Salah satu pendamping PLUT UMKM Buleleng yang cukup aktif turun ke lapangan adalah Ni Luh Putu Eka Pradnyawati, S.E, M.M. Wanita kelahiran Negara, 8 Juli 1991 ini terus melakukan pemberdayaan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Buleleng.
Sejak tahun 2023, ia aktif sebagai pendamping UMKM di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) KUMKM Kabupaten Buleleng, memfokuskan diri pada penguatan kapasitas manajerial, akses pembiayaan, dan transformasi digital para pelaku usaha lokal.
Latar belakang akademiknya di bidang Ilmu Manajemen, baik di jenjang S1 maupun S2 di Universitas Pendidikan Ganesha, memberi landasan kuat dalam menjalankan peran sebagai fasilitator sekaligus konsultan UMKM.
Dengan kombinasi ilmu dan pengalaman lapangan, Eka menghadirkan pendekatan pendampingan yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan kontekstual.
Sebelum terjun ke dunia pendampingan UMKM, Eka sempat meniti karier di sektor perbankan. Pengalamannya sebagai teller di beberapa bank nasional seperti Bank BCA, Bank OCBC NISP, dan Bank Mandiri, memperkaya wawasannya mengenai sistem keuangan formal dan strategi literasi keuangan, yang kini menjadi modal penting dalam mendampingi pelaku usaha mengakses pembiayaan permodalan.
Sejak bergabung di PLUT Buleleng, Eka telah mendampingi ratusan pelaku UMKM dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, kriya, hingga produk olahan berbasis sumber daya lokal.
Eka tak hanya mendampingi dalam penyusunan rencana usaha, tetapi juga dalam proses legalisasi usaha, pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga penyiapan laporan keuangan sederhana.
Tak hanya itu, Eka juga dikenal aktif sebagai fasilitator nasional program UMKM Level UP yang digagas oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Di sini, ia menjadi garda terdepan dalam mendorong pelaku UMKM memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar, melalui pelatihan pemasaran digital, optimalisasi media sosial, dan pemanfaatan e-commerce.
Sebagai wujud peningkatan kapasitas profesional, Eka telah mengikuti berbagai pelatihan bersertifikasi nasional. Ia tercatat mengikuti pelatihan Manajemen Risiko berbasis SNI ISO 31000, serta sistem manajemen mutu SNI ISO 9001:2015.
Eka juga telah tersertifikasi sebagai pendamping UMKM oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sebuah pengakuan terhadap kompetensinya di bidang ini.
Salah satu keunggulan Eka sebagai pendamping UMKM terletak pada kemampuannya menjembatani kebutuhan pelaku usaha dengan berbagai pemangku kepentingan. Ia kerap menjadi penghubung antara UMKM dengan lembaga keuangan, dinas teknis, maupun program-program pemerintah pusat.
Hal ini membuat banyak pelaku usaha merasa terbantu secara nyata, bukan hanya dari sisi pelatihan, tetapi juga akses terhadap ekosistem pendukung.
Selain berkiprah sebagai pendamping UMKM, Eka juga aktif sebagai dosen tidak tetap di Program Studi Manajemen Ekonomi STAHN Mpu Kuturan Singaraja. Di kampus ini, ia berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa, terutama terkait praktik kewirausahaan, pemasaran, dan pengelolaan keuangan usaha mikro.
Keterlibatannya dalam pelatihan dan transformasi digital UMKM pun menjadikannya sebagai figur penting dalam mendorong Buleleng sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas di Bali Utara. Ia percaya bahwa kemajuan daerah harus dimulai dari penguatan unit-unit usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.
“Pendampingan bukan sekadar mengajari, tetapi menyertai. Kita harus berada di tengah mereka, memahami kebutuhan riilnya, dan membantu mencari solusi,” ujar Eka.
Eka menambahkan, membina UMKM melalui PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) menghadirkan tantangan yang cukup kompleks. Selain itu, masih banyak pelaku UMKM yang belum menggunakan sistem Point of Sale (POS) dalam proses penjualan, yang mengakibatkan kesulitan dalam melacak transaksi dan mengelola stok barang secara efisien.
“Banyak juga pelaku usaha yang belum memiliki sistem laporan keuangan yang memadai, yang penting untuk pengelolaan usaha dan keperluan akses ke pendanaan,” imbuhnya.
Tantangan lainnya adalah keterbatasan modal yang sering kali dihadapi oleh UMKM di Buleleng. Walaupun PLUT berperan sebagai jembatan antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha, masih terdapat hambatan dalam proses akses pembiayaan.
Banyak UMKM yang belum memiliki laporan keuangan yang memadai atau sistem manajerial yang cukup untuk memenuhi persyaratan lembaga keuangan, yang menghambat mereka dalam mendapatkan pinjaman atau pendanaan untuk mengembangkan usaha.
“Selain itu, banyak pelaku UMKM yang belum memahami pentingnya perijinan usaha dan sering kali kesulitan dalam melengkapi dokumen-dokumen perijinan yang diperlukan untuk beroperasi secara sah,” paparnya.
Hal ini tidak hanya menghambat perkembangan usaha mereka, tetapi juga menambah beban administratif yang sulit dihadapi, terutama bagi UMKM yang memiliki sumber daya terbatas.
“Oleh karena itu, selain menyediakan pembinaan dalam aspek pemasaran dan teknologi, PLUT Buleleng juga perlu lebih fokus pada pendampingan terkait perijinan dan pengelolaan keuangan, agar UMKM dapat beroperasi dengan lancar dan memanfaatkan berbagai peluang yang ada untuk berkembang,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika