KUSUMA YONI, Tabanan
I Nengah Rahmandi Putra, 53, pemilik Warung Nasi Angin ketika ditemui di warungnya di Jalan Raya Denpasar Gilimanuk, tepatnya di Desa Sembung Merangi, Kecamatan Kerambitan Kabupaten Tabanan, menceritakam asal muasal kenapa warung makan miliknya dinamakan Warung Nasi Angin.
"Warung ini sekarang dinamakan Warung Nasi Angin, mungkin diambil dari nama bapak mertua saya, yakni An Gin, sebagai pendiri warung ini. Mungkin supaya lebih cepat menyebutnya maka nama An Gin kemudian dilafalkan sebagai Angin, jadilah nama warungnya adalah Warung Nasi Angin. Awalnya warung nasinya ada di Desa Meliling, tepat dipinggir jalan utama," jelasnya.
Seperti yang diceritakan Rahmandi Bapak Mertuanya lah yang mendirikan Warung Nasi Angin ini sekitar tahun 1960-an. Warung nasi ini, dikatakannya memang sengaja dibuka malam hari dengan sasaran pembeli adalah para supir truk yang melewati jalan Raya Denpasar Gilimanuk. Sehingga warung ini buka di malam hari sampai pagi hari.
Untuk menunya, Rahmandi mengakui jika menu dari Nasi Angin ini cukup sederhana, terdiri dari nasi putih, dendeng daging babi, daging babi sisit, mie goreng dan soto babi. "Dulu pada awal berdiri, Bapak mertua tidak menggunakan daging babi, tapi daging sapi, karena beberapa hal akhirnya daging sapi diganti dengan daging babi sampai sekarang," terangnya.
Yang menarik dari nasi Angin ini adalah, semua bahan yang digunakan untuk membuat lauknya adalah bahan segar, seperti daging babi yang digunakan diakui Rahmandi adalah daging babi yang disemblih pada malam sebelumnya. Karena menggunakan bahan segar, maka proses memasaknya dikatakan Rahmandi sudah dimulai sejak pukul 03.30 wita.
Proses awal dimulai adalah mengolah daging babi menjadi dendeng manis dan babi sisit serta membuat soto babi. Setelah pukul 08.00, proses menggarap daging sudah selesai, maka dilanjutkan dengan proses memasak daging dan nasi.
Setelah memask makanan sekitar pukul 11.00 persiapan buka warungpun dilakukan dan akhirnya pukul 12.00 atau pukul 13.00 warung nasi Angin sudah siap melayani pelanggan sampai pukul 22.00. Jam buka siang-malam diakuinya berlaku sejak masa pandemi.
"Untuk memasak lauk dan nasinya, kami masih menggunakan kayu bakar, kami masih mempertahankan cara memasak seperti yang dilakukan oleh orang tua kami. Sehingga rasa makanan yang kami jual tetap konsisten," ungkapnya.
Dalam satu hari, Rahmandi menyebutkan bisa menghabiskan sampai 15kg daging babi. Biasanya dikatakannya, daging babi ini selalu habis dalam satu hari. Untuk harga, Nasi Angin ini dijual dengan harga Rp 12 ribu per porsi dan pelanggan sudah medapat satu porsi nasi dengan kuah soto.
Rahmandi mengaku dalam meneruskan usahanya ini, dirinya memang tidak banyak melakukan perubahan dalam usaha warung makan ini. Termasuk jenis menu dan konsep pelayanannya, diakuinya masih sama.
"Saya tidak banyak melakukan perubahan dalam konsep pelayanan dan menu, seperti menu makanan, kami hanya menyediakan makanan utama dan minuman ringan, karen konsepnya adalah warung makan, jadi pelanggan yang datang mereka datang langsung makan setelahnya pergi, sehingga tidak ada budaya nongkrong disini," tambahnya.
Meski demikian, Rahmandi mengaku untuk kedepannya dirinya yang sudah meyerahkan pengelolaan warung makan Nasi Angin kepada kedua anaknya yakni Angga dan Anggi, ingin warung nasinya juga memiliki jenis menu lainnya.
Sehingga nantinya warung Nasi Angin bisa menjadi salah stu alternatif destinasi kuliner yang bis jug menyediakan tempat untuk bersantai dn nongkrong bagi pelanggannya. Editor : I Dewa Gede Rastana