TABANAN, BALI EXPRESS - MK Keramik, inisiatif dari Nyoman Agus Saputra yang berusia 26 tahun, adalah salah satu Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Kabupaten Tabanan, Bali, yang mengkhususkan diri dalam produksi dan penjualan produk keramik, terutama peralatan makan (Tableware) dan perlengkapan dekorasi.
Tak hanya di Bali, produk-produknya telah berhasil merambah pasar ekspor, termasuk hingga ke Canada. Bagaimana ceritanya?
Saat ditemui Minggu (17/9) di rumah produksi MK Keramik di Banjar Pekilen, Desa Selanbawak, Kecamatan Marga, Agus menceritakan bahwa awal perjalanannya dalam bisnis keramik ini terpengaruh oleh pandemi Covid-19 yang memaksanya untuk "libur" selama enam bulan.
"Sebelum pandemi, saya sudah menjual keramik, tetapi saya membelinya dari pengrajin dan menjualnya di toko saya di Canggu. Namun, ketika pandemi datang, toko harus tutup dan saya tidak bisa berjualan selama enam bulan," ungkapnya.
Setelah toko keramik yang sudah dibuka sejak tahun 2017 ditutup, atas saran dari kakak perempuannya, Ni Luh Rai Trisnayanti, Agus memutuskan untuk mengikuti kursus pembuatan keramik.
Setelah mempelajari teknik dasar pembuatan keramik, Agus dan kakaknya memutuskan untuk memproduksi sendiri keramik yang akan mereka jual.
Di awal produksi, Agus menghadapi banyak masalah, mulai dari keramik yang pecah selama proses pembakaran hingga bentuk dan warna yang tidak sesuai.
Meskipun menghadapi kerugian besar akibat biaya bahan baku dan proses pembakaran yang mahal, Agus dan timnya tidak pernah menyerah.
"Kami tidak pernah menyerah, kami terus mencoba, dan setelah menguasai tekniknya, akhirnya kami dapat memproduksi keramik dengan kualitas yang kami inginkan dan menjualnya di pasar," tambahnya.
MK Keramik menghasilkan berbagai jenis produk, termasuk cangkir, piring, vas, dan lainnya. Selain menggunakan komposisi warna yang menarik, keunikan produk keramik MK Keramik adalah penggunaan relief dan ukiran khas Bali.
Penggunaan ukiran Bali bertujuan untuk memperkenalkan budaya khas Bali ke seluruh dunia.
"Melalui produk ini, kami ingin budaya Bali dapat diaplikasikan dalam berbagai jenis kerajinan," kata Agus.
Awalnya, produk Tableware mereka diminati oleh kafe dan restoran di Bali, tetapi seiring dengan perkembangan gaya hidup yang lebih suka menggunakan keramik, pesanan tidak hanya datang dari Bali, tetapi juga dari luar Bali, seperti Surabaya, Jakarta, Bandung, Labuan Bajo, dan bahkan pasar ekspor seperti Turki, Canada, dan Australia.
Dalam satu bulan, MK Keramik dapat memproduksi hingga 500 produk Tableware dengan beragam komposisi warna.
Harganya bervariasi mulai dari Rp 30 ribu per unit hingga ratusan ribu per unit, tergantung pada tingkat kesulitan dan lamanya proses pembuatan keramik.
Dengan angka penjualan seperti itu, Agus mengatakan bahwa mereka mampu mencapai penjualan hingga Rp 50 juta per bulan.
Tentang bahan baku, Agus mengungkapkan bahwa MK Keramik saat ini menggunakan bahan baku yang sebagian didatangkan dari luar Bali dan sebagian lagi dapat ditemukan di Bali. Proses pengovenan keramik dilakukan dengan menggunakan oven khusus selama lebih dari 18 jam.
Untuk rencana jangka panjang, Agus mengungkapkan bahwa mereka ingin mendaftarkan produk MK Keramik ke lembaga Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sehingga produk MK dapat mendapatkan perlindungan atas kekayaan intelektualnya.
"Saat ini kami sedang dalam proses pendaftaran," tambahnya.