TABANAN, BALI EXPRESS - Pada musim penghujan seperti saat ini, masyarakat diminta waspada guna mengantisipasi terjadinya bencana alam yang tidak diinginkan. Masyarakat juga diimbau untuk tidak bermain-main di sungai mengingat arus sungai akan membesar saat hujan datang.
Peristiwa yang satu ini patut menjadi pelajaran bagi masyarakat agar tidak mencoba-coba bermain di sungai saat arus sedang besar. Dimana seorang pemuda nyaris tenggelam di Sungai Yeh Aya di Banjar Kebonjero, Desa Munduktemu, Kecamatan Pupuan, Tabanan. Beruntung nyawa pemuda tersebut masih bisa terselamatkan. Video peristiwa itu kemudian viral di media sosial setelah diunggah oleh
Sumber di lapangan menyebutkan sungai Yeh Aya sendiri memang dikenal merupakan sungai yang angker oleh warga setempat. Bahkan pada hari Jumat (15/1) lalu dua orang hampir tenggelam di sungai tersebut. Namun keduanya berhasil selamat berkat sebatang bambu. "Paginya ada anak SMA hampir tenggelam, lalu siangnya ada juga hampir tenggelam tapi keduanya bisa selamat," ujarnya.
Satu di antaranya adalah seorang pemuda bernama Gusti Made Erdi Mardiana, 24, atau yang akrab disapa Adjie Keparat. Ia nyaris tenggelam di sungai tersebut saat mandi bersama teman-temannya pada hari Jumat (15/1) sekitar pukul 13.30 Wita. Ia menuturkan jika sebelum kejadian dirinya datang ke sungai bersama teman-temannya berjumlah 7 orang yang terdiri dari orang dewasa dan anak-anak. Dan saat melihat arus sungai besar ia justru melompat ke dalamnya.
Sejatinya, sebelum melompat ia dan teman-temannya sudah berpikir jika arus sungai tersebut susah untuk di terobos. "Tapi apa daya adrenaline saya tidak bisa ditangguhkan, bukan belog ajum," ungkapnya.
Dan benar saja setelah melompat, tubuhnya pun tak bisa menahan arus air yang sangat kuat bahkan membentuk pusaran. Tubuhnya pun diputar-putar oleh air. Awalnya teman-teman Adjie menganggap hal itu lucu, bahkan ada yang mengambil video. Namun seketika mereka berubah panik saat menyaksikan Adjie hampir tenggelam.
"Teman-teman saya juga tidak ada yang bisa renang sehingga mereka tidak ada yang ikut nyemplung. Saking paniknya juga tidak kepikiran untuk ngambil kayu dan semacamnya untuk menolong saya," jelas pemuda asal Banjar Anggasari Kelod, Desa Munduktemu, Kecamatan Pupuan, Tabanan tersebut.
Akhirnya karena sudah lemas dan kehabisan nafas, dirinya pun terseret air menuju bagian bawah sungai, Adjie pun pasrah. Namun Tuhan berkata lain, tiba-tiba saja ada sebatang pohon bambu yang menyelamatkan nyawanya. "Percaya atau tidak, ketika saya terseret ke bawah itu, saya sudah dalam keadaan setengah sadar, dan ketika buka mata tiba-tiba sudah di bawah dan ada pohon bambu yang spontan saya ambil," tuturnya.
Ia pun bisa naik meskipun mengalami lecet pada pinggang dan kesleo. Pengelihatannya juga kabur dan badannya lemas. Sampai akhirnya ia diantar pulang oleh teman-temannya. "Lalu sore harinya orang tua saya dan beberapa keluarga datang ke lokasi untuk melakukan prosesi Nebusin," sebutnya.
Atas peristiwa tersebut ia pun mengaku bersyukur masih diberikan keselamatan. "Waktu kejadian yang ada di p;ikiran saya hanya kematian, tapi setelah saya selamat saya sadar kalau belum waktunya saya untuk mati. Dan saya akan lebih menghargai kehidupan," tandasnya.
Sementara itu, Bendesa Adat Kebonjero, I Putu Sukaarta menyebutkan jika Sungai Yeh Aya sehari-hari memang merupakan tempat pemandian warga setempat karena airnya tidak terlalu besar. Namun karena saat ini musim hujan maka air sungai pun besar dan arusnya pun kuat. "Kebetulan ada salah seorang anak yang mungkin tidak bisa berenang dan melompatnya ke pusaran air, sekarang kan musim hujan jadi arus sungainya besar," ungkapnya.
Ia pun menampik kabar jika sungai tersebut dikenal tenget, sebab warga sehari-hari biasa mandi dan mencuci di sungai tersebut.
Editor : Chairul Amri Simabur