BI Siapkan Strategi Jaga Rupiah di Tengah Gejolak Geopolitik Global

I Putu Suyatra • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 16:46 WIB
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti saat bersiap mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti saat bersiap mengikuti uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) bersama Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com) 

BALIEXPRESS.ID — Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya gejolak geopolitik global. Kebijakan tersebut mencakup penguatan intervensi valuta asing (valas) hingga pemberian insentif untuk transaksi lindung nilai.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, salah satu strategi yang ditempuh adalah mengoptimalkan intervensi valas untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah.

Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

"Mengelola struktur suku bunga di pasar uang sejalan dengan kebijakan BI-Rate dan suku bunga instrumen operasi moneter pro-market disertai dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market," ujar Destry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (23/9).

Menurut Destry, Bank Indonesia juga terus memperkuat efektivitas kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga kecukupan likuiditas rupiah di pasar keuangan.

BI Perkuat Insentif Lindung Nilai

Salah satu langkah yang ditempuh adalah meningkatkan insentif untuk instrumen Swap Beli Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri.

Transaksi tersebut mencakup portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh perbankan, serta foreign direct investment (FDI). Peningkatan insentif dilakukan melalui perubahan premi dari sebelumnya 12,5 persen untuk seluruh tenor menjadi 15 persen untuk tenor tiga bulan, 20 persen untuk tenor enam bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan.

Bank Indonesia juga meningkatkan insentif untuk instrumen DNDF Lindung Nilai kepada Bank Indonesia dalam rangka transaksi underlying pendanaan luar negeri.

Insentif tersebut mencakup portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, serta foreign direct investment. Premi yang sebelumnya sebesar 15 persen ditingkatkan menjadi 25 persen untuk tenor enam bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan.

"Yang mencakup transaksi portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment melalui pengurangan premi dari semula 15 persen menjadi sebesar 25 persen untuk tenor 6 bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan," ujarnya.

BI Lanjutkan Insentif Transaksi Mata Uang Lokal

Selain memperkuat intervensi valas dan instrumen lindung nilai, Bank Indonesia melanjutkan pemberian insentif untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra.

Kebijakan LCT diarahkan untuk mendukung diversifikasi transaksi valas. Salah satu langkahnya dilakukan melalui penambahan premi Swap Beli Lindung Nilai (Swap Jual Lindung Nilai kepada Bank Indonesia) sebesar 10 persen.

Di sisi lain, BI memberikan pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 10 persen.

Serangkaian kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memperkuat likuiditas di pasar domestik, sekaligus menghadapi dinamika pasar keuangan global yang dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik.

Editor : I Putu Suyatra
Destry Damayanti rupiah bi