Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Tradisi Sokok Setahun Sekali di Desa Pegayaman

I Dewa Gede Rastana • Senin, 10 Oktober 2022 | 02:02 WIB
TRADISI : Parade budaya dan tradisi Sokok di Desa Pegayaman. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
TRADISI : Parade budaya dan tradisi Sokok di Desa Pegayaman. (DIAN SURYANTINI/BALI EXPRESS)
SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suara Budrah mengalun dari Masjid Jami' Safinatusalam, Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada. Lantunan musik itu dimainkan oleh warga laki-laki desa Pegayaman. Meski hujan mengguyur, perayaan Maulid Nabi di desa tersebut tetap berlangsung. Peserta parade budaya pun tak mundur walau basah kuyup.

 

Saat Budrah dimainkan dibarengi dengan pembacaan ayat, hujan yang mengguyur seketika mereda. Percaya tidak percaya, Budrah di desa ini memiliki kekuatan yang tak biasa. Namun ketika parade akan dimulai, Budrah juga berhenti bersholawat. Saat itu hujan deras kembali mengguyur. Parade tak boleh batal. Panitia dan peserta tetap bersemangat untuk berkeliling desa.

 

Persiapan perayaan yang disiapkan selama lima bulan itu dipenuhi dengan suka cita saat puncak perayaan Minggu (9/10) siang. Parade budaya mengambil start dari depan masjid berkeliling hingga melakukan atraksi di depan Kantor Kepala Desa Pegayaman dan kembali ke masjid.

 

Dalam perayaan tersebut warga juga menyiapkan Sokok untuk diarak. Sokok merupakan karya seni warga desa Pegayaman. Sokok itu dibuat dengan bahan utama telur ayam. Telur-telur itu digantung atau ditusuk. Di bawahnya terdapat sebuah kotak yang berisi buah-buahan. "Sokok ini adalah kreasi seni dari desa Pegayaman yang menyadur seni budaya Bali seperti pajegan. Kalau di Pegayaman namanya sokok base. Kalau di Hindu diisi dengan buah serta daging kalau disini diisi telur, bunga dan buah. Itu yang disadur dari Bali. Yang kedua ada Soko grodog yang isinya full telur dan dibawahnya ada kotak yang diisi buah. Itu hanya ada setahun sekali," ujar tokoh masyarakat Desa Pegayaman, Ketut Muhammad Suharto, Minggu (9/10) siang.

 

Setelah Sokok itu diarak mengelilingi desa, seluruh Sokok yang dibuat oleh warga itu dibawa kembali ke masjid Jami' Safinatusalam. Telur-telur yang digantung pada batang pisang dengan hiasan sedemikian rupa itu dicabut lalu dibagikan kepada warga desa. Bagi warga yang turut menggotong hiasan Sokok, masing-masing akan mendapat 5 butir telur. "Bagi warga yang mau, disilahkan untuk mengambil telur dari Sokok itu. Tidak mau juga tidak apa-apa. Dan untuk yang bawa akan kebagian jatah masing-masing 5 butir. Telur-telur yang dipakai itu semuanya telur yang sudah direbus," tambahnya.

 

Sokok di desa Pegayaman pada saat Maulid Nabi bukan hanya sekedar kreasi seni semata. Tetapi merupakan simbol suka cita warga desa dalam merayakan hari Maulid Nabi. Disamping itu warga desa percaya, Sokok ini sebagai simbol kelancaran rejeki. "Setelah itu (sokok) diarak, wajib dibagikan ke warga. Kami yang mengambil atau meminta sokok itu percaya akan kelancaran rejeki. Rejeki kan tidak hanya berupa uang. Kesehatan, teman yang banyak, lingkungan yang baik, desa yang tenteram, itu semua termasuk rejeki," imbuhnya.

 

Menjelang puncak perayaan Maulid Nabi di desa Pegayaman, segala persiapan pun dilakukan. Sama halnya seperti umat Hindu, warga di desa itu juga melakukan penapean, penyajaan, penampahan, rahinan serta umanis. "Dalam perayaannya menggunakan sistem seperti budaya Hindu. Persiapannya lima bulan. Ini semua dari sodakoh atau dana punia dari masyarakat. Sodakoh itu kami pergunakan untuk kebutuhan perayaan," paparnya. Editor : I Dewa Gede Rastana
#desa pegayaman #setahun sekali #tradisi sokok #tradisi buleleng #parade budaya #buleleng