Museum Lukisan Sidik Jari Ngurah Gede Pemecutan, Jalan Hayam Wuruk, Denpasar merupakan salah satu destinasi yang sangat layak dikunjungi. Di sana bisa dipelajari tentang teknik melukis yang diklaim pertama di dunia ini.
WIWIN MELIANA, Denpasar
SEORANG seniman sejati harus memiliki jati diri dalam mencipta sebuah karya seni. Prinsip inilah yang telah terpahat dalam benak I Gusti Ngurah Gede Pemecutan. Baginya, seorang seniman harus mampu meninggalkan ciri khas yang tidak dapat ditemukan pada seniman lainnya. Prinsip inilah yang dipegang teguh, Ngurah Gede Pemecutan sehingga menemukan teknik melukis yang tidak biasa.
Kecintaan terhadap seni lukis memang telah tumbuh sejak dirinya duduk dibangku sekolah dasar. Dengan belajar secara otodidak dan sering-sering bertanya kepada pelukis-pelukis senior, Ngurah Gede Pemecutan banyak mendapat bimbingan dan petunjuk dalam belajar melukis. Meski banyak belajar melukis dari pelukis senior, ia ingin lepas dari unsur-unsur yang diajarkan oleh pelukis seniornya. Hingga pada tanggal 9 April 1967 ia dapat menemukan teknik melukis hanya dengan ujung jari tangan kanan yang diberi dengan warna, dengan mencocokkan atau menyentuhkan ujung jari ini ke atas kain kanvas. Setiap titik-titik yang dihasilkan meninggalkan guratan-guratan sidik jari, maka lukisan itu disebut Lukisan Sidik Jari. Dirinya mengklain jika ia merupakan pelukis yang menggunakan teknik sidik jari pertama di dunia.
Gaya lukisan ini sebenarnya sama dengan aliran pointilisme Barat hanya menggunakan sidik jari atau ujung jari tangan. Pengerjaan lukisan ini sepenuhnya menggunakan sidik jari. Fungsi kuas hanya digunakan pada proses pewarnaaan kain dasar kanvas dan membuat transparansi warna. Perbedaan jauh dekat, cembung cekung, hanya dibuat dengan menggunakan permainan warna cerah dan warna gelap secara kontras.
Pria kelahiran 4 Juli 1935 ini menyebut jika penemuan teknik sidik jari tanpa disengaja atau suatu kebetulan. Teknik ini ditemukan akibat rasa kecewa dari seorang teman yang mengaku seorang pelukis dengan karya-karya dan sketsa yang diakuinya dari hasil karya seniman lain. Merasa curiga ia pun mengajak temannya melukis langsung dengan objek Pura Prajapati di Pantai Kuta. Ternyata lukisan langsung yang dihasilkan berbeda jauh dari sketsa dan lukisan yang ditunjukkan kepada. Merasa dibohongi, Ngurah Gede Pemecutan berniat ingin mendemontrasikan secara langsung di hadapan temannya.
Dengan perasaan kesal dan emosi, lukisan yang ingin dibuat tak kunjung jadi bahkan gagal. Akhirnya kuas pun ia taruh di atas meja, lalu ia gunakan jari-jari tangan kanan untuk mengaduk cat warna yang ada di atas palet. Dengan jari-jari yang penuh warna ini, dipoleskan dan disentuhkan di atas lukisan Tari Baris yang gagal tadi. “Setelah diperhatikan sentuhan jari yang berhamburan ini menurut saya memberikan dampak dan efek warna yang sangat bagus dan tertarik untuk melanjutkan kembali lukisan itu dan akhirnya menghasilkan sebuah lukisan Tari Baris yang sangat memuaskan diri saya,” ungkapnya.
BACA JUGA:
Mengulik Lukisan Sidik jari yang Diklaim Pertama di Dunia (2-Habis)
Dari lukisan Tari Baris ini timbul gagasan untuk membuat seluruh gambar hanya dikerjakan dengan sentuhan ujung jari. Dengan mencoba dan mencoba lagi, akhirnya dari eksperimen ini menghasilkan lukisan yang seluruhnya dikerjakan dengan ujung jari.
Sejak belajar melukis dari bangku sekolah dasar, SMP, SMA, hingga akhirnya menemukan jati diri dalam teknik melukis, Ngurah Gede Pemecutan memiliki ratusan koleksi dari hasil karyanya melukis. Ada dua prinsip dalam berkarya yaitu seni untuk hidup dan seni untuk seni. Seni untuk hidup dimaksud sebagian karya seni yang dihasilkan dijual dalam berbagai pameran maupun di galeri sebagai salah satu sumber penopang perekonomian. Sementara seni untuk seni ia maksud bahwa sebagian hasil karya yang dihasilkan harus disimpan sebagai pajangan. Maka ia memiliki idealisme membuat museum pribadi untuk menyimpan dan memelihara hasil koleksi lukisan miliknya. Akan tetapi jika hanya dinikmati untuk sendiri kiranya kurang bermanfaat sehingga timbullah keinginan untuk membuat museum yang dapat dibuka untuk umum.
Cita-cita untuk mendirikan museum akhirnya terwujud pada tanggal 4 Juli 1993 dan dibuka untuk umum pada tahun 1995 dengan jumlah koleksi sebanyak 200 buah baik lukisan, karya sastra maupun karya seni kria. Museum ini diberi nama Museum Sidik Jari Ngurah Gede Pemecutan karena sebagian besar koleksi yang tersimpan merupakan lukisan-lukisan dengan teknik sidik jari dalam pengerjaannya.
Museum ini merupakan museum swasta dengan swadaya murni yang beralamat di Jalan Hayam Wuruk 175, Tanjungbungkak, Kelurahan Sumerta, Kecamatan Kesiman Denpasar. Kelengkapan bangunan Museum Sidik Jari ini terdiri atas dua bangunan yaitu gedung utama dan gedung pertemuan. Gedung utama terdiri atas dua lantai. Lantai bawah dipamerkan koleksi karya Ngurah Gede Pemecutan secara kronlogis dari proses belajar melukis sendiri, saat sekolah hingga tidak melanjutkan sekolah.
Ruang tengah lantai I dipamerkan karya-karya saat belajar menggunakan cat minyak di atas kain canvas dengan gaya dan teknik naturalis, impresionis dengan objek manusia dan lingkungan sebagai eksperimen mencari identitas gaya dan teknis pribadi. Ruang terakhir di lantai I memamerkan teknik melukis dengan sidik jari pada tahun 1967 yang dikembangkan hingga saat ini. Sementara di dalam ruangan lantai II seluruhnya dipamerkan lukisan-lukisan dengan teknik sidik jari hingga perkembangan terakhir. Selain karya-karya lukisan juga dipamerkan karya pribadi berupa contoh yang dikerjakan pada waktu mengabdi di Kanwil Departemen Perindustrian Provinsi Bali.
Selain itu, museum ini juga dilengkapi dengan gedung wantilan yang dipergunakan untuk kegiatan serba guna, pertemuan, seminar, pameran, melukis dan pagelaran seni lainnya. Museum ini juga dilengkapi dengan panggung terbuka untuk penyelenggaraan pentas tari.
Museum Sidik Jari ini ungkap anak dari pasangan Anak Agung Gede Lanang dan Ni Gusti Putu Raka didedikasikan untuk kepentingan pendidikan dan keluarga. Guna menunjang penyelenggaraan pendidikan disediakan sarana dan prasarana berupa ruang belajar atau pertemuan, tempat latihan atau praktik, panggung terbuka untuk pementasan seni tari dan dan ruang pameran untuk seni rupa di balai wantilan. “Kelengkapan pendidikan seni rupa disediakan standar untuk melukis dan sketsel untuk pameran,” pungkasnya. (bersambung)
Editor : I Putu Suyatra