Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Suwastika Pertahankan Tradisi Membuat Tedung, BRImo Permudah Transaksi Usaha

IGA Kusuma Yoni • Jumat, 19 Juni 2026 | 18:54 WIB
usaha pembuatan Tedung di Puri Satria Kanginan terapkan system pembayaran modern
usaha pembuatan Tedung di Puri Satria Kanginan terapkan system pembayaran modern

BALIEXPRESS.ID- Usaha pembuatan tedung upacara di kawasan Puri Satria Kanginan,  Paksebali, Klungkung tetap bertahan.

Meski sulitnya mendapatkan bahan baku dan tenaga kerja, namun nyatanya usaha ini tetap mampu bertahan.

Salah satu perajin tedung, Anak Agung Gede Anom Suwastika, mengaku usaha yang kini ditekuninya merupakan warisan keluarga yang sudah dijalani sejak kecil.

Pria berusia 56 tahun itu sebelumnya bekerja di sektor perhotelan. Setelah pensiun sekitar empat tahun lalu, ia kembali melanjutkan usaha tedung milik ibunya.

“Dari kecil memang sudah lihat ibu membuat tedung, jadi dasar-dasarnya saya sudah dapat dan memang dari keluarga,” jelasnya.

Di rumah produksinya di lingkungan Puri, proses pengerjaan tedung kini lebih banyak berfokus pada tahap menjahit dan merangkai, sementara sebagian bahan dan rangka sudah disiapkan oleh pekerja lain.

Dalam sehari, dirinya mampu memproduksi sekitar 20 tedung ukuran satu meter, saat permintaan meningkat menjelang Hari Raya Galungan, jumlah produksi bisa melonjak hingga 40 sampai 50 tedung per hari.

Baca Juga: Mayat Misterius Tersangkut Bebatuan Sungai Ayung, Identitas Korban Masih Jadi Teka-teki

“Kalau mendekati Galungan biasanya kewalahan karena permintaan naik terus. Kadang terkendala bahan baku,” katanya.

Tedung yang diproduksi memiliki beberapa ukuran, mulai dari 90 sentimeter, satu meter, hingga satu seperempat meter.

Harga jualnya bervariasi, mulai Rp 65 ribu untuk ukuran 90 sentimeter halus, Rp85 ribu ukuran satu meter, hingga Rp125 ribu ukuran satu seperempat meter.

Usaha tedung di kawasan Puri Satria Kanginan sendiri dilakoni cukup banyak warga, tercatat sekitar 20 pelaku usaha tergabung dalam Klaster Tedung Paksebali.

Selain tedung, sebagian warga juga memproduksi prada dan ider-ider kebutuhan upacara adat Bali.

Untuk memperkuat permodalan usaha, Suwastika memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI sebesar Rp100 juta.

Dana tersebut dipakai untuk menambah stok bahan baku agar produksi tetap berjalan saat permintaan meningkat.

“Bantuan KUR sangat membantu untuk modal beli bahan dulu sebelum diputar kembali,” katanya.

Baca Juga: Wayan Sukarma, Pria Sayan Rubah Halaman Belakang Rumah Menjadi Destinasi Favorit 

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan BRI terus mendorong tradisi ekonomi masyarakat seperti usaha pembuatan tedung agar tetap berkembang di Bali.

“Melihat potensi permintaan yang selalu ada, terutama di Bali, aktivitas ekonomi seperti ini harus terus didorong karena mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Hery menambahkan, kehadiran layanan digital seperti BRImo juga membantu pelaku usaha dalam melakukan transaksi pembayaran, pembelian bahan baku, hingga pencatatan keuangan usaha.

Menurutnya, penggunaan mobile banking menjadi kebutuhan penting di tengah perkembangan digitalisasi karena sebagian besar pelanggan kini sudah menggunakan transaksi non tunai.

“Dengan catatan transaksi yang lebih rapi, pelaku usaha nantinya juga lebih mudah mengakses kredit perbankan,” katanya. (gek)

Editor : I Putu Mardika
#bbri #Kur #umkm #BRImo #BRI