Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jung Kumis Jalankan Praktik Terapi Reposisi Tulang dan Sendi

I Putu Suyatra • Rabu, 6 April 2022 | 05:33 WIB
KRETEK: Jung Kumis saat melakukan terapi reposisi tulang dan sendi di lokasi praktiknya di Biuang, Denpasar. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)
KRETEK: Jung Kumis saat melakukan terapi reposisi tulang dan sendi di lokasi praktiknya di Biuang, Denpasar. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)
Reposisi tulang dan sendi saat ini menjadi salah satu jenis terapi yang mulai dikenal di Bali. Karena saat ini sudah cukup banyak praktik reposisi tulang di Bali, setelah sebelumnya di banyak  platform media sosial sering dibahas mengenai praktik "Kretek Abal-abal" yang melibatkan banyak selebriti tanah air.

GUSTI AYU KUSUMA YONI, Denpasar

TERAPI Reposisi Tulang Belakang di Bali, I Dewa Agung Made Suryawan atau Jung Kumis, ketika ditemui di rumah sekaligus lokasi praktiknya di Jalan Tegal Sari nomor 52, Biaung Denpasar, menyebutkan terapi reposisi tulang dan sendi ini merupakan salah satu jenis terapi yang bermanfaat untuk meningkatkan pergerakan tulang dan sendi.

"Tujuannya, terapi ini adalah untuk mengembalikan kemampuan sendi agar bergerak seperti sedia kala, untuk mencapai tujuan tersebut, terapi ini dilakukan dengan memberikan tekanan terhadap sendi yang terdampak dan mengalami cedera," jelasnya.

Cedera pada tulang dan sendi ini dilanjutkan Jung Kumis bisa dialami oleh siapa saja, cedera bisa didapat karena aktivitas yang dilakukan. Misalnya mengangkat benda atau beban berat dalam jangka waktu yang lama, kebiasaan duduk yang terlalu lama sehingga mempengaruhi postur tubuh.

Kondisi cedera ini, menimbulkan rasa sakit, otot nyeri atau kaku, hingga masalah tulang belakang. "Bahkan jika sudah parah, kondisi ini bisa menimbulkan sakit pinggang yang parah, dan jika pada wanita akan mempengaruhi hormonnya sehingga menyebabkan menstruasinya yang tidak lancar," paparnya.

Lantas seperti apa proses terapinya? Proses terapi reposisi tulang belakang dimulai dari proses pelenturan tulang dan persendian yang akan direposisi. Setelah itu proses dilanjutkan dengan reposisi tulang dan sendi, selanjutnya adalah penguraian dan penyelarasan tulang dan sendi. Keempat tahapan ini adalah pakem yang harus dilakukan dalam praktik reposisi tulang dan sendi, sehingga nanti pasiennya tidak merasakan sakit atau cedera yang lebih parah.

Terapi reposisi tulang dan sendi ini menurut Jung Kumis bisa dilakukan kepada siapa saja sepanjang pasiennya tidak memiliki riwayat patah tulang, pengapuran tulang dan masih produktif. "Biasanya tindakan paling aman dilakukan kepada mereka yang berusia di bawah 50 tahun, sehingga terapi bisa maksimal," lanjutnya.

Selain untuk mengembalikan fungsi sendi, reposisi tulang dan sendi ini juga bisa menjadi salah satu terapi untuk  penderita scoliosis (tulang belakang melengkung). "Jika penderita datang diusia dini, atau dibawah 10 tahun, astungkara bisa disembuhkan, tapi jika sudah lewat 10 tahun, kemungkinan sembuh sangat kecil, karena kelenturan tulang dan sendinya sudah berkurang," tambahnya. (*)

  Editor : I Putu Suyatra
#bali #jung kumis #usada #terapi reposisi tulang dan sendi