TABANAN, BALI EXPRESS - Ketersediaan tumbuhan bambu di lingkungan masyarakat, cenderung mendorong berbagai kreatifitas bersifat tardisional dan unik, salah satunya kerajinan tradisional Bali payung cukup.
Payung cukup adalah kerajinan tradisional Bali, yang muncul dari kesadaran inovasi masyarakat terdahulu dalam memanfaatkan berlimpahnya tumbuhan bambu.
Payung ini tidak saja dikenal dengan nama payung cukup. Beberapa desa kecil di wilayah hutan Batukau Tabanan, Bali juga akrab menyebut payung ini dengan nama “ikud”.
Hal itu diungkapkan oleh Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, Selasa (5/9).
“Kemungkinan, di wilayah lain juga dikenal dengan nama yang berbeda. Belum diketahui alasan penamaan payung cukup ataupun ikud terhadap kerajinan payung tradisional ini,” jelasnya.
Pemuda yang tengah menyelesaikan Pendidikan Doktornya di Universitas Hindu Negeri Bagus Sugriwa ini menambahkan, masyarakat saat ini, juga sering menamai payung tersebut sebagai “payung cobra”.
“Sebab, bentuk payung ini menyerupai bentuk kepala ular kobra yang sedang terdesak,” imbuhnya.
Dia memaparkan bahan pembuatan payung cukup terdiri dari bambu dan tali. Bambu menjadi bahan utama pembuatan payung ini. Jenis bambu yang dipergunakan adalah bambu tali (tiying tali).
Sebab, bambu tali dipandang memiliki kekuatan yang baik seperti tidak mudah patah (ngales), cukup lentur, dan mudah didapatkan. Khusus untuk pembuatan payung cukup, maka bambu yang dipilih adalah bambu tali berusia agak muda, tidak pecah, serta memiliki ukuran ruas cukup panjang (lambas).
Sementara itu, tali sebagai bahan pembuatan payung ini menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Masyarakat zaman dahulu, mempergunakan tali duk (tali dari ijuk) dan bun ata kedis (sejenis tumbuhan merambat yang hidup di semak-semak).
Namun saat ini, pengrajin payung telah mempergunakan tali berbahan plastik sebagai penguat payung cukup itu sendiri.
Cara pembuatan payung cukup tergolong rumit dan memerlukan waktu lama. Pengerjaannya perlu ketelitian agar menghasilkan payung cukup dengan fungsi maksimal.
Pertama, pengrajin mencari bambu dengan kualitas terbaik. Bambu yang didapatkan, kemudian dipotong pada masing-masing ruasnya. Bagian terluar (kulit) bambu dihilangkan untuk mencari atau menyisakan bagian dalam bambu (basang tiying).
Bagian dalam bambu yang disisakan cukup tipis agar mudah ditusuk, diikat, dan tidak berat jika dipergunakan.
Bagian dalam bambu tersebut kemudian dibelah, dibentangkan dan dijepit, sehingga menghasilkan lembaran-lembaran basang tiying (bagian dalam bambu).
Bagian dalam bambu yang telah menjadi lembaran, selanjutnya dijemur dengan tujuan menghilangkan kadar air pada bambu.
Setelah kering, lembaran-lembaran bagian dalam bambu tersebut dirangkai dan diikat sedemikian rupa, hingga menghasilkan payung cukup yang siap dipergunakan.
Pengrajin juga wajib memastikan agar bekas tusukan pada lembaran bambu telah tertutupi dengan baik, sehingga air tidak masuk.
Zaman dulu payung cukup lebih banyak difungsikan sebagai pelindung diri ketika hujan. Sebab bentuk payung yang sekilas seperti kepala ular cobra dapat melindungi kepala, punggung, hingga bagian bawah dubur dari hujan.
Meskipun tidak memiliki fungsi maksimal sebagaimana jas hujan saat ini, namun payung cukup ini dapat membantu melindungi petani dari hujan ketika melaksanakan beberapa aktivitas di sawah maupun ladang.
Sehingga aktivitas bertani tetap berjalan dengan baik. Sejatinya, payung cukup ini juga dapat melindungi diri dari terik matahari. Namun penggunaan payung cukup untuk melindungi diri dari terik matahari jarang dilakukan, karena memunculkan aura panas ketika berada di bawah terik matahari.
Keberadaan payung cukup ini kemungkinan tersebar di beberapa wilayah Bali. Penyebarannya tentu dipengaruhi oleh aspek geografis, ekologis, dan budaya masyarakat.
Wilayah dengan curah hujan tinggi, ketersediaan bambu banyak, serta kebiasaan masyarakat dalam mengolah bambu sebagai peralatan hidup tentunya mempengaruhi penyebaran payung tradisional ini.
Sampai saat ini, penyebaran payung cukup saya temukan pada beberapa desa di lingkar pegunungan Batukau seperti di Banjar Anyar Kecamatan Penebel dan desa-desa tua di wilayah utara Kecamatan Selemadeg Tabanan. Besar kemungkinan juga ada di daerah dengan kondisi yang sama dengan lingkar Batukau seperti di wilayah Bangli dan daerah lainnya.
Editor : I Putu Suyatra