Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Sam Jay Gold; Dalang Amerika yang Piawai Mainkan Wayang Kulit

I Putu Suyatra • Kamis, 2 Agustus 2018 | 04:21 WIB
Kisah Sam Jay Gold; Dalang Amerika yang Piawai Mainkan Wayang Kulit
Kisah Sam Jay Gold; Dalang Amerika yang Piawai Mainkan Wayang Kulit

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Masyarakat Buleleng sepertinya akan dibuat penasaran menantikan penampilan Sam Jay Gold, 29, dalang asal Amerika Serikat yang pentas di Buleleng Festival, Minggu (5/8) mendatang. Bagaimana tidak, meski baru belajar memainkan wayang selama 5 bulan, namun Dalang Sam Jay Gold nampaknya begitu piawai memainkan wayang kulit yang tergolong sulit itu. Bagaimana kisahnya?


 


Dalang  berkebangsaan Amerika Serikat, ini sedang berlatih memainkan wayang kulit saat Bali Express (Jawa Pos Group) menemuinya, Rabu (1/8) siang di kawasan LC, Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng, Buleleng. Dalang Sam nampak piawai memainkan setiap karakter wayang kulit disertai warna suara khasnya.


 


Ya, Minggu (5/8) ini, Dalang Sam akan tampil perdana di ajang Bulfest. Dalang Sam mengaku sudah mempersiapkannya sejak lima minggu lalu. Mungkin akan menjadi tontonan yang baru, segar dan sekaligus langka. Maklum saja, penonton sudah terbiasa menyaksikan pementasan dari dalang lokal asal Bali. Namun jarang menonton pementasan Wayang Kulit dari dalang asal Amerika. Bisa jadi yang pertama kalinya. Apalagi saat pementasan nanti Dalang Sam akan berkolaborasi dengan Brothers Campur dan Dalang Sembroli. Layak ditunggu.


 


Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Dalang Sam berkisah tentang kecintaannya terhadap dunia wayang, khususnya wayang kulit. Bahkan, rasa penasarannya terhadap wayang kulit diawali saat dirinya mengikuti pertukaran pelajar di ISI Denpasar sekitar 2012 silam.


 


Kala itu, Dalang Sam belajar tentang wayang kulit gaya Sukawati dari Prof Sedana, salah satu dosen di ISI Denpasar. Selama lima bulan belajar, Sam pun perlahan-lahan menguasai trik memainkan wayang kulit, menyesuaikan dengan irama dan menyesuaikan setiap tokoh pewayangan dengan vokalnya.


 


“Jadi saya belajar sekitar lima bulan di Bali. Diajari oleh dosen Prof Sedana. Sulit sekali belajarnya,” ujar Dalang Sam dengan bahasa Indonesia yang cukup fasih.


 


Setelah menguasai cara memainkan wayang, Dalang Sam pun akhirnya unjuk kebolehan perdananya di ajang PKB tahun 2012 silam. Saat pentas perdananya itu, Dalang Sam mengambil lakon Arjuna “Alexander” Tapa. Pementasannya pun tergolong sukses dan mendapat sambutan hangat dari penonton.


 


Tak berhenti di situ. Kecintaanya akan wayang kulit ia wujudkan dengan belajar membuat wayang kulit. Dari sana Sam juga membeli wayang kulit untuk diboyong ke negaranya, Amerika Serikat.


 


“Saya suka koleksi wayang. Di Amerika saya punya banyak jenis wayang dari berbagai negara. Tapi wayang kulit paling unik dan sulit untuk dibuat. Pernah belajar buat wayang kulit dari kulit sapi di Amerika. Hasilnya tidak bagus,” akunya.


 


Dalang Sam tak menampik, memainkan wayang kulit adalah tersulit dibandingkan dengan jenis wayang lainnya. Sebut saja seperti Wayang Bonaku (Jepang), Wayang String, Maronet (Amerika) maupun  Wayang Golek.


 


“Pokoknya wayang kulit most difficult (paling sulit, Red) belajarnya. Sulit sekali. Everything. Ada Bahasa Kawi, Bahasa Bali. Karena saya bukan orang Bali jadi sulit belajar bahasanya. Sulit translatenya,” akunya sembari tertawa.


 


Selain terkendala bahasa, Sam juga mengaku kesulitan memahami karakter suara setiap tokoh pewayangan. Dia juga harus terbiasa memainkan kletokan menyesuaikan dengan irama gender.


 


“Saat belajar dari Prof Sedana, untuk uji cobanya, pernah kena api (lampu blencong, Red). Wah sempat panik. Tetapi sekarang sudah tidak lagi. Sudah biasa, tidak panas,” imbuhnya.


 


Lalu apa perbedaan memainkan Wayang Kulit gaya Sukawati dengan Buleleng. “Buleleng lebih powerfull dan improvisasinya lebih lugas dengan suara lebih keras. Kalau gaya Sukawati memang harus pakai skrip” paparnya.


 


Pada pementasan Bulfest nanti, Dalang Sam juga sudah mempersiapkan lakonnya yakni “Tole Wayang Aneh”, sebuah carangan yang diambil dari kisah Mahabharata. Saat pentas Dalang Sam akan dibantu oleh tiga orang rekannya yakni Ian Coss, Putu Rekayasa dan Made Panji Wilimantara yang tergabung dalam Sekaa Brother Campur.


 


Mereka juga akan berkolaborasi dengan Dalang Sembroli. Selain itu, pada pementasan nanti juga akan ditampilkan kolaborasi antara musik modern dengan musik tradisional (gender).


 


“Nanti ada musik modern seperti gitar, keyboard berkolaborasi dengan musik gender. Intinya ini adalah pertukaran Budaya. Jika wayang di Amerika seperti ini dikolaborasikan dengan Wayang Kulit Bali. Kami akan senang jika banyak yang nonton,” ujarnya.


 


Hal serupa juga diutarakan rekan senegaranya, Ian Coss, 30. Pria asal Boston, Amerika, ini juga lebih tertarik pada seni gamelan khas Bali. Dalam pementasannya bersama Dalang Sam saat Bulfest nani, Ian menjadi penabuh gendernya mengiringi rekan senegaranya memainkan wayang kulit.


 


“Kami akan pentas dalam satu grup Brother Campur. Rasanya senang bisa berkolaborasi memainkan wayang kulit, dan saya mengiringinya” singkatnya. 

Editor : I Putu Suyatra