BALI EXPRESS, DENPASAR - Usia Bripda Ajeng Alifiah baru 22 tahun. Tapi, prestasinya sudah segudang. Kini, Polwan cantik tersebut pun menjadi pelatih atau asisten pelatih di beberapa tempat.
Tak hanya cantik dan berprofesi sebagai Polwan alias polisi wanita, Bripda Ajeng Alifiah, 22, ini pun jago karate dan judo. Perempuan kelahiran Lospalos, Timur Leste, 20 September 1996, silam tersebut kerap menyabet juara dalam setiap pertandingan. Ketertarikannya terhadap beladiri mengantarkannya menjadi Polwan dengan segudang prestasi.
Sebut saja dalam setahun belakangan pada 2017, Ajeng mengantongi 4 piala di antaranya juara 2 beladiri Polri kelas 70 kilogram kelas putri di Mako Brimob Kelapa Dua, juara 1 Kumite Putri kelas +61 kilogram khusus putri dalam rangka Kejuaraan Nasional Karate Inkanas Piala Kapolri VII di Semarang, juara 3 Kata Perorangan putri khusus Polri dalam rangka Kejurnas Inkanas Piala Kapolri VII di Semarang dan juara Kumite beregu putri kelas bebas Piala Porprov Bali tahun 2017 di Gianyar.
“Awalnya dulu diarahin sama orang tua biar ada kegiatan. Karena orang tua khawatir kalau anaknya mulai ikut pergaulan suka naik motor nggak jelas dengan teman - temannya. Dan biar ada kesibukan aja dulu,” jelasnya kepada koran ini pada Minggu (3/6).
Perempuan anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di Perumahan TNI AL Jalan Kapten Japa, ini sejak kecil memang sudah mendapat didikan disiplin yang tinggi. Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang tentara juga berperan banyak dalam membangun prestasinya. Lantaran kekhawatirannya sebagai kebanyakan orang tua terhadap anaknya yang menginjak dewasa, terlebih anak perempuan. Maka orang tuanya mengarahkan Ajeng agar menekuni beladiri. untuk pertama kalinya saat duduk dibangku kelas 4 SD Denpasar VI Sumerta, polwan cantik ini menekuni latihan beladiri karate. Dan baru tahun 2014 semenjak masuk menjadi anggota Polri, Ajeng lebih menekuni Judo.
“Saat pertama belajar karate, saat itulah saya mulai mulai jatuh cinta. Setiap hari les karate, hari Minggu libur. Sampai SMA masih menekuni karate,” jelasnya.
Banyak prestasi yang telah diukir Ajeng sebelum menjadi Polwan. Atas prestasinya tersebut Ajeng mengaku lebih mudah masuk dan tes kepolisian. Karena memiliki nilai lebih dibandingakan lainnya.
“Kalau pintar kan banyak. Tapi kita harus memiliki nilai lebih, yang nantinya mempermudah kita mendapatkan sekolah negeri dan menjadi polwan. Dan karena saya ada prestasi di karate dulu, sehingga menjadi poin lebih saat mendaftar polisi,” terangnya.
Tak pelak Ajeng mengaku kesusahan saat awal mempelajari Judo. Lantaran Judo berbeda dengan karate. Menurutnya dalam karate poin begitu mudah diperoleh lantaran hanya body touch. Sementara saat pertandingan Judo harus full body contact.
“Cedera sudah biasa, dulu sewaktu karate ya sampai bibir dan hidung berdarah. Kalau Judo paling banyak ya keseleo tangan. Karena kebanyakan main otot. Kadang di sebelah bahu, kalau teknik salah kebanting, udah nggak bisa ngapa-ngapain. Bisa juga patah. Judo kan membanting dan ngunci,” terangnya.
Pertandingan demi pertandingan yang dilakoninya kemudian membuahkan hasil yang memuaskan. Kini Ajeng kerap mengajar kohai – kohai di Brimob Tohpati. Juga kerap menjadi asisten pelatih beladiri di Polres Badung.
“Sekarang saya jadi guru yang hanya datang aja di Brimob Tohpati 2 minggu sekali pada Rabu dan Senin pukul 17.00 wita. Ada muridnya anak - anak kohai dan beberapa masyarakt umum. Sekitar 100 orang kohai, paling kecil usia 5 tahun,” jelasnya.
Sementara itu di lingkup Polres Badung, Ajeng kerap menjadi pelatih instruktur saat kegiatan Kenaikan Jasmani Berkala. Dan kadang - kadang menjadi asisten pelatih Polres Badung. Asyiknya menggeluti beladiri ini diungkapkannya memberikan banyak kelebihan. Selain kebanggaan atas prestasi – prestasi yang telah diukir.
“Kita belajar menerima kekalahan dan belajar menggunakan taktik - taktik yang telah diberikan. Juga buat jaga - jaga kalau digangguin sama orang,” ucapnya.
Diakuinya memang tak mudah mengukir prestasi apalagi di dunia bela diri. Sebab lawan yang dihadapi terkadang lebih senior dan memiliki taktik yang jitu untuk sekadar menumbangkan lawannya. Tak jarang latihan yang dipersiapkan lebih awal kemudian gugur hanya dalam satu babak pertandingan. Saat dimana ketangguhan, taktik dan mental diuji. Kena semprit wasit pun sudah biasa.
“Dulu sehabis ujian sekolah sempat hanya makan sedikit dan langsung mengikuti pertandingan karate Walikota Cup Denpasar. Saat di final lawan melakukan pelanggaran dan memukul dagu. Sehingga saya langsung jatuh. Kepala pusing, padahal poin sudah 6 : 1. Eh, yang memang justru lawan saya. Padahal poin saya 6,” jelas perempuan yang menyandang Dan 2 di karate ini.
Ajeng berpesan kepada generasi muda daripada menghabiskan waktu dengan hal - hal yang tidak berguna, lebih baik menggunakan waktu untuk menggali potensi diri masing – masing. Karena potensi dicapai bukan ditunggu. Kini Ajeng yang berkarir di Satreskrim Polres Badung juga sudah mulai bersiap - siap untuk mengikuti kejuaraan karate tahun depan di Padang Sumatera Barat. Ditengah – tengah tugasnya sebagai polwan, latihan rutinitas beladiri 2 minggu sekali, dan minimal 3 jam sekali dalam latihan.
Editor : I Putu Suyatra