BANGLI, BALI EXPRESS- Tidak pernah terpikirkan oleh Ayu Kompyang Ariani bahwa kebutuhan sehari-harinya akan tercukupi berkat menjadi Agen BRILink.
Sebelumnya, Ariani adalah karyawan sebuah butik di Kota Denpasar, Bali. Ia sudah 10 tahun bekerja di sana.
Dampak pandemi Covid-19 pada 2020 memaksa Ariani untuk mengubah arah langkahnya.
Dia memilih untuk kembali ke kampung halamannya di Desa Undisan Klod, Kecamatan Tembuku, Bangli, dan membuka usaha warung sebagai alternatif.
Di warung yang luasnya kurang dari 10x10 meter itu, ia menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari serta berbagai jenis makanan ringan dan minuman.
“Sekitar 6 bulan saya tidak bekerja di butik karena dirumahkan dampak Covid-19. Akhirnya pulang kampung buka warung,” katanya.
Belum setahun memulai mengelola warung, Ariani didekati oleh petugas BRI dengan tawaran untuk menjadi Agen BRILink.
Setelah diberikan penjelasan mengenai manfaat yang bisa didapat sebagai seorang agen nirkantor tersebut, perempuan berusia 34 tahun ini memutuskan untuk menerima tawaran tersebut.
Hal yang terlintas pertama kali dalam pikirannya adalah bagaimana ia bisa menambah penghasilan keluarga. Sebab pandemi Covid-19 juga berdampak terhadap suaminya yang dirumahkan sebagai karyawan hotel di Nusa Dua, Badung.
“Awal jadi agen itu modal saya Rp20 juta hasil pinjam KUR BRI. Pelan-pelan ditambah. Sekarang sudah Rp150 juta karena sekitar 6 bulan lagi pinjam KUR Rp50 juta,” kata Ariani ditemui Sabtu, 13 April 2024.
Saat awal menjadi Agen BRILink, hasilnya di luar dugaan. Pandemi Covid-19 yang awalnya menyulitkan, justru menjadi berkah baginya.
Dalam sebulan, ia melayani hingga 400 transaksi perbankan. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang mengatur pembatasan kerumunan selama pandemi.
“BRILink telah menjadi solusi untuk transaksi perbankan pada saat pandemi. Dengan banyaknya transaksi, saya mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp2 juta per bulan,” ungkapnya.
Setelah pandemi berakhir, jumlah transaksi mengalami penurunan. Dalam sebulan, ia melayani sekitar 250 transaksi dengan perputaran uang mencapai puluhan juta rupiah, baik itu tarik tunai, transfer, pembayaran tagihan air, listrik, pembayaran KUR dan lainnya.
Ia meraup untung dari Agen BRILink sekitar 1,5 juta per bulan. Baginya, pendapatan itu sudah besar mengingat BRILink itu merupakan usaha sampingan.
Keuntungan dari Agen BRILink dapat diraih tanpa perlu menyediakan tempat khusus.
Ia bisa melayani transaksi sambil berjualan di warungnya dan menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Seperti sekarang ini, saya bisa majejaitan (membuat sarana persembahyangan umat Hindu di Bali,Red) sambil jaga warung dan BRILink,” ungkapnya.
Dengan menjadi Agen BRILink, Ariani juga dapat membantu masyarakat setempat dalam hal transaksi perbankan.
ATM dan bank terletak agak jauh dari desa itu. Oleh karenanya, transaksi di BRILink menjadi solusi. Ariani membuka layanan dari pagi hingga malam.
“Warung dan BRILink saya buka jam 6 pagi sampai jam 10 malam, tapi kadang ada jam 12 malam manggil-manggil, menelepon untuk melakukan transaksi, dan saya tetap siap melayani,” tandasnya.
Gede Purwa, 31, seorang nasabah BRI yang ditemui setelah melakukan penarikan di Agen BRILink yang dikelola oleh Ariani, mengungkapkan bahwa BRILink menjadi pilihannya karena jarak ATM yang jauh dari Desa Undisan Klod.
Menurutnya, transaksi di BRILink lebih praktis. Sebagai contoh, saat melakukan penarikan tunai, cukup menyodorkan kartu ATM, menunggu sebentar, kemudian diminta untuk memasukkan PIN.
Selain itu, BRILink tidak terikat oleh jam operasional yang ketat. "Tidak perlu antre juga," katanya.
Oleh karena itu, sebagai seorang buruh bangunan yang tempat kerjanya sering berpindah-pindah, Purwa lebih memilih mencari BRILink daripada ATM.
“Saya biasa transaksi tarik tunai, transfer dan bayar KUR,” pungkas Purwa.
Dalam kesempatan yang sama, Dewa Gede Putra,57, juga menyampaikan alasannya memilih BRILink sebagai tempat transaksi perbankan. "Salah satunya ya karena lebih dekat," katanya.
ATM terdekat dari Undisan Klod berada di wilayah Metra, Desa Yangapi, Kecamatan Tembuku.
Untuk mencapai wilayah tersebut, dibutuhkan waktu sekitar 15 menit atau bahkan lebih, itu pun hanya sekali jalan.
Selain itu, ia juga harus meninggalkan pekerjaannya sebagai perajin bunga imitasi. Oleh karena itu, BRILink yang ada di desanya menjadi solusi yang lebih praktis.
“Kalau bisa transaksi di BRILink, saya pilih ini. Jarang ke ATM, lagipula di BRILink sudah lengkap, bisa tarik, transfer dan banyak layanan lain,” ungkap Dewa Putra.
Direktur Utama BRI Sunarso dalam keterangan tertulis mengungkapkan bahwa Agen BRILink memiliki peran krusial dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia.
“Ini yang sebenarnya paling mungkin cocok dengan modelnya BRI adalah Agen BRILink, jadi tidak boleh digital tapi juga tidak boleh konvensional, kita bikin hybrid. Proses internalnya kita digitalkan tapi urusan interaksi dengan nasabah masih menggunakan pendekatan human touching ya yaitu melalui agen," katanya.
Berdasarkan data, jumlah Agen BRILink mencapai 796 ribu agen. Jumlah itu tersebar di 75 ribu desa di Indonesia.
“Jadi jumlah agen lebih banyak daripada jumlah desa," pungkas Sunarso.
BRILink dapat melayani kebutuhan harian masyarakat di antaranya seperti pembayaran tagihan listrik, air, iuran BPJS, telepon, pembelian pulsa, pembayaran cicilan, top-up BRIZZI, setoran pinjaman, tarik tunai, memberikan layanan referral pembukaan rekening tabungan BSA maupun pinjaman dan transaksi lainnya.
Kini melalui Agen BRILink, masyarakat sudah bisa melayani penjualan asuransi mikro, tarik tunai dari luar negeri, pembelian voucher games, serta melayani kebutuhan perjalanan dengan layanan pembelian tiket bus, shuttle dan ferry. (*)
Editor : Nyoman Suarna