Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sempat Tiga Kali Menolak, Pensiunan PNS di Bali Kini Duduk Manis Jadi Agen BRILink

I Made Mertawan • Jumat, 26 April 2024 | 01:32 WIB
Dewa Putu Kaler, Agen BRILink di Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali menunjukkan mesin EDC untuk transaksi perbankan, Sabtu, 13 April 2024.
Dewa Putu Kaler, Agen BRILink di Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali menunjukkan mesin EDC untuk transaksi perbankan, Sabtu, 13 April 2024.

BANGLI, BALI EXPRESS- Dewa Putu Kaler, Agen BRILink di Desa Bangbang, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, Bali, bersyukur dapat menjadi mitra BRI.

Sebelum mencapai kesuksesan seperti saat ini, ia sempat tiga kali menolak tawaran dari BRI untuk menjadi Agen BRILink.

Dewa Kaler menolak kesempatan menjadi Agen Laku Pandai itu karena merasa gagap mengoperasikan Electric Data Center (EDC) untuk transaksi perbankan.

Selain itu, kesibukannya sebagai klian subak juga menjadi pertimbangan. "Alasan lain ya karena keterbatasan modal," ungkap Dewa Kaler ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) Sabtu, 13 April 2024.

Meskipun demikian, petugas dari BRI Unit Tembuku secara berulang kali mencoba meyakinkan Dewa Kaler karena belum ada Agen BRILink di Bangbang dan melihat potensi besar pada Dewa Kaler yang telah mengelola konter pulsa di Jalan Raya Tembuku-Rendang, Kabupaten Karangasem.

“Setelah saya pikir-pikir, akhirnya mau mencoba sambil jaga konter pulsa. Itu tahun 2017,” kata Dewa Kaler.

Keterbatasan modal diatasi dengan memanfaatkan pinjaman KUR BRI sebesar Rp50 juta.

Sekitar seminggu setelah resmi menjadi agen, ia harus didampingi oleh anaknya dalam mengoperasikan mesin EDC. Anaknya lebih cepat memahami buku panduan yang diberikan BRI.

Dewa Kaler juga selalu berkomunikasi dengan petugas bagian BRILink Kantor BRI Cabang Bangli. Sedikit saja bingung dengan buku panduannya, ia langsung menghubungi petugas bagian BRILink.

“Karena saya takut salah. Takut salah transfer, salah pencet-pencet mesin EDC,” kenangnya.

Tidak jarang Dewa Kaler keluar keringat dingin saat melayani transaksi. Ia merasa grogi berhadapan dengan nasabah.

“Itu saat awal jadi agen. Saya mohon maaf kepada nasabah, waktu transaksi agak lebih lama,” ungkapnya, lalu terkekeh.

Pelan namun pasti, jumlah transaksi perbankan terus meningkat. Bahkan pada awal menjadi agen, ia sering harus menolak nasabah karena keterbatasan modal.

Dari situ, pensiunan PNS Pemprov Bali ini yakin bahwa BRILink adalah bisnis menjanjikan. BRILink dapat menjadi pekerjaan sampingan yang menguntungkan.

Pada tahun 2019, Dewa Kaler yang kini sudah cekatan mengoperasikan mesin EDC, memutuskan untuk kembali mengajukan pinjaman KUR BRI.

Kali ini jumlahnya lebih besar, yaitu Rp100 juta. Semuanya digunakan sebagai modal untuk BRILink. “Sekarang mau narik uang Rp50 juta bisa. Kalau sebelumnya maksimal Rp30 juta,” jelas Agen BRILink berusia 72 tahun ini.

Dalam sebulan, ia melayani rata-rata 700 transaksi dengan perputaran uang mencapai Rp1,8 miliar.

Dari ratusan transaksi tersebut, Dewa Kaler berhasil memperoleh penghasilan mencapai Rp4 juta per bulan.

"Hasil ini cukup untuk membayar cicilan KUR, bahkan masih ada sisa," katanya sambil tersenyum.

Ia juga menjelaskan bahwa jenis transaksi yang dilayani di tempatnya hampir sama dengan BRILink di tempat lain, seperti penarikan tunai, pembayaran tagihan listrik, air, pembayaran cicilan, dan transaksi lainnya.

Ketika disinggung soal tingginya jumlah transaksi di agennya, Dewa Kaler menilai bahwa masyarakat lebih nyaman mendapat layanan perbankan  di sana dan akses yang lebih dekat.

"Di sini, tidak perlu antre, bahkan bisa menarik uang hingga Rp50 juta tanpa harus menunggu berhari-hari," tegasnya, meyakinkan.

Ia juga fleksibel dalam melayani nasabah. Dewa Kaler sering membantu orang-orang, seperti melakukan transfer uang yang dibayar belakangan.

"Terkadang ada yang membayar dengan cara dicicil, tapi itu hanya untuk mereka yang sudah saya kenal," jelasnya.

Asih Widnyana adalah salah satu nasabah BRI yang sering menggunakan layanan dari Agen BRILink milik Dewa Kaler.

Hampir setiap kali melakukan transfer uang, tarik tunai maupun menabung, pria asal Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem ini memilih untuk menggunakan layanan BRILink karena lebih praktis dibandingkan dengan ATM atau ke bank.

"Ketika ingin transfer melalui BRILink, tidak perlu memasukkan PIN, hanya tinggal memberikan nomor rekening saja," ujar pemuda berusia 20 tahun ini ketika ditemui sedang melakukan transaksi berupa menabung.

Selain itu, ia tidak sulit menemukan BRILink, berbeda dengan ATM. Sebagai penduduk desa, ia mengaku kesulitan menemukan ATM yang berdekatan dengan tempat tinggalnya.

Putu Gunastra juga berbagi pengalaman serupa. Dia merasa lebih nyaman melakukan transaksi perbankan melalui BRILink karena merasa lebih aman.

Setiap transaksi selalu mendapatkan struk sebagai bukti transaksi sukses.

“Menemukan BRILink itu lebih mudah ketimbang ATM. Jadi, begitu perlu tinggal cari BRILink bisa transaksi sesama bank dan antarbank,” katanya.

Berdasarkan data hingga akhir tahun 2023, sudah terdapat lebih dari 741 ribu Agen BRILink di seluruh Indonesia dengan total fee-based income (FBI) mencapai Rp1,5 triliun.

Kemudian dari sisi jumlah transaksi per Desember 2023 mencapai 1,1 miliar transaksi dengan nominal mencapai Rp1.427 triliun.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengatakan jumlah tersebut menunjukkan bahwa Agen BRILink memiliki peranan yang sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian serta kehidupan masyarakat.

BRILink dapat melayani kebutuhan harian masyarakat di antaranya seperti pembayaran tagihan listrik, air, iuran BPJS, telepon, pembelian pulsa, pembayaran cicilan, top-up BRIZZI, setoran pinjaman, tarik tunai, memberikan layanan referral pembukaan rekening tabungan BSA maupun pinjaman dan transaksi lainnya.

“Melalui kehadiran Agen BRILink, masyarakat tidak perlu lagi ke bank untuk bertransaksi, namun dapat ke Agen BRILink yang lokasi lebih dekat,” ungkapnya. (*)

 

Editor : Nyoman Suarna
#bali #bangli #BRILink #BRI