SINGARAJA, BALI EXPRESS – Suara rantai sepeda beradu. Debu dan keringat menyatu. Panas matahari terhempas hembusan angin yang tipis. Sesekali jambul bocah 12 tahun itu terbang menyingkap dahi yang penuh buliran keringat.
Ia tetap berupaya mengayuh sepedanya dari utara ke selatan. Dari selatan ke utara. Rafa, begitu orang sering menyapanya. Bocah SDN 1 Kaliuntu ini setiap hari mengadu nasib di jalanan Kota Singaraja. Keranjang berwarna biru terikat erat di belakang sepeda. Dalam keranjang itu ada buah semangka, buah melon dan kacang rebus. Semuanya terbungkus dan dijual Rp 2.000,-
Setiap hari Rafa menjajakan buah-buah itu kepada orang-orang yang dijumpai. Rasa malu ia hempas jauh-jauh. Rasa berat hati juga ia jaga dengan baik ketika dagangannya ditolak pembeli. Ia tidak marah. Justru ia berpikir jika orang tidak membeli maka rejekinya bukan berada pada orang tersebut.
“Kan jualannya halal. Tidak apa-apa, yang penting sudah berusaha,” ujar pemilik nama lengkap Mahendra Rafa itu sembari tertunduk, Jumat (24/11).
Sebelum berangkat jualan, Rafa harus sekolah terlebih dahulu. Sepulang sekolah bocah kelas 6 itu harus membantu kakeknya untuk mempersiapkan buah-buah yang akan ia jual. Rafa tidak sendiri. Kakak perempuannya, Karla Angelita Claudya yang kini kelas 2 SMP juga melakukan hal yang sama. Kedua kakak beradik ini kompak menyusuri jalanan kota untuk mengais rupiah.
“Iya, jualannya sama kakak. Buat bantu kakek. Kami cuma tinggal sama kakek,” ungkapnya lirih.
Ya, Rafa dan Karla saat ini hanya tinggal bersama kakeknya di Kelurahan Kampung Anyar, Singaraja. Ayahnya meninggal karena sakit saat mereka masih kecil. Ibunya pun telah menikah lagi. Sementara sang nenek juga telah meninggal. Terkadang, sang ibu datang untuk menjenguk mereka. Kakeknya terpaksa harus mengurus dua cucu yang masih bersekolah.
“Bapak perginya karena batuk. Jadi sekarang bantu kakek cari uang. Uangnya buat bekal sekolah, bayar keperluan sekolah sama kebutuhan di rumah juga,” tuturnya.
Sehari-hari Rafa dan Karla mengayuh dari rumahnya menuju Taman Kota Singaraja, GOR Bhuana Patra Singaraja sampai ke Pelabuhan Tua Buleleng. Meski telah bekerja keras, nasib mujur tidak selalu berpihak pada Rafa dan Karla. Jika sedang beruntung, ia bisa mengantongi Rp 200 ribu dengan keranjang kosong saat kembali pulang. Terkadang buah yang ia jual tidak laku sama sekali. Terpaksa harus ditorok.
“Sehari dikasih Rp 20 ribu sama kakek buat bekal sekolah. Sisanya kasih kakek buat modal jualan lagi. Kalau jualannya tidak habis dikasih Rp 15 ribu. Kalau tidak habis ya ditorokin jualannya,” kata dia.
Rafa yang masih belia itu sangat menyayangi kakeknya. Sebab dialah satu-satunya tempat Rafa bersandar saat ini. Saat jualannya tidak laku, ia kerap merasa bersalah. Tetapi ia selalu dikuatkan oleh kakek dan keadaan. Pernah suatu ketika Rafa terpaksa harus pulang. Buah di keranjangnya masih tersisa banyak. Hatinya bergejolak. Beruntung sang kakek juga memaklumi kondisi cucunya itu.
“Pernah waktu jualan di Taman Kota, baru laku sedikit. Kakinya sakit seperti kram gitu jadi langsung balik pulang. Saat itu dagangannya masih 40 bungkus, masih banyak,” tutupnya. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana