Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kapten Dipta Sempat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional tapi Mandek

I Putu Suyatra • Senin, 16 Desember 2019 | 22:21 WIB
Kapten Dipta Sempat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional tapi Mandek
Kapten Dipta Sempat Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional tapi Mandek

GIANYAR, BALI EXPRESS – Pejuang asal Gianyar, Bali, Kapten I Wayan Dipta memang dianugerahi umur yang pendek. Ia wafat dalam usia belia, 20 tahun. Berbeda dengan sang adik laki-laki, I Made Djapa yang berusia panjang. Ia baru beberapa tahun lalu meninggal dunia dalam usia 83 tahun. Lantas, adakah yang meneruskan darah sang pahlawan tersebut?


Gugur muda, Kapten Dipta tidak punya keturunan, karena kala itu belum menikah. Selain Made Djapa, ia juga punya dua adik perempuan yang telah menikah ke luar. Namun, mereka juga sudah meninggal. Maka, yang meneruskan keturunan pahlawan itu tinggal anak-anak dari Made Djapa.


Mendiang yang juga veteran perang kemerdekaan tersebut memiliki empat orang anak, dari seorang istrinya, Ni Made Sekar yang sampai sekarang masih hidup. Terdiri atas tiga laki-laki dan satu perempuan. “Anak bapak Made Djapa yang pertama  itu Agus Gede Paramarta sudah meninggal dunia, dulu pegawai Pemkab di Dinas Pariwisata Gianyar. Kedua I Made Prasasta, pensiunan Pemda Gianyar juga di Dinas Lingkungan Hidup yang merupakan suami saya saat ini melanjutkan wirausaha. Yang ketiga dr. Nyoman Bagus Prayoga dulu jadi dokter spesialis bedah di Kendari, tapi sudah meninggal dunia juga di umurnya 59 tahun karena kanker paru. Sedangkan yang keempat Ni Ketut Sri Handayani tinggal di Denpasar saat ini masih menjadi guru dan bersama mertua,” papar Ni Wayan Suwatri, salah satu menantu Made Djapa.


Disinggung terkait perhatian dari pemerintah, pensiunan Pemkab Gianyar itu juga mengaku sementara ini belum ada yang istimewa dengan keberadaan sejarah pahlawan di Gianyar tersebut. “Dulu pernah rencananya dibuatkan patung, tetapi tidak jadi. Entah masalahnya apa. Tetapi pada Bupati Gianyar zamannya Cok Suryawan sudah dipakai nama stadion sudah bersyukur sekali. Meski sempat awal-awal belum populer, namun sekarang sudah mendunia, tidak menyangka sekali. Semoga dari sana leluhur kami selalu dikenang di dalam sejarah,” ungkapnya.



Kapten Dipta, Dulu Dikencingi lalu Dibunuh, Kini Namanya Mendunia


Rumah Pejuang Kapten Dipta Kini Ditempati Iparnya Berusia 90 Tahun


Kapten Dipta Ditembak di Jaba Pura, Kini Monumennya Minim Perhatian


 


Ni Wayan Suwatri menambahkan bahwa sampai saat ini Kapten I Wayan Dipta sepengetahuannya belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Hanya saja baru sampai pangajuan, dan mandeknya ia pun tidak tahu karena ia sendiri yang mengurus segala persyaratan dan kelengkapan segala macamnya. “Kalau tidak ada campur tangan dari pemkab ya memang susah, sudah berapa lama itu diajukan tetapi belum dietetapkan sebagai pahlawan nasional sampai sekarang. Kalau bisa agar ditetapkan segera,” harapnya.


 


Sedangkan disinggung profesi keturunannya sampai saat ini Suwatri menjelaskan rata-rata menjadi pengusaha. Mulai dari usaha kayu, furniture, dan berbagai usaha lainnya yang berhubungan dangan kewirausahaan. “Kalau keturuanannya sampai saat ini rata-rata jadi pedagang, ada juga pengusaha kayu,” tandasnya.


 


Pantauan koran ini, nampak rumah Kapten I Wayan Dipta bentuknya memanjang. Tediri atas bale dauh, bale daje, bale dangin, bale delod dan pemerajan. Tepat pada bale delodnya, tampak dipajang foto-foto pahlawan Kapten I Wayan Dipta dan keluargan hingga saudaranya. “Ini seperti mini museum lah, tetapi mertua saya yang perempuan (Ni Made Sekar) itu yang puya inisiatif dulu,” imbuhnya.


 


Suwatri menambahkan sesuai buku yang diperolehnya yang disusun oleh Prof Windia, Kapten I Wayan Dipta merupakan salah satu pahlawan dari 1.371 pahlawan yang   dikenal dengan revolusi fisik di Bali. Berasal dari Banjar Teges Kaja, Kelurahan Gianyar yang merupakan Komandan Pemuda Republik Indonesia Kabupaten Gianyar berusia 20 tahun .


 


Kapten Dipta wafat pada 12 April 1946, pasca kemerdakaan ia dikatakan sempat bergabung dengan tentara keamanan rakyat (TKR) yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai.  Hingga bergerilya mempertahankan NKRI ini yang dipecah belah oleh Belanda dalam bentuk perikatan.


 


Sehingga Kapten Dipta terkenal dengan keberaniannya, karena melawan pihak Puri Gianyar waktu itu yang berpihak kepada penjajah.  Yang membuat terkenal, yaitu tragisnya  ia gugur dalam usia 20 tahun dan disiksa oleh pemuda buatan Puri Agung Gianyar. “Padahal niatnya baik untuk mempertahankan NKRI, tapi malah dibilang mau merebut kekuasaan inilah itulah, tapi pandangan orang lain beda,” imbuhnya.  


 


Dilanjutkan, karena dia sangat muda dan terkenal kematiannya di Sukawati saat ditembak sekali beliau belum gugur. Bahkan malah berkata -kata kepada penembak dirinya tersebut.  Namun saat ditembak yang kedua kalinya baru ia gugur bersama dengan temannya bernama ketut lanus di Jaba Pura Dalem Gede Sukawati yang saat ini terdapat monumennya.


 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #gianyar