DENPASAR, BALI EXPRESS - Nasi djenggo atau yang juga disebut nasi jinggo, merupakan ‘nasi kucing’ ala Bali. Kuliner satu ini umumnya disajikan menggunakan daun pisang, dibentuk menyerupai segitiga.
Kuliner khas Bali ini, berisi lauk-lauk ala kadarnya sebut saja suwiran ayam, tempe, potongan telur, mie goreng, saur atau serundeng. Ada juga berisi daging sapi, hati ayam, cumi, hingga daging babi.
Sebungkus nasi jinggo dijual dari harga Rp 5.000 saja. Pedagang nasi jinggo di Bali bisa jamak ditemui di pinggir-pinggir jalan.
Terkait sejarahnya di Bali, nyatanya masih simpang siur. Namun belakangan, postingan akun Facebook Chef Bloem yang diunggah tahun 2018 lalu kembali viral di sosial media.
Pada postingannya, ia mengisahkan cikal bakal nasi jinggo, yang mana pencetus pertamanya yakni ibundanya sendiri.
Pria bernama lengkap Henry Alexie Bloem ini menuliskan, pada tahun 1970’an, sang ibu mulai menjual nasi bungkus dengan tiga pilihan lauk.
Mulai dari lauk dengan daging ayam, daging sapi, dan daging babi. Ibunya mulai berjualan mulai pukul 07.00 Wita di Pelabuhan Benoa saat itu.
Yang mana, konsumennya merupakan sopir-sopir mobil tangki Pertamina, para pekerja di pelabuhan, dan para pemancing yang saat itu mengisi perut di pagi hari.
“Penjual nasi yang bekerja pada ibu saya saat itu menjajakan nasi bungkusnya dengan berkata “Nasi Men Djenggo”. Kenapa disebut nasi Men Djenggo? Karena pada saat itu ayah saya (ayah saya kelahiran 1924, keturunan Belanda dari papahnya Belanda dan mamahnya Betawi. Ayah saya seorang pensiunan TNI dengan pangkat terakhir Kapten yang saat mudanya turut berperang dijaman itu) adalah penggemar film cowboy Django yang saat itu diperankan oleh Franco Nero.
Saking sukanya dengan film tersebut saya yang masih bayipun (saya lahir tahun 1968) sering dininabobokan oleh ayah dengan nyanyian" Djenggo jago tembak… Djenggo jago tembak…” tulisnya dalam postingan Facebooknya yang telah dibanjiri ratusan komentar.
Karena itulah, pria yang berprofesi sebagai chef ini menjelaskan, tetangga dan saudara-saudara di sekitar rumah sering mendengarnya. Sejak saat itu, ia mulai dipanggil Djenggo.
Diakuinya, hingga saat kini pun kalau ia pulang ke rumah ibunya, ia akan dipanggil demikian.
“Semua saudara-saudara dan tetangga saya masih memanggil saya Djenggo, (Rumah asli saya di desa Sesetan, Banjar Kaja) sehingga ibu saya pun dipanggil Men Djenggo,” sambungnya.
Nasi Men Djenggo saat itu dijual dengan harga di bawah Rp 80 per bungkus. Harga yang amat murah jika dibandingkan dengan saat ini.
Henry menyebutkan, Men Djenggo saat itu sudah membuat rata-rata perhari 300 hingga 500 nasi bungkus.
Bahkan sering hingga 1000 bungkus dikarenakan adanya pesanan dari kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Benoa saat itu.
Lebih dari 10 tahun berjualan nasi bungkus hingga tahun 1982, sang ibu akhirnya berhenti berjualan nasi bungkus. Hal ini dikarenakan harus mengabdi dalam ajaran agama Hindu.
“Beliau harus Ngiring menjadi Mangku, sehingga aktivitas membuat dan menjual nasi bungkus berhenti. Dan kemudian sekitar tahun 1984an munculah nama Nasi Djenggo di Denpasar di depan Pasar Badung,” tutur pria yang kini tinggal di Netherlands ini.
Hingga saat ini, dikatakannya, beraneka ragam jenis Nasi Djenggo yang dijual dan menjadi makanan khas di Denpasar dan Bali umumnya.
Ia pun mengaku bahwa saksi hidup cikal bakal nasi jinggo yang dicurahkannya di Facebook masih hidup hampir semuanya.
“(Saksi hidup masih ada hampir semuanya, bagi yang berkeberatan dengan cerita ini bisa mengubungi saya) @henryalexiebloem #chefbloem #nakbali #kokigaul #chef #sejarah #sejarahbali #presidentica #sejarahnasidjenggo #nasidjenggo #nasidjinggo #Bali #denpasar #denpasarheritage #memories #history #sejarahindonesia,” tulisnya mengakhiri ceritanya.
Editor : I Putu Suyatra