BALI EXPRESS, MANGUPURA - Perayaan Natal tahun 2017 berlangsung meriah, di Gereja Paroki Tritunggal Mahakudus, Banjar Babakan, Desa Canggu, Kuta Utara, Senin (25/12). Menariknya, jemaat setempat tetap mempertahankan sejumlah budaya Bali dalam praktik keagamaannya. Selain menggunakan pakaian adat Bali, umat Nasrani juga menjalankan beberapa tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, yakni panampahan atau memotong hewan menjelang hari raya.
Dalam acara doa bersama yang dipimpin Pastur Lusius Nyoman Purnawan itu, dihadiri sekitar 619 dari 139 KK. "Pesan Natal kali ini memberikan semangat untuk menanamkan cinta kasih agar dapat memupuk rasa toleransi antarumat beragama dan sesama umat beragama," ungkap Ketua I Bidang Pembinaan Iman, Nyoman Werna dari gereja setempat.
Disampaikan Werna, akulturasi budaya di desa setempat telah dilakukan jemaat Katolik sejak 1940. Perempuan menggunakan baju kebaya, sedangkan pria mengenakan baju safari dan ikat kepala berupa udeng. "Menggunakan pakaian adat Bali sudah menjadi tradisi para jemaat kami saat doa bersama di Gereja pada perayaan Natal," ungkapnya.
Di samping pakaian, Werna mengatakan, juga memadukan instrumen musik Bali ke dalam alunan lagu rohani yang dilantunkan pada doa bersama. Selain itu, pihaknya juga menjalankan tradisi memotong babi atau nampah sebelum perayaan Natal, dilanjutkan saling berbagi makanan (ngejot) kepada sanak saudara dan tetangga sekitar.
Ia juga menambahkan, akulturasi budaya lainnya yang dilakukan saat perayaan Natal kali ini dengan membuat gebogan (rangkaian janur kombinasi kue dan buah) sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan pencipta atas berkah yang diberikan selama ini. "Ini juga kami lakukan sebagai rasa syukur kepada Tuhan Yesus karena telah diberikan berkah hasil bumi yang berlimpah," terangnya.
Nyoman Werna mengakui, makna Natal kali ini mengimbau umat agar tidak takut menghadapi masa depan mereka, karena seperti diketahui saat ini bangsa Indonesia dihadapi gejolak dan tantangan dalam menghargai antarumat beragama. Hal ini memberikan makna yang mendalam agar segala permasalahan yang ada dapat dihadapi dengan menghargai satu sama lain dan dalam menghadapi gejolak dapat diselesaikan dengan rasa cinta kasih.
Selanjutnya, I Nyoman Yohanes selaku Pendeta dari Gereja Kristen Protestan Bali (GKPB) Marga Pakerti Padangtawang, Desa Canggu, Kuta Utara, Bali, menyampaikan pesan Perayaan Natal kepada para 250 jemaatnya agar mewujudkan rasa cinta kasih sesama umat dan antar umat beragama.
"Saya menyampaikan kepada jemaat agar tetap memaknai Perayaan Natal sebagai kasih Allah yang nyata kepada umat didunia untuk berbagi cinta kasih kepada orang lain, artinya dengan mengasihi sesama manusia berarti kita sudah mengasihi ciptaan Allah," ungkapnya.
Menariknya, saat perayaan Natal di Gereja ini, jamaat setempat membuat drama kecil yang isinya menyampaikan firman Tuhan dengan menggunakan Bahasa Bali. "Kami juga menyanyikan lagu rohaniawan dengan menggunakan bahasa Bali dan menggunakan pakaian adat Bali saat ke Gereja, terkecuali pendetanya yang tetap menggunakan jubah putih," ujarnya.
Di samping itu, saat Perayaan Natal kali ini sejumlah rumah-rumah jemaat dan Gereja setempat masang penjor atau hiasan bambu sebagai bentuk akulturasi budaya yang mencirikan Pulau Bali.
"Jadi kami memasang penjor ini sebagai simbol perayaan suka cita kami sebagai orang Bali yang merayakan kehadiran Yesus sebagai firman yang menjadi manusia dalam hidup kami sebagai kristen Bali," terangnya.
Sementara itu, tokoh Nasrani yang juga Ketua DPRD Badung, Putu Parwata berharap perayaan di penghujung tahun ini membawa pesan perdamaian dan keselamatan bagi umat manusia. Pesan perdamaian, kata dia, selayaknya dijadikan dasar bagi umat Nasrani dalam berpikir, bertindak dan betutur-kata dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai perdamaian, keselamatan dan kasih sayang merupakan nilai-nilai universal yang juga terdapat di dalam ajaran agama-agama lain.
“Makna dari peringatan Natal adalah membawa pesan damai untuk seluruh umat manusia. Rasa ini menjadi pilar pokok untuk membangun sendi-sendi kehidupan, baik pribadi maupun bermasyarakat. Tidak ada agama manapun yang mengedepankan perpecahan ataupun peperangan dalam ajarannya,” ujarnya.
Kerukunan umat beragama di Bali, pinta Parwata, harus terus dipertahankan. Demikian pula tenggang rasa, hormat menghormati harus tetap dijunjung tinggi, sehingga tercipta kedamaian. “Gereja mengamanatkan kearifan lokal suatu daerah untuk menopang seluruh dimensi kehidupan. Tradisi nampah biasa dilakukan saudara kita umat Hindu sebelum perayaan hari besar keagamaan. Disini kami juga mengadopsi tradisi itu menjelang natal,” tandas Politisi PDI Perjuangan asal Dalung tersebut.
Sementara perayaan Hari Natal berjalan aman dan lancar, begitu pula missa Natal di Gereja Khatolik ST Mikael di Banjar Piling Tengah, Desa Mengeste, Penebel, Tabanan, Senin (25/12).
Persembahyangan yang dipimpin oleh Romo Agustinus Bere Lau Pr tersebut dimulai sekitar pukul 08.00 dan dihadiri ratusan jemaat Gereja yang berasal dari Banjar Piling sendiri serta dari beberapa daerah disekitar Kecamatan Penebel. Dengan menggunakan pakaian adat Bali, ibadah Natal yang diisi dengan pujian untuk memperingati hari turunnya Yesus Kristus berjalan khidmat dan lancar. Para jemaat Gereja perempuan memakai kebaya dan para jemaat laki-laki menggunakan kamen dan saput lengkap dengan udeng. Pecalang juga terlihat mengatur lalu lintas didepan Gereja dan menjaga keamanan disekitar Gereja.
Ketua Dewan Gereja Khatolik Stasi Santo Mikael Piling, Yosef Ketut Subadi, 45, menuturkan bahwa, persembahyangan Natal yang menggunakan pakian Adat Bali merupakan tradisi leluhurnya yang pantang untuk ditinggalkan karena sudah berlangsung sejak jaman dulu. Dimana leluhurnya merupakan warga asli lokal Desa Pakraman Piling. “Tradisi ini sudah dari dulu kami lakukan, baik saat Natal maupun perayaan Paskah ,” ungkapnya.
Sebelum Natal tiba, baik umat Khatolik maupun Protestas sudah melaksanakan masa adpen atau yang masa menanti Tuhan sejak 4 minggu sebelumnya. Yang kemudian dilanjutkan dengan malam Kudus pada Minggu malam (24/12) hingga memasuki Hari Natal.
Dan tentunya, Subadi bersama umat lainnya melakukan pembersihan dan menghias Gereja menggunakan tamiang atapun penjor. Layaknya umat Hindu saat penampahan Galungan dan umat Muslim saat Idul Adha, umat Kristen di Piling juga melakukan pemotongan hewan ternak. “Ada yang memotong babi atau ayam, dan diolah menjadi lawar dan makanan lainnya,” paparnya.
Selanjutnya makanan olahan tersebut akan dibagikan kepada para tetangga baik umat Hindu maupun umat Muslim yang ada di Piling dan tradisi ini biasa disebut tradisi Ngejot. “Begitu juga saat Galungan atau Idul Fitri, umat Hindu dan umat Muslim akan ngejot kerumah umat Kristen. Begitulah wujud keharmonisan kami disini,” tegasnya.
Ia menegaskan, hubungan rukun dan harmonis antar umat beragama sudah terjalin sejak lama di Desa Pekraman Piling. Sehingga apabila tiba Hari Natal seperti saat ini, sudah merupakan hal biasa jika Pecalang ikut dilibatkan dalam menjaga keamanan sekitar Gereja.
“Di sini tidak ada perbedaannya, semua menyame braya. Mau Hindu, Kristen, Muslim, Budha, semua hidup berdampingan dan sampai sekarang tidak pernah ada masalah,” pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra