BALIEXPRESS.ID – Fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat dan menjadi penopang utama stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan pasar global dalam beberapa pekan terakhir. Pemerintah optimistis kondisi ekonomi nasional masih solid dan berbeda jauh dibandingkan situasi krisis moneter 1998.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap tekanan terhadap rupiah karena ekonomi Indonesia memiliki fondasi yang kuat. Kepala Negara mengajak seluruh masyarakat untuk tetap optimistis menghadapi dinamika ekonomi global.
“Percaya ekonomi kita kuat, fundamental kita kuat. Indonesia kuat. Percaya kepada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita. Semua pemimpin harus bekerja untuk rakyat,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden juga menekankan pentingnya membangun mental bangsa yang tangguh dalam menghadapi tantangan ekonomi dunia. Menurutnya, Indonesia tidak boleh memandang diri sebagai bangsa yang lemah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berkembang.
Penguatan fundamental ekonomi Indonesia dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas rupiah, pertumbuhan ekonomi nasional, serta kepercayaan investor terhadap pasar domestik.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan kondisi ekonomi saat ini berbeda dengan krisis moneter 1998. Ia menilai tekanan terhadap nilai tukar rupiah saat ini masih berada dalam batas wajar dan tidak mencerminkan kondisi krisis ekonomi.
“Kalau rupiah melemah, seolah-olah kita akan bergerak seperti 1998 lagi. Kondisinya berbeda,” kata Purbaya.
Menurutnya, pada 1998 Indonesia mengalami resesi panjang yang disertai ketidakstabilan sosial dan politik. Sementara saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terjaga sehingga pemerintah memiliki ruang untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperbaiki indikator makroekonomi yang terdampak tekanan pasar global.
Pemerintah juga mulai meningkatkan intervensi di pasar obligasi melalui Himpunan Bank Milik Negara atau Himbara guna menjaga stabilitas pasar surat utang dan mengurangi tekanan dari investor asing.
“Mulai hari ini akan kita masuk dengan lebih signifikan lagi sehingga pasar obligasinya terkendali,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah mengimbau investor domestik agar tidak panik menghadapi koreksi pasar saham jangka pendek. Pemerintah terus memantau perkembangan pasar keuangan dan menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui koordinasi lintas lembaga.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan memastikan kondisi sektor perbankan nasional tetap kuat di tengah tekanan ekonomi global. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae mengatakan bahwa permodalan perbankan nasional masih memadai untuk menghadapi berbagai risiko ekonomi.
“Hasil stress test OJK maupun perbankan menunjukkan bahwa tingkat permodalan perbankan saat ini masih memadai untuk menghadapi risiko yang disebabkan oleh perubahan signifikan dalam kondisi makroekonomi Indonesia,” kata Dian.
Menurut OJK, koordinasi antara pemerintah, Bank Indonesia, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan terus diperkuat guna menjaga stabilitas sektor keuangan nasional di tengah dinamika pasar global.
Dengan fundamental ekonomi yang dinilai solid, pemerintah optimistis stabilitas rupiah dan sistem keuangan nasional tetap terjaga. Kepercayaan pasar, stabilitas perbankan, serta koordinasi kebijakan ekonomi menjadi faktor utama dalam menghadapi tantangan ekonomi global saat ini.
Editor : I Putu Suyatra