Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pemerintah Pastikan Utang Indonesia Masih Aman, BI Sebut Struktur Utang Tetap Sehat

I Putu Suyatra • Selasa, 23 Juni 2026 | 10:06 WIB
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso (IST)
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso (IST) 

BALIEXPRESS.ID – Pemerintah memastikan kondisi utang Indonesia, khususnya utang luar negeri (ULN), masih berada pada level yang aman dan terkendali meski mengalami kenaikan pada April 2026. Bank Indonesia (BI) menegaskan struktur utang nasional tetap sehat karena didominasi utang jangka panjang dengan rasio terhadap produk domestik bruto (PDB) yang terjaga.

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$439,8 miliar pada April 2026 atau tumbuh 1,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh kenaikan utang sektor publik, sementara utang sektor swasta masih mengalami kontraksi.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan utang luar negeri pemerintah mencapai US$216,4 miliar atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya yang mencapai 3,8 persen.

“Posisi ULN pemerintah mencapai US$216,4 miliar pada April 2026 atau tumbuh 3,7 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 3,8 persen pada bulan sebelumnya. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan pinjaman luar negeri pemerintah,” ujar Denny.

BI mencatat sebagian besar utang pemerintah dimanfaatkan untuk sektor kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22 persen, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5 persen, serta sektor pendidikan sebesar 16,2 persen. Selain itu, hampir seluruh utang pemerintah merupakan utang jangka panjang dengan porsi mencapai 99,99 persen dari total utang luar negeri pemerintah.

Di sisi lain, utang luar negeri swasta tercatat sebesar US$193,2 miliar atau masih mengalami penurunan sebesar 0,7 persen. Kontribusi terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian.

“Indonesia akan terus mengoptimalkan pemanfaatan utang luar negeri guna mendukung pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” kata Denny.

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai nilai utang luar negeri Indonesia yang setara sekitar Rp7.784 triliun masih berada dalam kategori aman. Meski demikian, ia mengingatkan agar tren kenaikan utang tetap menjadi perhatian pemerintah.

“Meskipun masih dalam batas yang aman, tren kenaikan utang perlu diwaspadai karena berpotensi menambah beban bunga dan mempersempit ruang fiskal pada masa mendatang,” ujarnya.

Menurut Rizal, risiko utang masih dapat dikendalikan selama dana yang diperoleh digunakan untuk kegiatan produktif yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kapasitas fiskal nasional.

“Selama utang dimanfaatkan untuk kegiatan produktif yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kapasitas fiskal, maka risiko yang muncul masih dapat dikelola dengan baik,” pungkasnya.

Editor : I Putu Suyatra
#Ramdan Denny Prakoso #utang