Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Modal dari BJB Dongkrak Skala Usaha “Masehi”: Omzet Naik Dua Kali Lipat, Distribusi Makin Luas

Rika Riyanti • Selasa, 18 November 2025 | 14:44 WIB

I Made Dwipa Adnyana pemilik Toko Dupa Masehi
I Made Dwipa Adnyana pemilik Toko Dupa Masehi

BALIEXPRESS.ID - Pertemuan antara I Made Dwipa Adnyana dan Bank BJB bermula tanpa rencana. Ia mengenal seorang marketing bernama Ogi saat masih bekerja sebagai banker dan sering turun ke lapangan. “Awalnya kan belum sih bicara pinjaman modal... lama-kelamaan karena saya ingin mengembangkan usaha terkait banyaknya order di vila dan hotel,” tutur Dwipa.

 Baca Juga: Dari Pensiunan Banker Hingga Reseller 15 Pengrajin: Strategi Bisnis Dupa Masehi di Pasar yang Semakin Spesifik

Pada 2022, ia mengambil pinjaman pertama. Kredit Usaha Rakyat (KUR) adalah program yang menjadi pilihannya. KUR ini, merupakan fasilitas pinjaman dari Bank BJB untuk para pelaku usaha. Tidak hanya bagi perorangan, melainkan juga untuk badan usaha hingga kelompok usaha, dari skala mikro, kecil, sampai menengah. Syaratnya pun mudah, dengan keunggulan bunga ringan dan tanpa biaya provisi yang ditawarkan.

 

Meski enggan menyebutkan spesifik nominalnya, diakuinya pemodalan yang diberikan BJB itu memiliki jangka waktu 5 tahun. Disamping itu, proses pencairan dananya pun terbilang cepat. Asalkan, calon debitur tidak sedang menerima kredit lain atau subsidi bunga dari program kredit lain, kecuali yang diperbolehkan seperti KUR bank bjb, KPR, kredit/leasing motor untuk keperluan usaha, kredit dengan jaminan SK Pensiun, kartu kredit, dan lain-lain. Karenanya, Dwipa mengaku untuk kasusnya, memakan waktu tiga hari. “Proses cepat... 3 hari itu sudah cair. Kenapa 3 hari, karena saya ada perpindahan kredit—take over,” jelasnya.

 Baca Juga: Toko di Seraya Karangasem Dibobol, Pencuri Diduga Masuk Lewat Atap Kamar Mandi

Modal itu langsung berdampak. Salah satunya untuk memenuhi kebutuhan hotel yang memerlukan sistem bon. “Di vila, hotel itu besar permintaannya... dan disana sistemnya bon dulu kan,” katanya.

 

Dwipa menyebut pelayanan menjadi alasan utamanya percaya pada BJB. “Saya lebih percaya dengan BJB karena pelayanannya bagus... dia bisa memberikan solusi... akhirnya bisa pencairan,” ujarnya.

 

Selain itu, BJB membantunya melakukan take over dari LPD yang bunganya lebih tinggi. “Di LPD bunganya 1,5... di BJB 0,6–0,7,” ungkapnya.

 

Marketing BJB juga rutin melakukan pemantauan. “Setiap bulan tetap mereka maintain... kadang-kadang mampir ke sini ngobrol,” ucapnya.

 Baca Juga: Dari Garase 2,5 x 4 Meter ke Jaringan Hotel: Perjalanan Belasan Tahun Made Dwipa Menjadi Pemasok Dupa

Dari sisi usaha, dampak pinjaman sangat jelas. Omzet bulanan yang semula sekitar Rp 200 juta, naik menjadi Rp 500 juga. “Sebelum ada BJB omset 200... setelah ada BJB bisa sampai 500,” ujarnya.

 

Pengiriman ke luar daerah membesar. “Ke Lampung... per bulannya 100 kilo lebih,” kata Dwipa.

 

Menariknya, sebagai mantan banker, Dwipa merasakan “dilayani” di posisi yang dulu pernah ia tempati. “Saya ini butuh sekali marketing yang memberikan pelayanan yang baik, mau mendekatkan diri,” tuturnya, seperti bercermin pada masa lalunya sebagai brand manager yang terbiasa maintain nasabah.

 Baca Juga: Venetian Dreams, Grand Masquerade Karma Kandara di Atas Tebing

Kini modal itu tidak hanya memperkuat stok, tetapi juga menambah rasa percaya diri. “Untuk melakukan penjualan, ekspansi keluar juga lebih percaya diri... karena kita modal kan sudah ada,” ujarnya.

 

Bagi UMKM kecil seperti Toko Dupa Masehi, akses modal bukan sekadar angka. Itu adalah ruang tumbuh—yang membuat Dwipa sanggup menjawab permintaan hotel, menangani pelanggan yoga asing yang fanatik aroma tertentu, dan memperluas jangkauan hingga Sumatera.(ika)

Editor : Wiwin Meliana
#bank bjb #dupa #reseller