BALI EXPRESS, DENPASAR - Berplesiran ke Denpasar Selatan, tak lengkap jika tidak mengunjungi wisata religi di pinggiran waduk Muara Dua, di Ling Sii Miao Kongco Dwipayana. Selain sembahyang, di sana juga bisa mengorek berbagai sejarah soal Tionghoa di Bali.
Kala itu jam menunjukkan pukul 11.34 Wita. Udara cukup panas. Untungnya tidak terlalu padat kendaraan. Sehingga perjalanan menuju Kongco Dwipayana berjalan lancar.
Tepat sebelum jembatan Waduk Muara Dua, terdapat sebuah gang masuk menuju kongco ini. Di muka gang ini, kanan kirinya berjajar back hoe, sejenis excavator dengan fungsi sebagai pengeduk. Sesekali di atas back hoe tersebut nangkring burung bangau dan pelikan.
Jalannya memang tidak aspal, hanya tatanan paving yang dikemas seperti trotoar namun lebih lebar lagi. Cukuplah untuk bersimpangan roda empat dan roda dua. Kongco ini sudah kelihatan dari gang depan, jauhnya hampir satu kilometeran. Nampak apik dan tertata, semakin mendekati kongco ini, udara pun juga mulai terasa sejuk.
Memasuki Kongco Dwipayana, tepatnya di gedong Para Dewa Dewi, berdiri patung dewa Sam Po Tay Jen. Sam Po Tay Jen adalah nama lain Laksamana Cheng Ho, penyebar agama Islam di Indonesia dari China. Selain itu, Laksamana Cheng Ho juga punya nama lain Sam Po Hong. Beliau mendapatkan pengakuan dewa karena kebijaksanaannya. Bahkan posisinya masuk ke dalam dewa tertinggi. Cheng Ho masuk urutan ke enam dewa persembahyangan umat Buddha di Kongco Dwipayana ini.
Waktu itu lewat tengah hari. Ada suasana sakral yang memang terasa kental di ruangan tersebut, tenang, damai dan sejuk. Posisi kongco mungkin juga menentukan, mengapa hanya di sana Cheng Ho dapat dilinggihkan.
Menjelang tengah hari tersebut, suasana sakral terasa ketika para umat Budha mulai bersembahyang kepada Tuhan mereka (dalam bahasa Cina disebut Tian Kong, Red).
Mereka beriringan beriringan meletakkan hio untuk Tian Kong. Terlihat juga kegiatan para umat Hindu yang bersembahyang. Dn tepat saat itu bersamaan pula terdengar sayup-sayup suara Adzan. Tiga hal yang berbeda tersebut, terjadi beriringan.
"Cheng Ho ini orang muslim dari Tiongkok. Karena tingkatkan ilmunya yang tinggi membuatnya dipuja sebagai dewa," jelas IB Adnyana atau Atu Mangku di Ling Sii Miao Kongco Dwipayana Minggu siang (29/1).
Hanya di Kongco Dwipayana ini di Bali ada patung Sam Po Tay Jen. Sedangkan yang terbesar ada di Semarang. Selain itu ada juga di Malaysia. "Yang saya tahu di Semarang dan Bali. Sedangkan masjidnya ada di Surabaya, dan sekarang juga sedang dibangun di Banyuwangi," tuturnya.
Di Semarang sendiri terletak di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Ciri-ciri keislaman memang nampak di petilasan tersebut, yaitu ditemukannya tulisan yang berbunyi, "Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an."
Di Semarang sendiri, kongco tersebut sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan muslim. Memang mungkin terlihat agak berbeda dengan yang ada di Bali. Sebab porsi muslim di Bali juga minoritas. Namun juga terlihat beberapa wisatawan muslim berdoa di Kongco Dwipayana, untuk Cheng Ho. Cheng Ho, didewakan dan disembah oleh umat Buddha, yang notabene adalah laksamana dari Cina yang beragama Islam, yang menyebarkan agama Islam penuh kedamaian melalui kegiatan bercocok tanam dan lainnya.
Menurut Atu Mangku, keberadaan patung Dewa Sam Po Tay Jen inilah yang sangat unik dan jarang diketahui banyak orang di Kongco Dwipayana ini. Apalagi Sam Po Tay Jen adalah satu-satunya Dewa beragama Islam yang dipuja warga Tionghoa.
Mengorek keberadaan patung Sam Po Tay Jen di Bali, yang disebut-sebut hanya ada di Kongco Dwipayana ini memang tidak mudah. Menggali informasi secuil demi secuil hingga bisa dirangkai menjadi sebuah kisah.
Atu Mangku juga terlihat agak kesulitan menceritakan kisah Sam Po Tay Jen ini. Berharganya mengulas kisah Dewa Penyebar Agama Islam ini, karena hanya di Kongco Dwipayana dewa tersebut dapat dilinggihkan.
"Sebenarnya itu Misteri Alam Atas, Sam Po Tay Jen di Bali hanya ada di Kongco Dwipayana. Sam Po Tay Jen juga masuk dalam jajaran Dewa Tertinggi. Padahal jika dilihat Beliau adalah penyebar agama Islam. Beliau ada di sini, dikarenakan diduga berkerabat dekat dengan Ong Tay Jen," jelasnya saat ditemui di bawah pohon belimbing di dalam kongco Minggu siang (29/1).
Sedangkan mengulas keberadaan Ong Tay Jen dan Kongco Dwipayana ini pun masih misteri. Karena belum mendapatkan prasasti yang ditinggalkan, jadi mekanisme berdasarkan wahyu-wahyu yang mereka terima. Di samping belum adanya prasasti, maksudnya yang tertulis nama Beliau (Ong Tay Jen), yang menyebutkan juga terjadinya sewaktu dinasti Qing.
"Nah kok bisa ada di sini, menurut cerita Beliau adalah seorang yang mempunyai keahlian di bidang pengobatan dan filsafat yang ulung. Ratu Niang Sakti ingin mendapatkan ilmunya Ong Tay Jen. Karena rasa kebersamaan di antara keduanya, mereka berada di sini. Karena ilmunya, Beliau memberikan pertolongan kesehatan kepada masyarakat sekitar. Lalu hidup berdampingan antara Hindu dan Cina," jelasnya.
Sedangkan Sam Po Tay Jen dilinggihkan di Kongco ini pada tahun 1997. Alasan dewa penyebar agama Islam ini dilinggihkan di kongco tersebut, karena diduga ada kekerabatan dekat antara Ong Tay Jen dan dewa-dewa lain.
"Yang jelas kehadiran Sam Po Tay Jen untuk memperkuat tempat suci ini. Dengan berdirinya patung-patung dewa yang berilmu tinggi, sehingga membawa power untuk tempat ibadah tersebut," ungkapnya.
Sedangkan kesakralannya sendiri tergantung dari yang bersujud. Selain itu, dapat dirasakan oleh yang menjaga tempat ibadah ini juga.
"Power Sam Po Tay Jen itu benar-benar kami rasakan," pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra