BALI EXPRESS, DENPASAR - Eyang Ratih adalah sosok perempuan yang kini menjadi paranormal terkenal hingga ke mancanegara. Bahkan, Eyang Ratih kini menjadi salah satu paranormal yang sering terlihat di dunia pertelevisian Indonesia. Bagaimanakah kisahnya?
Langkah koran ini dimulai dari Jalan Batas Dukuh Sari bergerak ke arah selatan. Terlihat hamparan padi yang baru ditanam oleh pemiliknya. Hembusan angin tentu menaikan debu yang berada di pinggir jalan. Hingga sampailah perjalanan menggunakan sepeda motor ini di Gang Merak No 18 yang merupakan rumah dari Eyang Ratih.
Sejatinya, Eyang Ratih dahulu adalah sosok wanita bernama Mastuti. Perempuan kelahiran Kota Surabaya tahun 1959, ini memiliki seorang ayah asli Bali dan ibu asal Surabaya. Sejak kecil, Mastuti memang senang berbicara dan memiliki keahlian untuk menebak sesuatu. Hanya saja, kondisi yang demikian terkesan aneh di keluarga Mastuti. Hal tersebut dikatakan Mastuti yang kini dikenal dengan nama Eyang Ratih saat berbincang dengan Bali Express (Jawa Pos Group) Kamis (24/8) kemarin.
Lebih lanjut Mastuti mengatakan, sejak kecil Mastuti tumbuh seperti layaknya anak-anak lainnya. Hanya saja, setiap menjelang tidur malam, Mastuti selalu tidak bisa langsung pulas. Melainkan melek hingga larut dan bahkan pagi hari. Kondisi yang demikian tentu membuat sang ayah menjadi resah, karena keesokan harinya Mastuti harus bersekolah.
“Dan pada akhirnya Mastuti harus bersmbunyi di bawah kolong tempat tidur agar sang ayah tidak memarahinya karena belum bisa tidur,” terangnya.
Mastuti yang sering dipanggil Tutik, ini melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar. Bahkan pihaknya pernah menjadi seorang presenter di televisi milik pemerintah yakni TVRI. Namun, tak lama setelah itu Mastuti memutuskan untuk berhenti dan membuat sebuah bisnis di Surabaya.
Kepergian Mastuti bukan tanpa alasan, hal ini dikarenakan warga sekitar cenderung ketakutan melihat dirinya yang berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara. Sehingga, kondisi itu membuatnya semakin terpuruk dan stress. Ibanya lagi, Mastuti harus dibawa ke Rumah Sakit Jiwa sebelum akhirnya ke Surabaya. Maka dari itu pergilah Mastuti ke rumah ibunya di Surabaya dan mendirikan usaha Garmen.
Usaha Garmen yang digeluti Mastuti tergolong lancar. Bahkan ketika itu banyak yang menilai dia adalah sosok orang kaya. Namun, tak lama berselang, keanehan justru terjadi dalam kehidupan Mastuti. Dimana, saat hendak pergi ke sebuah pasar bernama Pasar Kembang, Mastuti seketika melihat sebuah cahaya menyerupai lampu neon. Namun, sekejap mata cahaya tersebut terkesan memukul kepala Mastuti. Dan ketika itu pula Mastuti mulai tak sadarkan diri dan badannya mulai hangat.
Karena kejadiannya tepat di tengah-tengah keramaian pasar maka Mastuti digotong untuk dinaikan ke atas Taxi. Anehnya, sesampainya di rumah, Mastuti sadarkan diri, dan mampu melihat hal-hal aneh di sekitarnya. “Jadi orang lain melihat secara nyata itu adalah sebuah sungai, tapi saya melihatnya sebagai sebuah istana,” tutur Eyang Ratih.
Anggapan seorang Mastuti ini tentunya tidak murni dipercaya orang tuanya. Bahkan berbagai jalan pun pernah ditempuh orang tuanya yang menganggap Mastuti mengalami gangguan jiwa. Sampai pada akhirnya ibu Mastuti mendapat petunjuk melalui sebuah mimpi. Yakni dengan pembersihan dengan melakukan ritual pemandian. Setelah sembuh, berdasarkan petunjuk mimpi, ibu Mastuti menyerankan anaknya untuk melakukan puasa. Namun, karena dinilai tidak begitu penting, Mastuti enggan melakukan puasa. Tak selang beberapa lama, akhirnya garmen milik Mastuti mengalami musibah kebakaran.
“Tak selang beberapa lama, muncul dalam mimpi sosok wanita yang mengatakan ini adalah permulaan akibat tidak mentaati aturan,” kata Eyang Ratih.
Akhirnya semua petunjuk dalam mimpi tersebut diikuti, dan akhirnya Mastuti mendapatkan bisikan dari wanita yang hadir dalam mimpinya tersebut. Hal aneh lainya yang dialami mastuti adalah setiap Jumat Umanis, Mastuti selalu bermimpi bertemu dengan sosok Soekarno dan Sri Sultan Hemangkubuwono IX yang tak lain adalah idolanya sejak kecil.
Namun, karena itu adalah sebuah mimpi, Mastuti pun tidak begitu meghirauakannya. Hingga mimpi tersebut datang untuk ketiga kalinya di hari yang sama.
Berdasarkan petunjuk mimpi tersebut, Mastuti langsung menuju makam Sang Proklamator Kemerdekaan RI, yakni Soekarno di Blitar. Ternyata, di lokasi makam Mastuti sudah ditunggu oleh penjaga makam yang mengatakan bahwa pihaknya telah ditunggu oleh bapak. Entah bapak siapa yang dimaksud, Mastuti pun belum mengerti. Sesuai dengan tujuan, Mastuti pun langsung menuju Makam Bung Karno dan melakukan pemujaan yang dilanjutkan dengan mengitari makam sebanyak tiga kali. Tepat pada putaran ketiga, tiba-tiba penjaga makam menghampirinya dan memberikan tiga buah batu makam.
“Ini untuk kamu. Siapa pun yang ingin naik jabatan, gunakanlah rendaman air dari batu ini, hanya orang pilihan yang bisa mendapatkan batu ini,” ucap Eyang Ratih menirukan suara penjaga makam Bung Karno.
Setelah itu, penjaga makam menyerankan Mastuti untuk melanjutkan perjalanan menuju tanah Jogjakarta untuk mencari makan Sultan Hemangkubuwono IX. Namun, ketika itu Mastuti sama sekali tidak memiliki uang sepeser pun. Namun, berkat keberaniannya akhirnya dia sampai di Jogjakarta. Di sana, Mastuti menginap di sebuah hotel di kawasan Malioboro. Selanjutnya Mastuti menuju Keraton untuk menanyakan makam Sultan. Anehnya, kedatangan Mastuti telah diketahui oleh Sucipto yang merupakan orang kepercayaan Sultan. Sesampainya di sana diberikanlah Mastuti sebuah keris berkarat. Konon keris itu didapat tak selang beberapa lama sebelum kedatangan Mastuti.
Dengan membawa keris, akhirnya Mastuti kembali ke hotel, namun di sana telah ramai pihak kepolisian. Ternyata di waktu yang sama hotel tempatnya menginap kehilangan sejumlah uang. Namun, secara sepontanitas tiba-tiba ada yang membisiki Mastuti bahwa uang tersebut diambil oleh anak pemilik hotel, dan diletakan di bawah pedal gas mobil. Ternyata dugaan Mastuti benar, dan uang kembali ditemukan. “Sejak itulah banyak yang meyakini bahwa dirinya adalah seoarang Paranormal,” ungkapnya.
Setelah mengunjungi makam Sri Sultan, Mastuti melanjutkan perjalanan ke sebuah pura bernama Pura Mandiraseta. Di pura tersebut dikenal banyak umat yang memilih jalan Brahmacari Asrama yakni tidak melangsungkan pernikahan. Pada kesempatan tersebut munculah seorang pemangku pura yang hendak mencari Eyang Ratih yang merupakan anak dari Bhatara Semar. Ketika itu pula Mastuti ikut mencari dan ternyata yang dicari Mastuti ada pada dirinya sendiri. Seketika keluar asap dari atas kepala Mastuti yang selanjutnya muncul wanita cantik di hadapanya.
“Wanita itu berkata, aku adalah Eyang Ratih, aku ada dalam dirimu dan menyatu, mengapa engkau cari lagi aku,” kata Mastuti.
Setelah itu Eyang Ratih kembali pergi dan masuk ke dalam raga Mastuti. Sejak itulah Mastuti dikenal dengan nama Eyang Ratih.
Pemangku pura menjelaskan, Eyang Ratih adalah anak dari Bhatara Ismaya yang tak lain adalah Bhatara Semar sendiri. Dimana, pada saat pelaksanaan tapa bratha arjuna, muncul beberapa bidadari yang hendak menggagalkan tapanya. Akhirnya munculah itikad baik Bhatara Semar untuk merubah diri menjadi Bhatara Ismaya dan menikahi Dewi Kanestren dan melahirkan sembilan anak yang salah satunya adalah Eyang Ratih.
Sehingga kini Mastuti dikenal sebagai Eyang Ratih dan senantiasa mendapatkan pawisik dari Eyang Ratih untuk selalu berbuat kebaikan. Berbagai jenis konsultasi kebatinan dan pengobatan dilayani Eyang Ratih yakni Meramal, Susuk, Santet, Jodoh, Sihir dan lain sebagainya dapat dituntaskan hanya dengan 15 menit saja.
Kini Eyang Ratih resmi mengabdikan dirinya kepada semua umat manusia tanpa mengenal agama. Bahkan, Eyang Ratih yang mampu memberikan penglaris terhadap beberapa usaha seseorang tapi nyatanya dirinya sendiri tidak diperkenankan untuk berdagang dan membuat berbagai jenis bisnis apa pun itu. “Jadi kalau berani melanggar pasti hancur bisnisnya,” terang Eyang Ratih.
Kini, Eyang Ratih yang dulunya adalah Mastuti ini dikenal sebagai seorang Paranormal, Sesepuh di Forum Keluarga Paranormal Indonesia, Ketua Padepokan Gunung Lawu, dan Ketua Paranormal Batam. Bahkan sering menjadi narasumber dan mendapat penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri.
Tidak berhenti sampai disitu, pengalaman Eyang Ratih menjadi seorang paranormal sejak mulai melakukan perjalanan menemui makam Bung Karno 30 tahun silam ini nampaknya mengalami berbagai cobaan. Hingga kini Eyang Ratih turut menyaksikan berbagai penampakan di suatu tempat yang memag ada penungguna. Bahkan dirinya dapat melihat dengan jelas. “Hanya saja itu adalah makanan sehari-harinya, sehingga menjadi terbiasa,” kata wanita 58 tahun ini.
Selain itu, tak jarang paranormal atau dukun lain yang menguji coba kemampuan Eyang Ratih melalui sambungan telepon. Namun, karena ini adalah sebuah restu dan diterimanya tanpa belajar, maka yang bersangkutan sangat kesulitan untuk menembus Eyang Ratih. “Sehingga Astungkara sampai saat ini masih sehat,” ungkapnya.
Editor : I Putu Suyatra