Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rayakan Cap Go Meh, dari Lontong, Ayam, Koya hingga Tolak Bala

I Komang Gede Doktrinaya • Senin, 6 Februari 2023 | 16:55 WIB
CAP GO MEH : Perayaan Cap Go Meh di rumah Made Wahyuni. Suami Made Wahyuni sedang melakukan persembahyangan Cap Go Meh. Dian Suryantini/Bali Express
CAP GO MEH : Perayaan Cap Go Meh di rumah Made Wahyuni. Suami Made Wahyuni sedang melakukan persembahyangan Cap Go Meh. Dian Suryantini/Bali Express
BULELENG, BALI EXPRESS -Lima belas hari setelah merayakan Imlek, umat Tionghoa merayakan Cap Go Meh, yakni malam kelima belas untuk menghormati Dewa Tertinggi.

Ada pula yang memaknai Cap Go Meh sebagai perayaan doa untuk orangtua. Biasanya pada Cap Go Meh akan dilaksanakan festival lentera pada malam hari. Menu persembahan yang disajikan pada altar juga berbeda dengan Imlek.

Saat Cap Go Meh, persembahan daging seluruhnya menggunakan ayam. Masakannya berupa kare ayam, ayam bumbu rujak, telur. “Semuanya ayam, tidak ada yang pakai kaki empat,” terang Made Wahyuni sembari melipat kertas uang, Minggu (5/2) pagi di Kampung Tinggi, Singaraja.

Selain itu, masakan lainnya yang disajikan adalah koya. Ada koya kelapa, koya kedelai dan sambal kelapa. Yang tidak ketinggalan adalah lontong dan kue bantal. Lontong inilah yang menjadi makanan wajib.

Saat persembahyangan, lontong ini disajikan bersama dengan olahan daging ayam serta telur. Tidak lupa di atasnya diisi toping koya kelapa, koya kedelai dan dilengkapi sambal kelapa. “Kalau koya kelapa ini buatnya dengan kelapa parut, lalu dijemur dikasih bumbu lalu disangrai. Setelah itu diulek. Karena gak bisa diblender, sebab mengandung minyak. Kalau yang koya kedelai disangrai dikasih bumbu kemudian diblender atau ditumbuk. Kalau sambal kelapanya seperti sambal pada umumnya,” tambahnya.

Persembahan makanan saat Cap Go Meh ini mengadopsi budaya Jawa. Masakan berupa kare, opor hingga lontong sejatinya dipelopori oleh orang Jawa. “Ini mengadopsi budaya lokal. Kalau di keluarga kami masakannya seperti ini. Macam-macam, tapi ayam semua. Dan ada lontongnya. Wajib,” tegas Wahyuni.

Ragam menu masakan itu sejatinya dapat menjadi menu sehari-hari. Tetapi, bagi umat Tionghoa masakan itu hanya dapat dinikmati setahun sekali. “Ini hanya ada saat Cap Go Meh. Di rumah setiap hari belum tentu bisa makan ini, cuma setahun sekali. Ini ibaratnya seperti Lebaran Ketupat kalau di umat muslim. Sajiannya agak mirip. Ada lontong, kare dan opor,” kata dia.

Persembahyangan Cap Go Meh dilakukan di setiap rumah. Namun perayaan ini juga dilakukan di kelenteng. Usai melakukan persembahyangan di rumah, umat Tionghoa akan datang ke kelenteng untuk melakukan Ci Suak atau ritual tolak bala.

Ritual ini dilakukan oleh umat yang memiliki shio ciong atau kurang beruntung. Pada tahun 2023 yang disebut tahun kelinci ada 4 shio yang dianggap kurang beruntung atau ciong. Untuk ciong besar ada shio kelinci dan shio ayam. Sementara untuk ciong kecil ada shio tikus dan shio kuda.

 
Photo
Photo
Editor : I Komang Gede Doktrinaya
#cap go meh #imlek #Olahan ayam #Lontong dan koya #tolak Bala #umat Tionghoa #Ritual Ci Suak