Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Para Orang Tua Siswa di Bali yang Bangun Jembatan Sendiri karena Tak Mau Mewarisi Pengalaman Buruknya

Dian Suryantini • Sabtu, 2 September 2023 | 13:19 WIB
Warga dan beberapa siswa gotong royong membangun jembatan untuk akses ke sekolah mereka di SDN Ringdikit, Seririt, Buleleng, Bali.
Warga dan beberapa siswa gotong royong membangun jembatan untuk akses ke sekolah mereka di SDN Ringdikit, Seririt, Buleleng, Bali.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Pembanguan jembatan Sungai Saba di Desa Ringdikit, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng dilakukan swadaya masyrakat.

Ini dilakukan karena para orang tua siswa SDN 5 Ringdikit tidak ingin mewarisi kenangan buruk masa lalunya saat masih sekolah dulu.  

Berikut kisah pembangunan jembatan sungai Saba secara swadaya saat Bali sendiri mendapat banyak dolar dari wisatawan.

 Komang Arya, siswa kelas IV di SDN 5 Ringdikit tampak setia menemani ayahnya di pinggir sungai.

Arya menyaksikan proses pembuatan jembatan yang dilakukan oleh ayahnya Made Suardika.

Ayahnya tidak sendiri. Ada juga ayah dari teman-temannya.

Rumah Arya sangat dekat dengan sekolah. Hanya dipisahkan oleh sungai Saba yang memiliki aliran air cukup deras.

Tetapi akses untuk ke sekolah cukup jauh. Arya harus diantar oleh Made Suardika, ayahnya menuju sekolah melalui jalan lain. Jalan itu pun cukup jauh.

Biasanya, Arya dan teman-temannya pergi ke sekolah melalui jembatan gantung yang dibangun di bendungan Saba.

Namun sejak lama, Arya sudah tidak lagi lewat di jembatan itu.

Jembatan itu miring dan sudah rapuh.

Meski masih bisa dilalui, tetapi Made Suardika khawatir jika anaknya mengalami sesuatu yang tidak diinginkan.

Komang Arya lantas memutuskan berangkat sekolah dengan menyeberang sungai yang tepat berada di belakang rumahnya.

Setiap berangkat sekolah, Arya digendong oleh Made Suardika menyeberang sungai.

Sepatu dan celananya kadang dilepaskan dahulu saat menyeberang.

Saat tiba di seberang barulah sepatunya kembali digunakan.

“Iya, biar tidak basah kalau dipakai ke sekolah. Pagi-pagi diantar bapak nyeberang. Sama teman-teman juga,” ujar Arya, Jumat (1/9) siang.

Selain Arya, banyak siswa lain yang juga menyeberang sungai demi menghemat waktu. Mereka rela membuka pakaian dan sepatu sekolah agar tak basah.

Para orang tua terutama para ayah dengan sigap mengantar anak-anak mereka.

“Biasanya diantar sama ajik (ayah). Berangkat sekolah bersama-sama dengan kakak dan teman-teman,” ungkap Desak Komang Darmayanti, siswa kelas II SDN 5 Ringdikit.

Pengalaman akses yang dialami Komang Arya juga pernah dilalui ayahnya, Made Suardika.

Konon tahun 1984 saat ia mulai bersekolah, ia selalu menyeberang sungai Saba. Pakaian sekolah terpaksa dilucuti agar tidak basah.

“Baju saya buka. Buku saya junjung di kepala. Airnya dulu besar. Kadang ada yang hanyut bukunya,” tutur Suardika.

Dulu, ketika musim hujan tiba sungai Saba akan banjir.

Airnya meluber dan arusnya besar. Suardika yang notabene dari desa Lokapaksa itu terpaksa harus bolos sekolah. Ia dan teman-temannya yang dari desa tetangga itu tidak bisa menyeberang.

“Kalau sudah musim hujan itu, bisa bolos 15 hari. Karena hujan terus, banjir terus. Guru-guru syukurnya saat itu maklum. Jadinya tidak jarang ada teman-teman kami yang tidak naik kelas karena sering absen,” kata dia.

Masa lalu yang dilalui Suardika tidak ingin terulang pada anaknya. Begitu juga dengan anak-anak yang lain.

Suardika dan warga lainnya ingin agar pendidikan anak mereka lebih baik.

“Dulu kami sudah seperti itu. Kami ingin anak-anak kami tidak mengikuti jejak kam. Biar kami saja,” imbuhnya.

Semangat anak-anak untuk bersekolah ke SDN 5 Ringdikit itu menjadi motivasi warga.

Mereka lantas berinisiatif membangun jembatan agar anak-anak tidak lagi susah menyeberang menuju sekolah. Mulailah mereka bergerak menggalang dana agar Pembangunan bisa dilakukan.

“Kami bersama-sama membangun ini, agar anak-anak kami bisa lewat dengan nyaman. Sejauh ini dananya baru Rp 12 juta,” terang Koordinator Pembangunan Jembatan, Dewa Ketut Darmayasa.

Dana yang didapat dari hasil swadaya itu pun masih belum cukup. Mereka juga memanfaatkan material sekitar untuk pembangunan.

Batu-batu yang dipakai dasar diambil langsung dari sungai Saba. Begitu juga dengan pasirnya. Lantai jembatan sementara dibuat dari bambu yang diambil dari desa sekitar. Lalu, semen dan besi dibeli dari hasil menggalang dana. Pengerjaan kemudian dilakukan bersama orangtua siswa dari tiga desa.

“Yang banyak sekolah di sini adalah anak-anak dari Desa Ularan dan Desa Lokapaksa. Ada juga dari Desa Ringdikit. Ini untuk anak-anak kami, agar mereka tak susah, kasihan” imbuhnya.

Para orangtua siswa ini pun mengharapkan uluran tangan pemerintah maupun donator agar bisa membangun jembatan lebih layak.

Akses yang layak pantas didapatkan untuk para siswa agar nyaman menempuh pendidikan.

Akses yang dibuat ini juga tidak hanya menguntungkan bagi siswa, tetapi juga warga di tiga desa. Jembatan itu merupakan akses penghubung untuk warga sekitar.

“Demi perjuangan pendidikan mereka. Mereka pantas diberikan akses yang layak,” tegasnya.  

Editor : I Putu Suyatra
#bali #jembatan #seririt #Ringdikit #sd #buleleng