Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Kinanti Praditha, Pramugari Asal Buleleng yang Pilih Pensiun Dini

I Putu Suyatra • Sabtu, 2 April 2022 | 01:14 WIB
Putu Ayu Kinanti Praditha (dok. Pribadi)
Putu Ayu Kinanti Praditha (dok. Pribadi)
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Profesi sebagai pramugari merupakan salah satu profesi yang diidamkan banyak kaum hawa. Betapa tidak, seseorang yang menekuni profesi ini tidak hanya bermodal fisik yang sempurna, namun juga harus memiliki wawasan yang luas dan fasih berbahasa. Putu Ayu Kinanti Praditha adalah salah satu pramugari pada maskapai Garuda Indonesia.

Namun belum lama ini ia memutuskan untuk pensiun lebih awal. Sebelum ia bekerja pada Garuda Indonesia, ia mengawali karir sebagai Personal Assistant to General Manager di Turkish Airlines (Jakarta). Kemudian berpindah ke Qatar Airlines lalu ke Garuda Indonesia hingga tahun 2021.

Perempuan 34 tahun ini berhasil melenggang menjadi seorang pramugari setelah ia mencoba melamar di Qatar Airlines. Kehidupan yang dijalani Kinanti sebagai seorang pramugari di maskapai bintang lima ini sangat disiplin. Semua pekerjaan dilakukan sesuai dengan jobdesk yang diberikan. Saat bergabung pada maskapai ini, ia harus menentap di kota Doha.

"Diterima di Qatar Air aku harus tinggal di Doha. Sampai disana ternyata panas sekali. Mikirnya udah gak bakalan betah. Tapi ya dijalani saja, jadi so far so good," ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Kikin ini mengisahkan saat ia landing di bandara Tripoli. Saat itu ia bersama 6 rekannya membawa penumpang yang merupakan warga Tripoli. Suasana saat itu menegangkan, sebab ketika pesawat Qatar Air mendarat, hanya terdapat dua pesawat. Sisanya bandara diisi dengan pesawat Herkules yang ukurannya sangat besar.

Di satu sisi terdapat mobil tank yang siaga di bandara tersebut. Di belakang pesawat terdapat benteng pertahanan yang dibuat menggunakan drum besar dan dikelilingi pagar kawat. Kikin yang saat itu baru pertama kali melihat situasi tersebut justru menganggap pemandangan itu keren.

"Pernah waktu itu pesawat herkules gede banget. Penumpang sudah ada yang heboh lihat itu, saya bilang itu keren banget. Tapi menegangkan memang.” kata dia, saat ditemui di rumahnya di Jalan Ngurah Rai Singaraja, Senin (28/3) siang.

Menjadi seorang pramugari tidak pernah ia impikan. Ia hanya ingin bekerja di kantor pemerintahan. Namun takdir membawanya ke jalan yang berbeda. Konon Kikin memiliki keinginan ingin keliling dunia, maka dari itu ia memutuskan bekerja pada Turkish airlines.

"Sebenarnya saya ingin jadi dokter seperti mama dan seperti kakek saya. Kalau gak kesampaian ya jadi pegawai imigrasi. Pokonya di pemerintahan. Sampai pernah ingin kerja di Trans Tv," terangnya.

Seiring waktu, 2 tahun berlalu bekerja menjadi pramugari Qatar Airways, Kinanti memutuskan untuk berhenti menjadi pramugari di Qatar Airways. Lalu ia pulang ke Singaraja, Bali. Kota kelahirannya. Ia kembali dari Doha saat berusia 25 tahun. Kemudian ia mengambil waktu untuk rehat sejenak.

"Mikir juga aku mau kerja apalagi karena saya rasa jadi pramugari di Qatar sudah cukup. Lalu saya masukkan lamaran ke Garuda Indonesia dengan tujuan melamar di back office. Bukan pramugari. Saya gak mau," tegasnya.

Lamaran yang dikirim ke Garuda Indonesia diterima. Namun sebagai pramugari. Singkat cerita Kikin akhirnya menerima tawaran itu dengan keinginan ia menjadi pramugari di Jakarta hanya satu tahun. Setelah itu ia pindah ke Bali pada tahun 2017.

Perjalanannya sebagai pramugari tidak serta merta berjalan mulus. Selalu ada yang mengganjal ketika ia mendapat jadwal terbang. Perasaan khawatir serta merasa bersalah terkdang muncul. Sebab ia tidak mendapatkan izin dari sang ibu untuk menjadi pramugari.

"Saya kan awalnya tidak direstui jadi pramugari sama mama, karena khawatir. Saya juga anak satu-satunya. Kalau lagi mendung pasti liatin langit, ada pesawat gak ya. Selama saya jadi pramugari mama pasti selalu baca berita kalau ada peristiwa tentang pesawat. Ya alasan keselamatan aja," tutur perempuan kelahiran 27 Juli 1988 ini.

Pekerjaan sebagai pamugari sangatlah berat. Tidak seperti yang dibayangkan kebanyakan orang. Kedewasaan, ketelitian serta kecepatan dalam merespon sesuatu sangat diperhatikan. Seorang pramugari harus tegas dan mampu menguasai situasi.

"Modal cantik saja tidak cukup. Harus punya pengetahuan yang luas dan bisa memberikan pelayanan yang maksimal. Karena yang kami jual adalah jasa," terangnya.

Ketika bergabung dengan Garuda Indonesia, keberuntungan seperti menghampiri Kinanti secara bergiliran. Yang paling mengesankan baginya adalah ketika menjemput 3 ekor Panda ke Cina. Panda itu akan dibawa ke Jakarta untuk dikawinkan. Kinanti terpilih menjadi crew. Penerbangan itu pun sangat ekslusif. Ketika landing di Indonesia pemerintah pun melakukan penyambutan terhadap para panda yang tiba dengan selamat. Begitu juga penumpang dan crew pesawat.

"Dan yang paling mengesankan itu waktu ke Cina jemput panda. Itu ada 3 panda. Lucu sekali. Saya pikir kayaknya crewnya dipilih. Jadi bagaimana nanti crew dapat menjelaskan ke penumpang bahwa mereka terbang bersama Panda. Karena di kursi penumpang ada attentionnya, bahwa mereka terbang bersama hewan yang dilindungi. Jadi crewnya harus aware. Walau dalam hati juga ikutan gemes lihat Panda," paparnya.

Keberuntungan lainnya yang dirasakan Kinanti adalah melakukan pelayanan di atas pesawat untuk tim audit (Skytrax). Tim audit tersebut adalah tim penilai bagi pelayanan maskapai. Kinanti kembali terpilih oleh kantor pusat bersama satu orang seniornya. Penerbangan dilakukan dari rute Bali menuju London. Terang saja kondisi itu sangat mendebarkan bagi Kikin sekaligus bangga karena dipercaya bisa melakukan pelayanan dengan baik untuk tim audit.

"Yang paling membanggakan itu dipilih untuk membawa penumpang yang orangnya itu adalah tim audit. Tugasnya menilai service dari penerbangan itu, mulai dari printilan pesawatnya sampai ke SDMnya. Jadi nganterin beliau dari Bali ke London. Itu sama ada dua orang sama seniorku. Kalau jadi mugari itu harus gercep. Tidak boleh klemer-klemer dan mengerti job desk yang berikan," tambahnya.

Kini aktivitas Kinanti lebih banyak di rumah serta menghabiskan waktu untuk lebih dekat dengan sang ibu yang merupakan pensiunan seorang dokter. Keputusannya untuk pensiun lebih awal didedikasikan untuk ibunya. "Terus bilang ke mama, kalau mau pensiun. Eh disambut dengan bahagia. Jadi saat ini aku memutuskan untuk cukup terbang, dan kembali di darat.” tegasnya. Editor : I Putu Suyatra
#pramugari #Putu Ayu Kinanti Praditha