Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kelas Dipagari Pemilik Lahan, Belajar di Wantilan dan Halaman Pura

I Putu Suyatra • Selasa, 18 Juli 2017 | 16:39 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, GIANYAR - Permasalahan kepemilikan lahan sekolah lagi-lagi membuat dunia pendidikan di Gianyar harus mengalah. Kasus terbaru terjadi di SDN 2 Puhu, Payangan, yang setengah siswanya akhirnya belajar di wantilan pura, setelah tiga ruang kelasnya dipagari warga pemilik lahan.


Suara kicauan burung menyambut suasana pagi Banjar Puhu, Desa Puhu, Payangan kemarin (17/7). Tak hanya itu, hembusan sejuknya angin menambah ketenangan desa yang berada di wilayah utara Gianyar ini. Namun ketenangan tersebut terusik dengan kondisi sekolah yang ada di Banjar Puhu, tepatnya di SDN 2 Puhu. Lantaran tak seperti biasanya, puluhan siswa yang duduk di kelas I, kelas II, dan kelas III, bukannya belajar di sekolah mereka, tapi di wantilan Pura Pesimpangan, yang lokasinya sekitar 100 meter dari sekolah mereka.


Pantauan di lokasi pagi kemarin menunjukkan, jika aktivitas belajar yang dilakukan siswa tiga kelas tersebut terbagi menjadi dua blok. Blok pertama diisi siswa kelas III, dan blok satunya digunakan kelas I. Ironisnya, karena wantilan tersebut berupa bangunan terbuka dengan atap genteng, maka sebagai pembatas dua blok tersebut, serta dinding di sekelilingnya, hanya menggunakan lembaran karung plastik. Tak ayal meski sudah dikelilingi dinding plastik, hawanya tetap saja dingin, terlebih tinggi dinding tersebut hanya setengah badan orang dewasa.


Mirisnya lagi, untuk kelas II sendiri yang menggunakan blok secara bergiliran dengan kelas I, akhirnya belajar di halaman pura dengan atap langit dan lantai tanah, tanpa meja atau pun kursi, apalagi papan belajar. Tak itu saja, guru yang mengajarnya pun hanya bisa berdiri dan sesekali duduk di tepi halaman pura.


Kepala SDN 2 Puhu I Wayan Candra yang ditemui di lokasi mengatakan, aktivitas belajar mengajar di wantilan dan halaman Pura Pesimpangan tersebut sudah berlangsung sejak 9 Juli lalu. Pasalnya sejak saat itu, tiga ruang kelas sekolah yang dia pimpin sudah dipagari oleh pemilik lahan. Akhirnya sebagai langkah darurat, proses belajar mengajar pun dialihkan ke wantilan pura.


“Sebenarnya untuk yang kelas II nanti akan masuk ke blok di kelas I. Sebab kelas I dan kelas II jam belajarnya bergiliran,” ucapnya.


“Ya mau bagaimana lagi, anak-anak tetap harus dapat belajar. Tapi dengan kondisi sekarang, jadinya memang seadanya. Sebab di sekolah sekarang hanya tersisa dua ruang kelas yang diisi kelas V dan kelas VI. Bahkan untuk kelas IV juga belajarnya di ruang perpustakaan,” jawabnya, saat ditanya mengenai bagaimana proses belajar siswanya dengan kondisi seperti itu.


Sedangkan Ni Putu Meliani, 9, salah seorang siswi kelas III berharap jika mereka dapat segera kembali belajar di kelas. Karena selain berada cukup jauh dari sekolah aslinya, proses belajar di wantilan juga dia akui tidak cukup nyaman bagi dia dan teman-temannya.


Disinggung mengenai apa sebenarnya yang terjadi hingga pemilik lahan I Made Antara memagari tiga ruang kelas sekolahnya itu, Candra menambahkan, untuk lahan dia sebutkan sebenarnya sudah tuntas diselesaikan pada 2010 lalu, yakni dilakukan proses tukar guling untuk lahan Antara yang menjadi bangunan sekolah, termasuk batas-batas tanahnya. Cuma permasalahan muncul, ketika ada satu bangunan yang sebagian bangunan tersebut (tiga blok kelas) masih menjulur ke lahan warga tersebut.


Dengan kondisi itu, dirinya tak bisa berbuat banyak. Namun dia berharap jika pihak-pihak terkait bisa lebih cepat memproses apa yang menjadi kendala. Terlebih dalam waktu dekat pembangunan gedung baru juga sudah akan segera dilakukan. “Harapan kami supaya segera klir. Kasihan anak-anak,” harapnya.


Sementara itu pantauan di sekolah yang berdiri sejak 1 Agustus 1968 ini menunjukkan jika pemagaran dilakukan tepat sejajar dengan batas lahan Antara dan lahan sekolah.


Dikonfirmasi terpisah, Kadis Pendidikan Gianyar Made Suradnya yang menjelaskan, jika masalah SDN 2 Puhu tersebut saat ini sedang diselesaikan pihaknya. Salah satunya dengan menyurati pemilik lahan, yang pada intinya meminta waktu hingga proses pembangunan gedung baru sebanyak tiga ruang kelas selesai dilakukan di lahan milik sekolah. “Kami sebenarnya sudah bersurat ke sekolah dan pemilik lahan, intinya supaya sabar menunggu pembangunan gedung baru. Apalagi gedung baru itu akan dibangun di lahan sekolah itu sendiri,” katanya singkat. 

Editor : I Putu Suyatra
#gianyar #pendidikan