Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Obat Herbal dalam Usada Rare: Rujukan Pengobatan Bayi secara Tradisional

I Putu Mardika • Minggu, 9 November 2025 | 22:18 WIB

Delima Putih memiliki banyak manfaat untuk usada rare (pengobatan bayi) secara tradisional
Delima Putih memiliki banyak manfaat untuk usada rare (pengobatan bayi) secara tradisional
BALIEXPRESS.ID-Pengobatan bayi secara tradisional banyak diulas dalam naskah lontar. Salah satunya naskah Usada Rare. Di dalam Lontar ini dikupas berbagai penyakit yang kerap dialami bayi termasuk cara mengobatinya.

Penekun Usada Bali, Gede Sutana mengatakan beberapa penyakit yang dialami rare atau anak – anak semasih kecil dengan menggunakan beberapa teknik pengobatan herbal atau tradisional. Teknik ini memang sudah digunakan di Bali sejak jaman dahulu lewat Lontar Usada Rare.

“Jenis penyakit yang pada umumnya diderita oleh anak-anak seperti batuk, tidak bisa tidur, pusing, diare, muntah, perut kembung, kencingnya seret, hal itu dijelaskan dengan sarana obat,” jelasnya.

Sebut saja untuk penanganan jika bayi mengalami batuk. Sutana menyebut Tamba atau obat batuk pada bayi dengan sarana kencur, temu tis, kemiri, bawang merah bagian yang paling dalam yang sering disebut hatinya bawang, beras yang sudah direndam lama sehingga mudah remuk.

“Semua sarana tersebut dikunyah dan disemburkan pada dada si anak, maka akan segera sembuh,” sebutnya.

Selain itu ada juga jenis obat yang lain untuk menyembuhkan batuk biasa yaitu sarana daun Tulasi, rumput lepas, temulawak, ketumbar dan semua itu dikunyah untuk disemburkan pada dada si anak yang sakit.

Baca Juga: Bali Memasuki Musim Hujan, BMKG Imbau Waspada Potensi Bencana

Dalam naskah Usada Rare disebutkan: Ta rare watuk giningan. Sa rwaning blimbing wesi , trikatuka, sembar tangkah nya. Jika diterjemahkan Tamba atau Obat untuk anak-anak yang batuk gatal dengan sarana daun pohon belimbing besi, tiga ramuan bumbu atau rempah-rempah (bawang merah, bawang putih, dan jangu) semburlah dadanya dengan adonan itu.

Obat untuk anak-anak yang sakit batuk kering, dengan sarana rumput sembarang, temulawak, adas, putih telur yang baru, minyak goreng asli bukan pabrik sedikit, semua diaduk jadi satu dan diminumnya.

Sedangkan jaman dahulu saat pengobatan medis belum begitu popular, saat anak menangis semalaman, di dalam lontar Usada Rare diharapkan mengucapkan mantra: Iki Ong Si Barbang Biar, Ong ah siah.

Jika bayi mengalami diare, maka sarana Obat yang digunakan adalah buah delima putih, beras merah, semua itu diaduk diruap pada perutnya, kalau badannya panas dengan sarana daun bawang merah, minyak adas diusap didadanya. Obat anak diare dengan sarana, daun miana cemeng, garam, bubuk kapur sirih diruap pada perutnya.

“Obat untuk anak yang diare dengan sarana berupa daun blimbing besi, bagian paling dalam dari bawang merah, dihaluskan dan diminum. Dioleh pada perutnya dengan buah gamongan dan musi yang dihaluskan,” ungkapnya.

Apabila anak mengalami perut kembung, maka dapat diobati dengan menggunakan sarana berupa rumput dan garam hitam diaduk dan diminum. Obat untuk anak yang perut kembung dengan sarana bambu yang muda, pucuk daun jarak, minuman arak, semua diulek dan diraup pada perut disertai daun kayu manis (daun katuk).

Baca Juga: Havaianas Ajak Masyarakat Berpesta Melalui Summer Sound Bali

Lalu bagaimana jika bayi mengalami kencing yang seret? Dikatakan Sutana, Obat untuk anak yang kencingnya sedikit atau seret serta perutnya kembung bisa menggunakan sarana berupa daun buah ketimun gantung, buah jambe yang muda, diaduk dibungkus dengan daun seperti pepes dan dibakar setelah matang diperas diisi minyak kelapa asli beberapa tetes dan diminum.

Obat untuk anak yang badannya kaku dengan sarana berupa minyak bawang merah, kencur, air cuka, minyak kelapa asli diraup ke bagian tubuh yang kaku. “Obat untuk anak yang muntah dengan sarana berupa daun salam, kunir, ketumbar dihaluskan dan diraup pada perutnya,” paparnya.

Tak hanya obat yang digunakan untuk dioles maupun diminum, di dalam Lontar Usada Rare juga disebutkan upaya dalam menjaga bayi dari pengaruh niskala serta gangguan energy negatif. Salah satunya dengan sarananya adalah masui.

Dikatakan Gede Sutana, Masui digunakan dengan cara dirajah, dikunyah, lalu disemburkan pada ubun-ubun bayi. Mantram yang diucapkan adalah: Ong idep aku Sanghyang Guru Reka, ang Hyang Dasa Bayu Premana, anguripaken bayu kasasar, bayu karogan, bayu kadesti. Teka urip, Ang Ung Mang, waras, teka waras, teka waras, teka waras.

Penjaga atau sesuruk bayi, dengan sarana berupa selembar kecil perak diikat dengan benang tridatu (merah, putih, hitam) uang kepeng satak selawe (225), canang tubungan, sasari / uang perak 11 buah, jika diuangkan Rp. 1.100.

Mantram diucapkan Ong rare dipada swaha ya, Ong sang Hyang Bayu, Sang Hyang Samaun, Ong sang Hyang Galih, Sang Hyang daging, ong otot Sang Hyang Banyu ring raga, Ong Sang Hyang Amanca Warna, I sang Peluh rare tane purna, Ong sang Lara.

Baca Juga: BRI Hadirkan Ratusan Pengusaha UMKM Binaan dalam Festival Kemudahan dan Pelindungan Usaha Mikro

Penjaga bayi, dengan sarana kalung perak, dengan mantram Ong Durga Detya sura ya namah swaha Ung wong apretta ya namah Ong semung yung sah pat nama swaha

Sedangkan untuk mencegah masuknya penyakit ke dalam tubuh dengan sarana berupa daun beringin 7 lembar, ketumbar 7 butir. Mantramnya: Ong Brahma ngelaranin, teka waras. Mantram tersebut diucapkan sebanyak dua kali.

Untuk Penyakit yang telah lama diderita disembuhkan dengan sarana berupa tembaga serta daun lontar. Ada rerajahannya sesuai dengan keyakinan masing-masing. Pemakaiannya disimpan pada ikat pinggang yang selalu dipakai.

Mantranya: Ong ta kita bhuta pisaca sang pulung dengen sanak sahana wus momo denta anganti kulit daging, dalem atine wong angering, apan aku weruh ring katatuanmu ko yogan batara lawan paduka bhatara do tang ko mulih maring Kahyanganmu, waras.

Jika sang bayi diganggu desti atau setan dengan ciri-ciri setiap malam mengigau, serta berteriak-teriak ketakutan, badan gemetar. Sarananya banten atau sesajen berupa tumpeng merah 2 buah, ayam merah dipanggang, tuak dan berem minumannya desti.

“Mantranya Suetambara hredana dewi, sweta palianu lepana, Sueta posia priadewi, priatame Saraswati, raktam Bara hreddan dewi, pita palianu lepana, pita posia Priadewi, priatame Saraswati, kresnam – barah Hreddan dewi, kresna palianu lepana, kresna posia Priadewi, priatame Saraswati,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#lontar #pengobatan #usada bali #bayi #Rare #usada