BALIEXPRESS.ID – Indonesia terus mendorong pengembangan bahan bakar nabati (BBN) atau biofuel sebagai salah satu strategi menghadapi gejolak geopolitik dan mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan konflik di Timur Tengah turut menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi berbasis bahan baku dalam negeri.
“Pengembangan program-program tersebut, termasuk biofuel, mendapatkan momentum akibat konflik yang saat ini terjadi di Timur Tengah,” ucap Hashim dalam acara Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa (6/10).
Hashim menyoroti kerentanan rantai pasok energi akibat ketergantungan terhadap impor dari negara-negara Timur Tengah. Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat berdampak terhadap ketahanan perekonomian Indonesia.
“Kami semua menyadari betapa rentannya perekonomian negara apabila terlalu bergantung pada sumber energi dari luar negeri, terlebih dari kawasan dengan situasi politik yang tidak stabil,” ucap Hashim.
Indonesia Genjot Biodiesel B50 dan Bioetanol E20
Atas dasar kondisi tersebut, Hashim menegaskan pemerintah akan terus mengembangkan program biofuel. Dua program yang menjadi perhatian adalah biodiesel B50 dan bioetanol E20.
“Pemerintah akan terus melanjutkan program biofuel,” ucap Hashim.
Indonesia saat ini disebut menjadi negara pertama yang menerapkan biodiesel B50 secara nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan penyaluran B50 di seluruh Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dapat mencapai 100 persen pada Oktober 2026.
Setelah mendorong penggunaan B50, pemerintah juga menyiapkan penerapan bioetanol E20 sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan energi nasional.
Pemerintah berencana menerapkan campuran etanol sebesar 20 persen atau E20 dalam bahan bakar minyak (BBM) pada 2029.
Namun, Kementerian ESDM menyatakan realisasi mandatori E20 masih sangat bergantung pada kesiapan pasokan bahan baku bioetanol.
Untuk skenario penggunaan E20 pada sektor non-PSO, kebutuhan pasokan bioetanol diperkirakan mencapai sekitar 20 pabrik dengan kapasitas produksi paling sedikit 40.000 kiloliter per tahun.
Pengembangan B50 dan E20 diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik sekaligus mengurangi kerentanan Indonesia terhadap perubahan kondisi geopolitik dan pasokan energi global.
Sumber : Jawa Pos