BALI EXPRESS, KUBUTAMBAHAN - Pada umumnya, Desa Pakraman di Bali merayakan Hari Raya Nyepi sekali dalam setahun, yang bertepatan dengan Tahun Baru Caka. Namun berbeda dengan Desa Pakraman Yeh Sanih, Banjar Dinas Sanih, Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Selain merayakan Nyepi Tahun Baru Caka, Warga Yeh Sanih juga merayakan Nyepi Desa. Bahkan Nyepi Desa digelar setiap dua tahun sekali, bertepatan dengan Tilem Sasih Karo.
Suasana tak biasa terasa di Desa Pakraman Yeh Sanih, Kecamatan Kubutambahan. Sebagai daerah destinasi wisata di Buleleng Timur, biasanya wilayah ini selalu ramai dikunjungi wistawan asing maupun domestik. Mereka datang untuk menikmati segarnya permandian di Kolam Air Sanih.
Namun, pada Selasa (22/8) kemarin, justru menunjukkan situasi sebaliknya. Sepi, dan nampak lengang. Toko-toko serta kedai makanan di sepanjang wilayah Desa pakraman Yeh Sanih tutup. Nyaris tak ada aktivitas. Krama (warga) Desa Pakraman Yeh Sanih yang berjumlah 500 KK sedang menjalankan catur brata penyepian.
Seperti pengamatan koran Bali Express (Jawa Pos Group), sesekali terlihat tiga orang pecalang (penjaga keamanan, Red) yang lalu lalang berjaga. Mereka memusatkan penjagaan di depan Obyek Wisata Yeh Sanih. Bukan tanpa alasan, mengingat obyek wisata ini selalu ramai dikunjungi wistawan asing maupun domestik dari berbagai daerah. Sehingga jika ada tamu yang hendak mandi, sesegera mungkin para pecalang akan menghalanginya.
Kelian Desa Pakraman Yeh Sanih, Jro Made Sukresna saat ditemui di depan obyek wisata Air Sanih mengungkapkan Tradisi Nyepi Desa ini sudah digelar sejak 200 tahun silam, oleh para pendahulunya. Namun Nyepi Desa selalu diperingati setiap 840 hari sekali, sesuai perhitungan kalender Bali atau bertepatan dengan Tilem Sasih Karo. Bahkan Jro Sukresna menyebutkan tradisi Nyepi Desa sudah tersurat dalam awig-awig Desa Pakraman Yeh Sanih.
“Tradisi ini sudah sejak 200 tahun dilaksanakan oleh para leluhur kami secara turun temurun. Sehingga tidak ada yang berani melanggarnya. Pelaksanaannya setiap 2 tahun sekali atau 840 hari perhitungan kalender Bali, itu tersurat dalam awig-awig desa,” ujar Sukresna.
Berbekal dari pedoman awig-awig tersebut, Sukresna menuturkan jika Tradisi Nyepi Desa ini sebagai bentuk penghormatan terhadap sumber mata air yang disucikan. Sumber mata air ini berada di areal permandian Air Sanih. Menurut keyakinan warga, air tersebut nantinya dijadikan tirta untuk dipergunakan saat pujawali di Pura Tri Kahyangan Desa dan pura yang ada di wilayah Desa Yeh Sanih.
“Sejak Tilem Karo kami akan memulai pujawali di Pura Kahyangan Tiga. Ada sepuluh pura di wilayah Desa Yeh Sanih. Sehingga kami mensakralkan tirta yang berasal dari sumber mata air, yang berada di aeral Permandian Air Sanih. Oleh karena itu, kalau Nyepi Desa saat ini, tidak boleh sama sekali menyenuh kolam di permandian Air Sanih,” tuturnya.
Selama 24 jam Nyepi Desa digelar, krama Desa Yeh Sanih juga melaksanakan catur brata penyepian. Seperti amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak boleh bekerja), amati lelungaan (tidak boleh bepergian) dan amati lelanguan (tidak boleh bersenang-senang).
“Warga tidak boleh bekerja, bepergian, menyalakan api, memadamkan lampu dan tidak boleh bersenang-senang. Mereka harus melakukan tapa brata penyepian di rumah masing-masing. Warga setempat juga tidak diperkenankan menerima tamu dari luar desa. Kita ingin hening dulu. Sebelum menyambut pujawali di belasan pura yang ada di wilayah Desa Pakraman Yeh Sanih” pungkasnya.
Lalu bagaimana dengan krama Desa Pakraman Yeh Sanih yang bekerja di luar desa? Sukresna menyebutkan pihaknya sudah memberikan surat dispensasi kepada yang bersangkutan agar bisa diizinkan libur selama Nyepi digelar oleh instansi tempatnya bekerja.
“Warga yang kerja sebagai PNS, TNI, Polri kami sudah buatkan surat dispensasi agar mereka bisa diberikan libur. Jadi saat malam harinya juga tetap dilarang menyalakan lampu. Kalau keempatnya dilanggar mereka akan dikenakan denda berupa banten guru piduka. Mungkin kalau sanksi itu bisa dikatakan ringan, tapi sanksi moralnya juga kan mereka bisa malu,” tegasnya.
Uniknya Nyepi Desa khusus diberlakukan untuk Desa Pakraman Yeh Sanih. Sedangkan bagi masyarakat lain yang kebetulan melintas saat Nyepi Desa digelar, tetap diperbolehkan melintas.
"Surat permakluman Nyepi Desa Pakraman Yeh Sanih sudah disampaikan ke seluruh instansi. Kalau untuk warga lain boleh melintas di wilayah Yeh Sanih, tetapi jika ada krama yang kedapatan keluar maka akan dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan yang ada, namun selama ini belum ada krama yang melanggar Catur Brata Penyepian," katanya.
Seperti Nyepi pada umumnya, sehari sebelum Nyepi Desa dilaksanakan, pada Senin (21/8) sore Krama Desa Pakraman Yeh Sanih menggelar upacara pecaruan. Tujuannya untuk nyomya bhuta kala agar pelaksananaan Nyepi Desa berjalan lancar tanpa halangan.
Editor : I Putu Suyatra