Meski kontes bonsai di Kabupaten Tabanan sudah berakhir, namun penggemar bonsai tetap menjalankan hobinya memelihara bonsai. Walaupun tren pengadaan bonsai di kalangan bonsai saat ini sedikit bergeser.
Ketua Persatuan Pecinta Bonsai Indonesia (PBBI) Cabang Tabanan, I Wayan Supra Nanda, menyebutkan tren memperoleh bonsai saat ini sudah mengalami pergeseran. "Jika sebelumnya untuk mendapatkan bonsai banyak penggemar bonsai mencari di alam dengan cara mendongkel tanaman yang besar dan tua, saat ini aktivitas mendongkel ini sudah tidak dilakukan lagi," jelasnya Jumat (4/11).
Dikatakan Supra, mendongkel tanaman bahan baku bonsai sudah tidak lagi dilakukan karena aktivitas ini bisa merusak lingkungan. Dengan mendongkel pohon bahan baku bonsai yang sudah tua ini, lanjutnya, akan merusak struktur tanah, sehingga bisa menyebabkan terjadinya bencana seperti longsor dan banjir.
Selain itu, habitat asli dari bonsai di alam liar juga bisa hilang karena proses pendongkelan ini berpotensi memotong siklus perkembangbiakan bonsai di alam liar secara alami. Tren tidak lagi mencari bahan baku bonsai di alam liar ini sudah terjadi sejak akhir tahun 2018 lalu.
Lantas apa solusinya? Ditanya demikian kolektor bonsai yang tinggal di kecamatan Marga Kabupaten Tabanan ini mengatakan saat ini pencinta bonsai bisa mendapatkan bahan baku bonsai melalui cara budidaya.
"Budidaya yang dimaksud adalah mengembangkan pohon untuk bahan baku bonsai dengan beberapa cara, seperti stek cangkok atau membudidayakan bonsai dari bibitnya juga sekarang banyak dilakukan," lanjutnya. (gek/art)