan, ia pun mencoba membuat sambal dengan modal hanya Rp 300 ribu. Sambal itu ia dia kemas ke dalam botol kecil. Rupanya sambal racikannya banyak diminati pelanggan.

 

“Saya sambil kerja di Bank, kadang bawa sambal. Rata rata yang beli teman-teman, saya pasarkan di medsos. Ternyata ramai yang pesan,” katanya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

 

Ibu tiga anak inipun semakin semangat untuk menekuni bisnis kuliner sambal. Istri I Made Juliawan menyebut berbisnis sambal bukan tanpa alasan. Pasalnya, ia ingin memperkenalkan sambal ke seluruh Nusantara bahkan hingga ke Manca Negara.

 

Selain itu, kemasan sambal sambal yang praktis juga bisa dibawa kemana-mana. Menurutnya, sambal bahkan menjadi menu wajib yang ada di meja makan setiap hari untuk menambah nafsu makan. Tentu, menurutnya bisnis ini tidak akan ada matinya, karena peminatnya tak pernah sepi.

 

Kesediaan bahan baku yang mudah didapatkan juga membuatnya kian yakin jika bisnis sambal bisa berkesinambungan. Terlebih, bahan baku melimpah di Buleleng. “Meskipun memperkanlkan masakan Nusantara, namun bahan baku yang dipakai untuk sambal mamo adalah bahan lokal Buleleng. Seperti cabe, bawang itu dari Bungkulan,” jelasnya.

 

Sebagian besar bahan baku disuplay langsung dari ibu rumah tangga di Buleleng yang dulunya tidak bekerja, dan sekarang mereka memiliki penghasilan.

 

“Seberapa pun hasil panen mereka, selalu kami Terima. Missal cabe dari 1 kg sampai 20 kg kami akan tampung. Ini juga yang membuat sambal kami tahan bisa 3 bulan tanpa bahan pengawet, karena bahannya fresh semua” katanya.

 

Mahendri mengaku dengan bisnis sambal Mamone ini, ia bisa membantu petani lokal di Buleleng untuk menyerap hasil panennya. “Jadi semakin besar sambal mamo, maka petani semakin Sejahtera. Inilah konsep sosialpreneur,” sebutnya.

 

Disinggung terkait pemasaran, Sambal Mamone ini bahkan sebagian besar memenuhi permintaan pelanggan di Buleleng hingga di Bali. Sambal ini juga dikirim ke Jepang, Maldives hingga ke Negara Turki.

 

“Ada juga WNI yang kerja di luar mereka beli sambal mamo untuk dibawa ke luar negeri. Begitu juga yang kerja di kapal Pesiar, kadang saat berangkat belinya sambal mamo. Alasannya karena praktis dibawa dan bisa disimpan,” ungkapnya.

 

Kapasitas produksi per hari bisa mencapai 20 kilogram. Selain dikemas menjadi sambal botolan ia juga menyiapkan sambal untuk dimakan secara langsung di kedai Bersama makanan lainnya.

 

Sedikitnya, ada sembilan jenis sambal yang diproduksi. Antara lain Sambal Teri Medan, Sambal Baby Cumi, Sambal Geprek, Suna Cekuh, Sambal Ijo, Sambal Korek, Sambal Bumbu Genep, Sambal Embe, sambal Terasi. “Yang paling best seller itu adalah sambal baby cumi,” imbuhnya,

 

Saban hari, jumlah pesanan dari pelanggan juga kian meningkat. Awal dibuka, ia bisa membukukan omset dari satu juta perbulan, terus naik menjadi Rp 30 juta, hingga ratusan juta rupiah per bulannya.

 

Saat ini, Mahendri sudah memperkerjakan sebanyak 14 orang karyawan. Sebagian besar adalah Perempuan. Mereka merupakan ibu rumah tangga.

 

“Alasannya, kalau ibu rumah tangga sudah pasti pintar memasak. Tujuannya juga untuk membantu perekonomian keluarga, baik untuk menyekolahkan anaknya sampai memenuhi kebutuhan rumah tangga,” tutupnya. (*) 

 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#bali #sambal #perekonomian #varian #rumah tangga #singaraja