Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Reformasi Tata Kelola Bursa Efek Jadi Kunci Perkuat Kemandirian Ekonomi Indonesia

I Putu Suyatra • Selasa, 17 Februari 2026 | 08:28 WIB

BEI
BEI

BALIEXPRESS.ID – Pemerintah terus menggenjot reformasi tata kelola pasar modal melalui pembenahan di Bursa Efek Indonesia sebagai langkah strategis untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional dan menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika ekonomi global.

Di tengah fluktuasi pasar yang terjadi belakangan ini, penguatan transparansi, kepastian regulasi, dan integritas pasar dinilai krusial agar pasar modal Indonesia semakin tangguh serta mampu menopang kemandirian ekonomi jangka panjang.

Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Edy Prasetyono, menegaskan bahwa peningkatan tata kelola dan transparansi merupakan kebutuhan mendasar, terlepas dari ada atau tidaknya guncangan di pasar.

“Ada atau tidak guncangan di bursa, perbaikan tetap harus dilakukan. Bukan hanya untuk memenuhi standar global, tetapi agar perekonomian nasional benar-benar kuat,” ujar Edy.

Edy juga menyoroti penilaian lembaga internasional terhadap pasar keuangan yang kerap sarat kepentingan. Menurutnya, penurunan peringkat oleh lembaga seperti MSCI dan Moody’s perlu disikapi secara kritis.

“Standar siapa dan untuk kepentingan siapa? Tidak ada yang bebas nilai dan bebas kepentingan,” tegasnya.

Meski demikian, Edy menekankan bahwa pembenahan internal pasar modal tetap menjadi prioritas utama untuk meningkatkan daya tahan ekonomi Indonesia di tengah dominasi struktur ekonomi global oleh aktor besar.

Senada, peneliti LPEM FEB UI, Mervin Goklas Hamonangan, menilai kuatnya hegemoni aset keuangan global membuat negara berkembang, termasuk Indonesia, rentan terdampak kebijakan negara maju.

Ia mencontohkan peristiwa taper tantrum 2013 yang menekan nilai tukar rupiah dan kinerja IHSG, sekaligus memicu kenaikan suku bunga yang membebani dunia usaha.

“Ketika terjadi gejolak geopolitik atau perubahan kebijakan moneter negara maju, arus modal global cenderung bergerak ke instrumen aman. Negara berkembang menjadi paling terdampak,” jelas Mervin.

Dalam konteks tersebut, Mervin menegaskan bahwa reformasi tata kelola pasar modal harus berjalan seiring dengan penguatan fundamental ekonomi nasional, agar Indonesia tidak terus bergantung pada arus modal spekulatif dan mampu membangun kemandirian ekonomi yang berkelanjutan.

Editor : I Putu Suyatra
#Bursa Efek Indonesia