SINGARAJA, BALI EXPRESS - Tangan Wikrama begitu cekatan. Sesaat memegang alat air brush, sesaat lagi berganti alat lain. Dengan sekejap sebuah souvenir atau cinderamata selesai dibuatnya.
Gede Wikrama Putra Setia Diana merupakan pemuda asal Desa Kubutambahan, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali.
Sejak tahun 2027 silam pemuda asal Bali Utara ini berteman dengan sekam padi, kayu-kayu dan peralatan bengkel lainnya.
Kegiatannya adalah membuat kerajinan berbahan limbah padi. Produk yang dihasilkannya pun tergolong apik dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Kualitasnya berani diadu.
Produk yang dibuat Wikrama itu menggunakan sekam padi yang diubah jadi dedak.
Kemudian diolah kembali dengan mencampur resin, nano komposit, hingga Jerami. Setelah tercampur, bahan itu kemudian dibentuk sesuai pola yang diinginkan.
“Biasanya itu buat plakat dan kerajinan seperti patung kecil,” ujarnya, Senin (3/12) pagi.
Ide pembuatan kerajinan ini didapatkannya saat ia masih kuliah.
Ia bersama dosen dan beberapa rekannya membuat sebuah penelitian dan menghasilkan produk.
Ketika ia lulus, penelitian tersebut akhirnya dikembangkan oleh Wikrama di rumahnya.
“Hak patennya ada di dosen saya. Tetapi daripada patennya tidak berjalan, saya yang jalankan. Sudah diberikan ijin juga,” kata dia.
Dalam sehari Wikrama mampu memproduksi 15 buah plakat, 5 buah patung serta 10 buah souvenir lainnya.
Seluruh produk yang dihasilkan menggunakan bahan serta metode yang sama.
Dengan bahan tersebut, Wikrama kini mencoba membuat peralatan dapur. Diantaranya, piring, mangkuk, sendok hingga garpu. Disamping itu, ia juga membuat set meja untuk cafe.
“Untuk peralatan dapur sekitar 500 buah mangkuk dan piring dengan berbagai ukuran. Bisa sampai 700 buah juga. Ini permintaannya juga cukup tinggi,” ujar Wikrama.
Untuk pemasaran produk olahan Wikrama itu kini sudah sampai ke Skotlandia. Terutama untuk peralatan dapur.
Kendati demikian, produk yang dikirim Wikrama masih dalam jumlah terbatas.
“Baru piring sama mangkuknya. Belum bisa kirim dalam kapasitas container, hanya setengahnya saja,” tambahnya.
Dari proses pembuatan produk hingga penjualan yang merambah ke pasar internasional, usahanya mencapai omset hingga puluhan juta rupiah. Dalam sebulan Wikrama mencapai Rp 80 juta. (*)
Editor : I Putu Suyatra