Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Cerita Komang Wira, Pedagang Gerabah yang Mantan Pekerja Pariwisata

I Putu Suyatra • Sabtu, 26 Maret 2022 | 23:25 WIB
GERABAH: Komang Wira saat menunjukkan salah satu kerajinan gerabah di warung miliknya, Jumat (25/3). (PUTU RESA KERTAWEDANGGA/BALI EXPRESS)
GERABAH: Komang Wira saat menunjukkan salah satu kerajinan gerabah di warung miliknya, Jumat (25/3). (PUTU RESA KERTAWEDANGGA/BALI EXPRESS)
Berkunjung ke wilayah Kelurahan Kapal, Badung, tak jarang akan menemukan penjual gerabah. Mulai dari jalan utama hingga memasuki gang kecil. Salah satunya Komang Wira, karyawan hotel yang kini banting setir menjadi penjual gerabah. Usaha turun-temurun keluarganya di Banjar Basang Tamiang, Kelurahan Kapal.

PUTU RESA KERTAWEDANGGA, Badung

SAAT ditemui belum lama ini, Komang Wira mengaku, jika profesi sebagai penjual gerabah ternyata baru digelutinya sekitar dua tahun. Sebelumnya ia merupakan karyawan swasta di salah satu hotel di Badung. Namun akibat pandemi Covid-19, maka ia memilih untuk berjualan gerabah, usaha keluarga yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Wira mengaku, kerajinan gerabah yang dibuat merupakan warisan nenek moyangnya. Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan alat upacara yang bertuliskan tahun 1960. Kerajinan tersebut pun merupakan gerabah sangat antik dan terhalus yang ia pernah lihat.

Usaha yang dilakoninya saat ini juga sudah berjalan berpuluh-puluh tahun lamanya. Ayah dari dua anak ini mengungkapkan, orang tuanya sudah berjualan selama 45 tahun.

“Dulunya ibu saya yang jualan sudah 45 tahun lamanya. Sekarang saya yang melanjutkan agar ada generasi penerus,” ujar Wira saat ditemui Jumat (25/3).

Untuk pembuatan gerabah, ternyata Wira tidak terjun langsung dalam setiap prosesnya. Karena istri dan iparnya yang ternyata menjadi eksekutor pembuat gerabah. Ia hanya menyiapkan bahan dasar yang dibeli dari pengepul.

Dulunya bahan dasar dari kerajinan ini biasanya dibuat sendiri. Karena dalam pembuatannya tidak hanya menggunakan tanah liat. Saat ini sudah ada penyuplai bahan dasar dengan harga yang murah. Selain menghemat biaya produksi, hal ini juga dapat mengurangi waktu pembuatan gerabah. Wira pun mengungkapkan, perbedaan bahan dasar ini sekaligus menurunkan kualitas gerabah tersebut.

“Kalau dulu sebelum membuat gerabah bahan dasarnya juga harus dibuat, mulai dari menyiapkan tanah liat, dicampur, dijemur, ditumbuk, dan dicampur dengan paras. Dua hari bahannya baru jadi, ditambah prose penjemuran dan pembakaran gerabah, maksimal satu gerabah baru bisa dijual setelah empat hari. Tapi sekarang sudah ada yang jual sekotak dengan harga Rp 5 ribu,” ungkapnya.

Menurutnya, dari warung Payuk Sari miliknya, kini ia menjual beberapa kerajinan gerabah. Mulai sarana upacara, pot bunga, celengan, dan yang lainnya. Harga dari setiap kerajinan tersebut pun berbeda-beda, tergantung dari kerumitan proses pembuatan. Untuk harga termurah, yakni Rp 5 ribu dan termahal Rp 200 ribu.

“Harga gerabah saya bervariasi, tidak melihat besar kecilnya, tetapi kerumitan proses pembuatan. Kalau yang termurah itu pot anggrek, dan termahal adalah pasepan naga,” terang pemilik Warung Payuk Sari di Jalan Widuri, Banjar Basang Tamiang, Kelurahan Kapal.

Ia menjelaskan, penjualan gerabah biasanya akan ramai pada Agustus sampai Oktober. Lantaran pada kurun waktu tersebut banyak upacara yang memerlukan sarana dari gerabah. Selain itu, pada waktu tersebut, ia juga sudah memiliki langganan yang akan datang setiap bulannya.

“Kalau langganan ada yang dari Negara, Bangli, Gianyar dan Klungkung. Biasanya mereka datang sebulan sekali membeli satu mobil pick up,” jelasnya.

Selama berjualan, Wira mengaku harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan lamanya saat bekerja. Namun ia sangat bersyukur di tengah pandemi Covid-19 usahanya mampu memberikan penghasilan yang cukup. Dalam sehari di waktu ramai ia mendapatkan omset berkisar Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Kalau dihitung selama sebulan, keuntungan bersih yang ia dapatkan mencapai Rp 15 juta.

“Saya sangat bersyukur usaha ini tidak pernah sepi, bahkan setiap bulannya di awal pandemi ada lima ribu pot anggrek yang laku terjual. Kalau pas ramai, apalagi ada upacara ngaben, sehari dapat omset Rp 3 juta sampai Rp 4 juta. Kalau dulu bekerja, paling cuma dapat Rp 7 juta sampai Rp 8 juta sebulan,” imbuhnya. Editor : I Putu Suyatra
#bali #gerabah #kapal #badung