BALIEXPRESS.ID - Penutupan mendadak Hotel Spa Village Resort di Desa Tembok, Buleleng, Bali, sejak 1 Oktober lalu, menimbulkan banyak spekulasi dan pertanyaan.
Keputusan direksi untuk menghentikan operasional hotel bintang empat dengan tingkat hunian yang cukup tinggi ini mengejutkan banyak pihak.
Meski mencatat okupansi hingga 60% sepanjang tahun dan memiliki banyak pelanggan setia, hotel tersebut tiba-tiba menutup pintunya.
Menurut informasi yang dihimpun RadarBuleleng.id, hotel yang populer di kalangan wisatawan ini dikelola oleh perusahaan asal Malaysia.
Perusahaan ini tidak hanya bergerak di bidang perhotelan, tetapi juga berinvestasi di properti dan konstruksi.
Namun, alasan penutupan yang dilakukan secara mendadak tetap menjadi misteri, memicu berbagai dugaan.
Ketua Serikat Pekerja Pariwisata Spa Village Resort, Jro Mangku Gede Pasek, mengungkapkan bahwa pengelolaan hotel selama ini berjalan baik tanpa keluhan dari wisatawan.
Hotel ini bahkan memperoleh rating 4,6 di Google Reviews, dengan banyak pengunjung memberikan rating bintang lima.
"Lingkungan kerja nyaman, manajemen dan karyawan juga harmonis," ujar Pasek.
Ia mengaku terkejut ketika pada 30 September 2024, seluruh karyawan diinstruksikan memindahkan tamu yang menginap, meski ada 11 kamar terisi dan sudah ada reservasi untuk bulan Oktober.
Penutupan ini bukan hanya mengejutkan karyawan, tetapi juga warga Desa Tembok yang selama ini bergantung pada hotel tersebut.
Dari 61 karyawan hotel, 40 orang adalah penduduk desa, dan dampak ekonomi penutupan ini sangat dirasakan masyarakat.
"Ini berdampak besar, apalagi sebagian besar karyawan adalah warga Tembok," jelas Perbekel Tembok, Dewa Ketut Willy Asmawan.
Ia mengungkapkan bahwa hotel tetap ramai bahkan pada musim sepi, dan sempat menerima 400 reservasi untuk bulan Oktober.
Namun, isu tak sedap mulai muncul. Konon, ada dugaan manipulasi harga kamar yang dijual di aplikasi berbeda dengan yang tercatat di pembukuan hotel.
Kabar ini mengarah pada dugaan penghindaran pajak senilai Rp10 miliar sejak 2018.
Setelah penutupan, pihak direksi yang diduga berada di Malaysia mendadak hilang tanpa meninggalkan jejak, memutus kontak dengan karyawan dan pihak manajemen.
Hingga kini, upaya mediasi dari Dinas Tenaga Kerja Buleleng belum membuahkan hasil yang jelas.
Status karyawan belum ditetapkan—apakah ini pemutusan hubungan kerja (PHK) atau hanya penutupan sementara.
Sementara itu, publik terus bertanya-tanya tentang penyebab sebenarnya di balik penutupan hotel yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Desa Tembok. ***
Editor : I Putu Suyatra