BALIEXPRESS.ID – Bisnis bandeng di kawasan Buleleng Barat kini tengah terkulai. Harga jual nener atau anakan bandeng terjun bebas. Bahkan harganya hanya Rp 2 hingga Rp 4.
Harga tersebut adalah harga terendah yang menimpa pengusaha bandeng selama bertahun-tahun. Harga ini pun baru pertama kali terjadi. Penyebabnya juga tidak dapat diprediksi.
Owner CV Putra Bahari Desa Patas, Hengky P. Raharjo mengklaim harga nener anjlok kurang lebih dua bulan terakhir. Biaya operasional yang tinggi juga semakin menyebabkan kondisi memburuk.
Pengusaha nener mengalami hal ini sejak bulan Mei 2024. Di samping itu, kondisi pasar juga lesu. Nener yang telah dipersiapkan masuk pasar tidak terserap secara optimal.
Baca Juga: Program Indonesia Pintar Tingkatkan Kualitas Pendidikan Anak Papua
Meski sempat ada kenaikan harga, namun hal tersebut juga tidak membantu. Kenaikan harga pun tidak bertahan lama, hanya dalam hitungan hari. Kondisi ini pun menempatkan nener produksi Buleleng berada di titik terendah.
“Tidak sampai Rp 10. Ini sudah berbulan-bulan. Tapi tetap kami upayakan untuk dijual walau harus tertatih-tatih dengan harga ini,” ungkapnya, Selasa (30/7).
Baca Juga: Penyelenggara Siap Menangani Sengketa Pilkada 2024 dengan Transparansi dan Akuntabilitas
Situasi ini pun membuat pengusaha tambak nener harus putar otak. Untungnya, saat ini ada metode Keramba Tancap Laut yang baru-baru ini dikembangkan bersama Kodim 1609/Buleleng.
Keramba Tancap Laut dan Keramba Jaring Apung dapat dijadikan salah satu alternatif untuk menampung nener yang tidak terserap pasar. Baik pasar lokal maupun pasar ekspor.
Baca Juga: Propam Gianyar Gelar Razia Mendadak; Cegah Anggota Terlibat Judi Online
“Kami lakukan pembesaran dulu sampai siap lepas ke laut. Kami masih upayakan untuk membeli nener dari petani yang sudah lama bekerjasama dengan kami,” kata dia.
Namun, keberhasilan metode ini sangat tergantung pada pengelolaan yang baik dan terencana. Jika tidak dikelola dengan optimal, Buleleng berisiko kehilangan statusnya sebagai pusat pembibitan bandeng terbesar, yang akan menjadi sejarah semata.
Oleh karena itu, langkah konkret diperlukan untuk memperbaiki kondisi ini. Semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, nelayan, hingga masyarakat umum, diharapkan turun tangan dan berkontribusi dalam upaya memperbaiki mutu dan kualitas nener yang diproduksi di Buleleng.
“Jangan sampai tinggal kenangan,” ujarnya singkat. (dhi)
Editor : Wiwin Meliana