Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tibor, Juru Parkir di Pantai Legian Duet dengan Dewi Persik, Menyusul Judika

I Putu Suyatra • Jumat, 21 Januari 2022 | 19:54 WIB
RAMAH: Tibor (kiri) saat memungut retribusi parkir dengan ramah dari pengunjung pantai Legian, Kamis (20/1). (PUTU RESA KERTAWEDANGGA/BALI EXPRESS)
RAMAH: Tibor (kiri) saat memungut retribusi parkir dengan ramah dari pengunjung pantai Legian, Kamis (20/1). (PUTU RESA KERTAWEDANGGA/BALI EXPRESS)
Di balik keindahan pantai Legian, ternyata ada sesorang yang menarik perhatian. Sosok ramah yang sangat murah senyum kepada setiap orang yang ditemui. Pekerjaannya memang sebagai juru parkir pemilik suara emas.

PUTU RESA KERTAWEDANGGA, Badung

DIA adalah Tibor Hamny Wijaya, 44. Pria asal Kabupaten Manggarai Barat, Flores.

Di lingkungan Desa Adat Legian, Kelurahan Legian, Kecamatan Legian, sebagian besar warga mengenalnya dengan nama Tibor Wijaya. Dari hampir keseluruhan pengunjung pantai Legian pasti menyapa Tibor. Pribadi yang murah senyum dan periang ini sukses membuat pria ini dikenal.

Selain sebagai orang yang ramah, Tibor memiliki suara yang merdu. Ia juga sangat fasih berbahasa Bali. Bahkan dari beberapa lagu yang ia sukai, salah satunya merupakan lagu Bali.

Namun di balik keceriaannya, Tibor ternyata memiliki cerita kelam. Sejak lahir ia menjadi yatim piatu, setelah orang tuanya meninggal. Akhirnya pria kelahiran 10 Oktober 1978 ini dititipkan di panti asuhan. Untungnya ada seorang Pastur yang mengangkatnya sebagai anak.

Tidak berakhir disitu, pria 44 tahun ini juga ditinggal menikah oleh pacar setelah 15 tahun bersama. Sebelum meminang wanita idamannya, Tibor harus menahan perih. Pasalnya setelah membayarkan mahar berupa kerbau senilai kurang lebih Rp 20 juta, ternyata sebulan sebelum menikah calon istrinya kabur dengan pria lain.

Tibor mengatakan, ia pertama datang ke Bali pada tahun 1994. Pertama kali datang pria asal Flores ini melamar pekerjaan di kantor Koran Nusa Bali. “Saya datang ke Bali pada bulan Juni 1994, kemudian bulan Oktober saya bekerja di Nusa Bali sebagai office boy,” ujar Tibor saat ditemui Kamis (20/1).

Setelah enam tahun bekerja, Tibor memutuskan untuk mencari pengalaman baru. Ia akhirnya belerja di Desa Adat Legian, sebagai tukang parkir. “Modal saya bekerja sampai saat ini hanya dari pergaulan, karena saya dengan siapa saja dekat, kemudian saya tanya-tanya ada mencari juru parkir atau tidak. Ternyata saya diterima,” ungkapnya.

Pihaknya pun sangat berterima kasih kepada Desa Adat Legian. Pasalnya selama 21 tahun masih diberikan kepercayaan. “Saya bekerja tidak melihat gengsi, yang penting pekerjaan itu halal,” katanya.

Menurutnya, pemasukan yang diterima sebagai tukang parkir tidak menentu. Lantaran dihitung dari banyaknya pengunjung yang datang. Kemudian desa adat akan memberikan gaji sesuai persentase. “Kalau dulu pertama kali bekerja Rp 2,1 juta kemudian meningkat menjadi Rp 3 juta. Tapi setelah pandemi Covid-19 penghasilan menurun,” terangnya.

Selain aktif bekerja, Tibor mengaku memang memiliki hobi menyanyi. Bahkan ia bercita-cita menjadi seorang penyayi terkenal. “Selain ingin jadi penyanyi saya juga punya cita-cita punya rumah di Bali,” ujarnya sembari mengatakan, saat ini tinggal di rumah kos Jalan Tukad Balian, gang 22 nomor 1, Renon.

Berkat suara emasnya, Tibor sampai viral di media sosial. Bahkan sampai diundang dalam salah satu acara televisi. Dalam acara tersebut, Tibor sempat duet dengan Dewi Persik.

“Ada tiga lagu yang saya nyanyikan. Selain itu saya juga bertemu dengan lima artis ibukota,” tuturnya seraya mengungkapkan, dalam waktu dekat akan berduet dengan Judika. Tapi ia merahasiakan waktu dan tempatnya.

Kehadiran Tibor juga mengundang keramaian di pantai Legian. Seorang pedagang Ngoman Werti menjelaskan, dengan adanya Tibor penjualannya mengalami peningkatan. Wanita yang sudah berjualan selama 2 tahun ini pun merasa bersyukur.

“Kalau tidak ada dia (Tibor) rasanya sepi sekali. Seperti kemarin ditinggal dua hari ke Jakarta jadi sepi. Biasanya pagi-pagi sudah ada yang belanja,” pungkas penjual nasi babi guling dan jajan Bali tersebut. (*) Editor : I Putu Suyatra
#Tibor