Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Mistis Saat Penyidik Periksa Pacar Almarhum Gede Ari Artawan

I Putu Suyatra • Sabtu, 7 Juli 2018 | 17:40 WIB
Kisah Mistis Saat Penyidik Periksa Pacar Almarhum Gede Ari Artawan
Kisah Mistis Saat Penyidik Periksa Pacar Almarhum Gede Ari Artawan

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Genap sebulan jasad Gede Ari Artawan, 18, ditemukan membusuk di Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng. Namun, di tengah upaya pengungkapan misteri kematian almarhum, Kamis (7/6) lalu, ada kisah mistis dibeberkan Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Anak Agung Wiranatha Kusuma saat memeriksa pacar korban. Seperti apa?


Teka-teki kematian almarhum Gede Ari Artawan hingga kini belum terpecahkan. Kasus ini cukup menyita perhatian publik. Polisi memang sudah mengantongi hasil otopsi korban dari RSUP Sanglah. Namun, hingga kini penyebab kematiannya masih menjadi misteri.


 Tak dipungkiri, minimnya barang bukti yang menjadi petunjuk membuat polisi kesulitan mengungkap penyebab kematian pria asal Desa Tegallinggah ini. Polisi memang menemukan handphone milik korban di lokasi kejadian perkara. Hanya saja handphone tersebut dalam kondisi terkunci.


 Demi mendapat tambahan informasi, penyidik Polsek Singaraja pun menghadirkan pacar korban untuk menggali keterangan. Rupanya saat pemeriksaan yang dilakukan  Jumat (8/6) malam lalu,  ada kejadian mistis yang tak bisa dijelaskan secara logika.


 


Saat pemeriksaan terhadap pacar korban, kondisi ruangan cukup mencekam. Ruangan tempat penyidikan tiba-tiba mengeluarkan aroma harum semerbak. Meski saat itu di ruangan tak ada yang sempat menyemprotkan parfum.


“Beberapa penyidik sempat meyakini, jika itu adalah arwah korban yang hadir. Apalagi sebelum penyidikan dimulai, pacar dan penyidik sempat berdoa, agar almarhum bisa memberikan jalan sehingga pengungkapan bisa dilakukan,” ungkap Kapolsek Kota Singaraja Kompol Anak Agung Wiranatha Kusuma.


 “Ini memang di luar logika. Bahkan sejumlah penyidik mengaku ikut merinding bulu kuduknya,” sambungnya lagi, saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group) di ruang kerjanya, Jumat (6/7) siang, kemarin.


 Kompol Wiranatha menambahkan, saat penyidikan berlangsung tiba-tiba saja handphone milik korban yang sebelumnya mati terkunci, langsung bisa hidup dan terbuka. Padahal, rencananya handphone tersebut mau dibawa ke Polda Bali untuk dibuka oleh Tim Cyber. “Semua chat akhirnya bisa dibuka. Dari sana kami juga mendapat tambahan informasi” ucapnya.


 Rupanya, kejanggalan tak berhenti disana. Kompol Wiranatha menyebut tepat sekitar pukul 00.05 dinihari, pacar korban tiba-tiba menggigil. Bahkan, wajahnya terlihat ketakutan. “Penyidik kami sempat merasa khawatir. Memang ini tak bisa dipungkiri. Percaya atau tidak,” terangnya.


Ia pun meyakini bila arwah Gede Ari hadir di ruangan itu. Buktinya, penyidik sempat bertanya kepada pacar korban apakah merokok atau tidak. Dari penjelasan pacar korban, rupanya almarhum adalah perokok.


 


“Demi membuktikan hal itu, penyidik langsung menyalakan sebatang rokok. Anehnya yang membuat bulu kuduk kian merinding, rokok itu hidup terus. Seperti ada yang menghisap. Padahal kan kalau rokok tak ada yang menghisap, pasti mati,” kisahnya.


 


Dari hasil penjelasan pacar korban, Kompol Wiranatha membenarkan bila pacar korban dan almharum Gede Ari sempat pergi ke hotel di kawasan Lovina untuk berkencan sebelum korban tewas ditemukan di Pantai Penimbangan. Bahkan, secara blak-blakan pacar korban mengaku kepada penyidik jika dirinya saat ini dalam kondisi berbadan dua. Sejumlah data memang perlahan sudah didapatkan, namun belum bisa mengungkap total.


Di tempat terpisah, ayah korban Ketut Mariada hingga kini belum menerima hasil otopsi terkait kematian putra sulungnya. Kini ia dan keluarga tengah sibuk mempersiapkan upacara pengabenan yang akan dilaksanakan  20 Juli mendatang di Desa Adat Panji, Kecamatan Sukasada.


 


Dari pengakuannya, memang saat dilakukan Matuwun (menurunkan roh korban lewat orang pintar)  Minggu (10/6) lalu, sang anak tak terima dituduh melakukan bunuh diri. Tetapi justru konon dianiaya oleh dua orang pelaku dari luar desa.


 Dari hasil Matuwun tersebut, konon sang anak dibunuh di jalan. Artinya bukan di Pantai Penimbangan saat korban ditemukan membusuk di dalam mobil Daihatsu Ayla.


 “Katanya dibunuh di jalan. Dia distop oleh dua orang pelaku. Gede tidak menyangka orang itu akan mempermainkan dirinya. Nah setelah itu, mayat Gede mau dibuang di jalan, tetapi kembali dimasukkan ke dalam mobil,” tuturnya.


 


Meski mendapat petunjuk dari Balian, namun Ketut Mariada mengaku tetap menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian. Apalagi Mariada mendapat pesan dari almarhum saat Matuwun untuk bersabar dan tidak memendam dendam kepada pelaku, apabila berhasil diungkap oleh petugas.


 “Saat Matuwun Gede sempat bilang, agar kami juga tidak dendam. Katanya nanti setelah upacara Ngaben, pelaku akan terungkap. Disuruh sabar saja,” imbuhnya. Mariada berharap setelah pengabenan terhadap almarhum dilakukan, nasib malang yang menimpa putra sulungnya segera menemukan titik terang.


 Diberitakan sebelumnya, jasad almarhum Gede Ari ditemukan membusuk di dalam mobil Daihatsu Ayla putih di kawasan Pantai Penimbangan, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Kamis (7/6) pagi. Korban ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Matanya melotot dan jasadnya sudah mengeluarkan cairan.


 Dari hasil otopsi pihak RSUP Sanglah, menyebutkan ada sianida yang terdapat di dalam tubuh korban. Saat ini polisi tengah menyelidiki darimana korban mendapat sianida tersebut.

Editor : I Putu Suyatra
#buleleng