Lontar Negarakertagama ditemukan di Puri Cakranegara, Lombok, lalu sempat dibawa ke Belanda. Dalam kesempatan kunjungan kenegaraan, Ratu Juliana mengembalikan lontar Negarakertagama kepada presiden Soeharto, pada tahun 1970-an. Sementara lontar Pararaton justru tidak pernah ke luar dari Indonesia sejak pertama kali diteliti. Anehnya, meski diteliti oleh orang yang sama, kedua lontar ini mendapat pandangan yang berbeda.
Dikutip dari kanal Youtube Jagad Mandala, lontar Pararaton diteliti oleh ahli bahasa kuno dan sejarah Agung Kriswantoro pada tahun 2009 dan diterbitkan oleh Weda Widya Sastra. Aksara yang digunakan pada lontar Pararaton adalah aksara Bali dengan Bahasa Jawa Tengahan. Bahasa Jawa Tengahan sendiri masih mengandung unsur Bahasa Jawa Kuno. Sementara bentuknya berupa gancaran atau prosa.
Menurut Filolog Agung Kriswantoro, dari sisi bahasa, lontar Pararaton mirip dengan karya sastra pada abad ke-16 lainnya seperti Tangtu Panggelaran yang merupakan karya sastra prosa menceritakan asal-usul Jawa yang kental dengan mitos dan diperkirakan ditulis pada abad ke-15 hingga abad ke-16.
Sementara Prof.Hassan Jafar seorang ahli efigrafi, yaitu ilmu yang meneliti benda-benda bertulis pada masa lalu. Beliau memperkirakan lontar Pararaton ditulis tak lama setelah 1403 caka atau 1481 masehi atau sekitar masa raja terakhir Majapahit yaitu Prabhu Girindra Warddhana. Prasasti Sidotopo atau prasasti Girindra Wardana yang dikeluarkan pada tahun 1408 Caka menjadi salah satu buktinya.
Pendapat Prof. Hassan dalam karya ilmiahnya tahun 1978 yang diterbitkan dalam buku “Masa Akhir Majapahit, Girindra Warddhana dan Masalahnya” juga menguatkan tulisan sejarawan Warsito S., dalam artikel yang berjudul “Benarkah Ken Arok Anak Desa”.
Sejarawan Warsito S., menilai, Pararaton ditulis dalam rangka manifesto politik Girindra Warddhana sebagai keturunan Ken Angrok.
Pendapat ini cukup bisa dipahami, karena jika menyimak isi Negarakertagama, Mpu Prapanca memberi puja-puji berlebihan bagi keturunan Ken Dedes dan Tunggul Ametung, seperti Kertanegara dan Wisnu Wardana. Bukan hanya dari sifat sastranya yang berbeda, namun juga dari cara kedua karya sastra ini menceritakan para leluhur Singasari dan Majapahit. Negarakertagama penuh puja-puji dan terkesan menyembunyikan aib, sementara Pararaton secara blak-blakan. Dengan demekian kedua karya sastra ini saling berhadapan, layaknya media oposisi di pemerintah.
Sayangnya, selain memiliki jarak waktu yang cukup jauh, pengkultusan Ken Angrok yang kental dengan mitos inilah yang menjadi kelemahan sebagai fakta sejarah. Pada bagian awal kisah Ken Angrok, nyaris tidak masuk logika manusia sehingga inilah yang kemudian hari menjadi perdebatan, utamanya dari para peneliti Belanda. Dari sisi akademik, kesaktian, kegaiban atau hal-hal yang sifatnya supranatural tentu bertentangan dengan kaidah-kaidah ilmiah. Maka dari itu, pada masa awal penelitian, Pararaton menjadi perdebat keras. Mereka yang terbiasa berpikir logis, tentu sulit menerima hal-hal supranatural itu sebagai fakta sejarah. Ada yang menuduhnya sebagai dongeng, namun ada pula yang menerima sebagian isinya saja.
Di kalangan sejarawan dan arkeolog Indonesia, Dr. Brandes adalah penyelamat dan peneliti Pararaton dan Negarakertagama. Lontar Negarakertagama ditemukan oleh Brandes di Puri Cakranegara, Lombok, berbeda dengan lontar Pararaton. Tiga kelopak naskah lontar Pararaton didapatkan Brandes di antara koleksi manuskrip-manuskrip kuno nusantara bersama berbagai prasasti di Museum Batavia saat pertama kali bekerja sebagai pegawai Bahasa di Hindia-Belanda.
Setelah melakukan penelitian terhadap Pararaton, Brandes kemudian meneliti Negarakertagama. Namun pada tahun 1902 Brandes berusaha menerbitkan Negarakertagama dalam versi cetak walau hanya sebagian. Sayangnya usaha penelitiannya terhadap Negarakertagama maupun Pararaton harus terhenti total karena terserang liver akut dan wafat pada usia 48 tahun. Ia kemudian dimakamkan di Batavia atau makam Belanda Tanang Abang, Jakarta. Makam Brandes berbentuk cukup unik karena berbentuk lingga seperti yang biasa terdapat di candi-candi Hindu.
Penelitian terkait Negarakertagama dan Pararaton pun dilanjutkkan oleh beberapa peneliti. Salah satunya adalah Agus Aris Munandar. Dalam artikelnya yang berjudul “Menafsirkan Ulang Riwayat Ken Angrok dan Ken Dedes dalam Kitab Pararaton” ia menuliskan Kitab Pararaton merupakan karya anonim yang ditulis dalam bahasa Jawa Tengahan. Kitab tersebut menguraikan kehidupan Ken Angrok serta raja-raja Singhasari dan Majapahit. Tulisan ini berusaha menjelaskan latar belakang mengapa cerita mengenai Ken Angrok itu mendapat porsi yang lebih besar dibandingkan dengan cerita mengenai kehidupan raja-raja yang lain. Melalui telaah tekstual terhadap Kitab Pararaton dan telah terhadap bukti-bukti arkeologis terkait, terlihat bahwa cerita Ken Angrok dalam kitab tersebut merupakan simbol penyatuan dua agama besar yang dianut oleh masyarakat Jawa Kuno: Hindu Saiwa dan Budha Mahayana. Simbolisasi agama Hindu-Saiwa itu terlihat dari uraian mengenai sosok Ken Angrok sebagai penjelmaan dari tiga dewa: Brahma, Siwa, dan Wisnu, sementara simbolisasi agama Budha Mahayana itu terlihat dari uraian mengenai sosok isteri Ken Angrok, yaitu Ken Děděs, sebagai putri tunggal Mpu Purwa, seorang pendeta Budha Mahayana. Sebagai implikasi dari penyatuan dua agama besar, beberapa candi yang mengandung semangat penyatuan tersebut, yang dikenal dengan candi Syiwa-Budha, dibangun pada masa Kerajaan Singhasari. Bentuk candi tersebut jelas tidak pernah terbayangkan ada sebelum masa Singhasari. Editor : Nyoman Suarna