Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengulik Lukisan Sidik jari yang Diklaim Pertama di Dunia (2-Habis)

I Putu Suyatra • Rabu, 10 Februari 2021 | 19:09 WIB
Mengulik Lukisan Sidik jari yang Diklaim Pertama di Dunia (2-Habis)
Mengulik Lukisan Sidik jari yang Diklaim Pertama di Dunia (2-Habis)


Lika-liku kehidupan I Gusti Ngurah Gede Pemecutan hingga menemukan jati diri dalam berkarya tidaklah mudah. Masa-masa sulit dan kehidupan yang cukup keras telah dia lalui.



WIWIN MELIANI, Denpasar



Ngurah Gede Pemecutan sebagai pencipta lukisan sidik jari, dilahirkan dari pasangan Anak Agung Gede Lanang dan Ni Gusti Putu Raka. Sang ibu tercinta meninggal sejak ia masih berusia belia. Meninggalkan ia dan juga seorang adiknya. Tidak lama setelah sang ibu meninggal, sang ayah kembali menikah untuk ketiga kalinya. Dari pernikahan pertama sang ayah, ia memiliki enam saudara, kemudian dari pernikahan ketiga sang ayah ia memiliki delapan orang saudara. "Ayah saya menikah tiga kali, dan dari tiga orang ibu itu saya memiliki 15 orang saudara," jelasnya.



Dengan banyaknya saudara yang dimiliki, Ngurah Gede Pemecutan tidak menampik jika sejak kecil ia kurang perhatian dan kasih sayang. Terlebih setelah sang ibu meninggal kemudian disusul oleh sang adik. Keadaan ini membuat ia menjadi sosok yang mandiri dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri.



Ujian tidak cukup sampai disitu, sejak kecil hingga dewasa perkembangan pertumbuhan jasmani Ngurah Gede Pemecutan cukup sering mengalami sakit. Ketika masih mengenyam pendidikan di sekolah menengah pertama, sulung dari dua bersaudara kandung ini sempat menderita tipes hingga harus dirawat selama satu setengah bulan. "Setelah dirawat 45 hari akhirnya saya sembuh," kenangnya.



Setamat dari SMP, ia pun ingin melanjutkan ke jenjang SMA. Hanya saja dilema mulai bergejolak dalam jiwanya. Keputusan beratpun akhirnya ia ambil untuk melanjutkan pendidikan SMA ke Kota Malang. Pada waktu itu, di Denpasar belum ada SMA, sekolah menengah atas hanya ada di Singaraja. Ia pun mengurus pendaftaran hanya dengan teman-temannya tanpa disertai sang ayah.



Diterima di salah satu SMA di Kota Malang, ujian kembali ia dapatkan. Ketika duduk di bangku kelas XI ia kembali harus masuk rumah sakit. Kali ini ia dirawat cukup lama karena didiagnosa terserang penyakit paru-paru. Keadaan semakin getir dikala dirawat selama tiga bulan tak seorang pun keluarga yang menengok. Setiap hari ia harus menangis menahan sakit dan sedih karena merasa sendirian. "Setiap sore pasien di sebelah kiri dan kanan selalu ramai yang nengok tapi saya selalu sendiri, itu yang bikin saya sedih," ungakpnya.



Meski telah dikatakan sembuh, rupaya ia harus tertinggal pelajaran cukup jauh. Hal ini menyebabkan ia memutuskan kembali ke Denpasar untuk melanjutkan sekolah SMA Saraswati yang baru berdiri. Pendidikan SMA yang seharusnya diselesaikan selama 3 tahun akhirnya molor dan ia selesaikan selama 5 tahun.



BACA JUGA:


Mengulik Lukisan Sidik Jari yang Diklaim Pertama di Dunia (1)


Setamat SMA, ia pun ingin kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Kali ini ia ingin mengambil jurusan kedokteran. Cita-cita menjadi dokter muncul ketika ia sering jatuh sakit sehingga dengan ilmu yang dimiliki ia dapat mengaplikasikan dulu untuk dirinya sendiri. Rupanya keinginan ini harus ia kubur dalam-dalam, saat mendaftar ia tidak diterima karena pendaftaran telah ditutup.



Tidak berkecil hati, cita-cita lain yang ingin ia wujudkan adalah menjadi seorang pelukis. Kecintaanya terhadap seni lukis memang telah ada sejak kecil, bahkan nilai menggambarnya selalu memuaskan. Kembali kekecawaan harus dirasakan, keinginan untuk masuk jurusan seni rupa juga pupus karena ia terlambat untuk mendaftar. Akhirnya ia memilih jurusan biologi namun memutuskan untuk berhenti kuliah setelah dua bulan berjalan. Ia merasa jenuh dan tidak cocok dengan jurusan tersebut.



Semenjak itu, ia tidak pernah melanjutkan pendidikannya lagi. Justru ia ingin memperdalam ketrampilan melukisnya secara otodidak. Meski telah mendapat berbagai pengalaman kerja, akan tetapi dirinya selalu belajar melukis disela-sela waktu luang maupun ketika libur hingga dengan kerja keras dan ketekunannya ia berhasil menemukan teknik sidik jari dengan cara kebetulan.



Karya pertama yang dihasilkan dari teknik sidik jari adalah lukisan Tari Baris. Ini menjadi awal dari ratusan karya-karya yang telah mampu ia jual. Meski telah mengikuti berbagai pameran diberbagai event, dirinya bertekad tidak akan pernah menjual lukisan tersebut. Meski tidak pernah merasa risih disebut seniman komersil, akan tetapi ia tidak pernah berniat menjual lukisan pertamanya meski banyak orang yang mengajukan penawaran. "Lukisan Tari Baris ini penuh dengan histori dan ini menjadi cikal bakal berdiri museum Sidik Jari Ngurah Gede Pemecutan ini," ungkapnya.



Dalam melukis, Ngurah Gede Pemecutan juga melihat peluang karya-karya yang memang digemari oleh wisatawan mancanegara. Menurutnya, wisatawan yang berkunjung ke Bali selalu terkesan dengan budaya dan tradisi yang dimiliki orang Bali sehingga ia menjadikan tari-tarian sebagai objek lukisannya. Biasanya ia melukis objek tarian Legong, Baris dan lain sebagainya.


Meski telah memiliki museum dengan berbagai aktivitas seperti pameran tetap, pameran berkala, dan kursus, ia mengaku sedih karena sampai sekarang belum menemukan penerus pelukis dengan teknik sidik jari. Meski telah membuka kursus dan pelatihan melukis dengan membina siswa baik lokal maupun mancanegara namun ia mengaku belum menemukan karakter yang sesuai untuk meneruskan teknik sidik jari tersebut. Apalagi semenjak dirinya sakit, pembinaan tidak bisa dilakukan secara maksimal. "Padahal pembinaan telah saya lakukan akan tetapi belum menemukan orang yang benar-benar bisa menekuni teknik ini," tandasnya. (habis)


Editor : I Putu Suyatra
#bali #seni #denpasar #lukisan