Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Sakral Ditarikan Selama 42 Hari Tiap Tiga Tahun di Sidatapa

I Putu Suyatra • Sabtu, 29 Juli 2017 | 16:09 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Pementasan Tari Sanghyang dan Gandrung menyedot perhatian masyarakat Desa Pakraman Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Tarian yang dipentaskan serangkaian upacara Unen-unen atau Nedunang Taksu (memuja Taksu, Red) digelar selama 42 hari, terhitung sejak Selasa lalu (25/7), tepatnya mengawali sasih Karo di Pura Bale Agung.


Warga Desa Pakraman Sidatapa tampak berdesak-desakan di areal jaba pura untuk menyaksikan pementasan tarian sakral Sanghyang dan Gandrung, Kamis malam (27/7). Atau hari ketiga pelaksanaan uapcara Unen-unen atau Nedunang Taksu. Maklum saja, kedua tarian ini tidak sembarang dipentaskan. Mereka harus menunggu hingga tiga tahun sekali, untuk bisa menyaksikan tarian sakral ini.


Menurut Kelian Adat Desa Sidatama, Putu Kasma jika upacara Unen-unen atau Nedunang Taksu diyakini sudah ada sejak abad ke-12. Bahkan Tari Gandrung dan Tari Sanghyang yang wajib dipentaskan saat Unen-unen digelar merupakan kesenian yang lahir pada jaman prahindu dan dipercaya berasal dari Pulau Jawa.


Meski tidak ada catatan sejarah secara tertulis, namun berdasarkan penuturan para pendahulunya, upacara ini ini merupakan turunnya Prataksu dari Ida Panembahan Saking Gunung Raung yang di-sungsung (puja, Red) warga setempat.


“Kami meyakini jika Upacara Unen-unen ini dilaksanakan untuk menolak bala. Sebab berdasarkan cerita para tetua, kalau dulu pernah ada grubug, sehingga masyarakat banyak yang meninggal. Saat itu ada seorang panglingsir kami mendapatkan pawisik agar melaksnaakan Unen-unen Sanghyang dan Gandrung, selama 42 hari dan diiringi tabuh rah selama 9 hari di pusat desa,” ujarnya.


Sejak itulah tarian Sanghyang dan Gandrung dipentaskan, nonstop selama 42 hari. Tarian Sanghyang dibawakan berturut-turut selama 9 hari. Sedangkan tari Gandrung dipentaskan sebanyak 42 hari tanpa putus. Biasanya, tarian Gandrung ditarikan terlebih dahulu, kemudian disusul oleh tarian Sanghyang.


“Kalau tari gandrung ditarikan full selama 42 hari. Tetapi tarian Sanghyang ditarikan selama 9 hari yang disertai ritual tabuh rah. Nah, kalau masyarakat ingin naur sesangi (kaul, Red), boleh menghaturkan Tarian Sanghyang di Pura Bale Agung. Sehingga Tarian Sanghyang lebih dari sembilan kali,” imbuh Kasma.


Tari Gandrung dibawakan oleh dua orang lelaki, yang masih muda. Umurnya pun tak boleh lebih dari 15 tahun. Mereka dilatih oleh para tokoh desa beberapa minggu sebelum pentas. Karena membawakan tarian sakral, para penari Gandrung harus dilukat, agar bersih secara niskala.


Dilihat dari sisi kostum, para penari Gandrung lebih menekankan pada pakaian berwarna putih dan kostumnya begitu sederhana. Selama satu jam lebih para penari Gandrung begitu kusyuk menarikan tarian ini. Bahkan beberapa warga turut ikut menari alias ngibing yang disertai dengan kerauhan. Mereka yang mengalami kerauhan diduga dirasuki oleh Ida Panembahan.


“Tarian Gandrung ditarikan oleh dua orang lelaki, memang seperti itu pakemnya. Saat tarian dipentaskan, beberapa warga ikut larut ngibing. Yang ngibing itu kebanyakan laki-laki. Mereka mengalami kerauhan saat mengibing karena dirasuki oleh Ida Panembahan,” ujar Kasma.


Usai tari Gandrung ditarikan, kini gilaran Tari Sanghyang dipentaskan. Namun, sebelum pentas, para penari Sangyang melalui beberapa ritual. Seperti ritual Kidung Padudusan Sanghyang. Artinya sebelum pentas, mereka dikidungkan atau diiringi nyanyian khusus.


Nyayian kidung tersebut dikumandangkan oleh Para Ulu Desa, Aparat desa, prebekel, kelian banjar adat dengan menggunakan kidung khusus, sebanyak 4 lagu. Kidung tersebut dinamai Kidung Padudusan Sanghyang. Selesai melakoni ritual tersebut, dua penari Sanghyang yang masih gadis dan berumur di bawah 15 tahun itu sudah bisa menarikannya.


Keduanya terlihat lemah gemulai, tanpa beban. Tarian ini juga diiringi penabuh gong serta beberapa pengibing wanita. Suasana magis pun menjadi-jadi saat beberapa pengibing terlihat kerauhan.


Putu Kasma menegaskan bila tarian Sanghyang tak boleh sembarangan ditarikan. Karena merupakan tarian sakral. Selain upacara Unen-unen, tarian ini hanya diperbolehkan ditarikan saat menggelar upacara ngerasakin.


“Selain upacara Unen-unen, tarian Sanghyang hanya boleh ditarikan saat menggelar upacara ngerasakin. Upacara ngerasakin itu semacam menghaturkan babi guling di kebun sebagai wujud syukur atas panen yang berlimpah,” katanya.


Dulu, sambung Kasma, pelaksanaan upacara Unen-unen ini dilakukan setiap setahun sekali. Tetapi, karena menghabiskan biaya yang cukup besar, akhirnya digelar setiap tiga tahun sekali. Meski demikian, krama Desa Sidatapa rutin menggelar hajatan ini, dengan maksud agar diberikan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan yang berlimpah.


“Upacara ini wajib digelar. Sebab konsekuensianya kalau tidak dilaksanakan akan menimbulkan gering agung (wabah penyakit, Red). Selain gering agung bisa terjadi keributan antar desa. Dan dulu desa kami pernah mengalaminya. Makanya kami tidak berani main-main untuk tak melaksanakannya,” tegasnya.


Menariknya, tarian ini hanya boleh ditarikan setelah Tumpek Lulut, atau terhitung 35 hari setelah Hari Raya Galungan. Sebab jika Sasih Karo belum melewati Tumpek Krulut, maka perayaan upacara Unen-unen akan digeser ke tahun berikutnya.


“Kita percaya dewasa ayu, artinya setelah Uncal Balung barulah upacara Unen-unen yang disertai pementasan tarian Sanghyang dan Gandrung dilaksanakan. Kalau masih Uncal Balung, atau belum lewat Tumpek Lulut ya harus digeser, enam bulan atau tahun berikutnya,” paparnya.


Sementara itu Tokoh masyarakat Desa Sidatapa, Wayan Ariawan mengatakan jika ditinjau dari sisi atraksi wisata, upacara Unen-unen ini begitu menarik perhatian turis asing. Pasalnya pelaksanaan tradisi ini durasinya lumayan panjang dan menjadi destinasi wisata budaya.


“Durasinya lumayan panjang, yakni selama 42 hari, dan tentu sebagai Bali Aga, Desa Sidatapa memiliki keragaman budaya dan keunikan yang tak bisa dijumpai di tempat lain. Tentunya ini akan kami kemas menjadi atraksi wisata budaya yang bisa dijadikan destinasi wisata,” ungkapnya. 

Editor : I Putu Suyatra
#tradisi bali #tari bali #tradisi hindu #tradisi unik #buleleng