Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Petugas TNBB Buleleng yang Harus Berbagi Air dengan Satwa saat Musim Kemarau

Dian Suryantini • Rabu, 17 Januari 2024 | 15:27 WIB
Siswa PKL di kawasan TNBB, Desa Sumberklampok sedang mengisi air di kubangan buatan untuk kebutuhan minum satwa saat musim kemarau, Selasa, 16 Januari 2024.
Siswa PKL di kawasan TNBB, Desa Sumberklampok sedang mengisi air di kubangan buatan untuk kebutuhan minum satwa saat musim kemarau, Selasa, 16 Januari 2024.

SINGARAJA, BALI EXPRESS- Musim kemarau yang panjang menjadi tantangan serius bagi satwa liar di wilayah Taman Nasional Bali Barat (TNBB), Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, Bali.

Tantangan musim kemarau itu mengenai kebutuhan air untuk satwa di TNBB.

Seperti diketahui, di kawasan TNBB tidak ada sumber air yang dapat digunakan untuk kebutuhan konsumsi satwa. Petugas TNBB pun harus berbagi air dengan satwa-satwa itu saat musim kemarau ini.

Kubangan buatan yang disediakan di beberapa titik diisi dengan air yang disuplai dari wilayah Cekik, Jembrana.

Kepala TNBB, Agus Ngurah Krisna mengatakan, air yang ditampung dalam tiga tandon besar itu digunakan untuk kebutuhan MCK oleh petugas yang berjaga, masyarakat yang sembahyang ke Pura Segara Rupek.

Sisanya digunakan untuk mengisi kubangan agar satwa-satwa di dalam hutan dapat minum.

“Kalau musim hujan, tempat minum rusa itu tergenang dan penuh air. Jadi rusa itu bisa tetap sembunyi. Kalau musim kemarau yang susah, mereka tidak bisa minum. Jadi kami ambil air dari Cekik, Jembrana. Kami berbagi dengan satwa. Untuk kebutuhan MCK petugas dan minum satwa juga,” ujarnya, Selasa, 16 Januari 2024.

Meskipun upaya penggalian sumur pernah dilakukan, namun air yang dihasilkan bersifat payau dan tidak memenuhi standar kebutuhan.

Sehingga, petugas TNBB mengambil inisiatif untuk memenuhi kebutuhan air dari sumber terdekat, yaitu dari Cekik.

Suplai air yang diperoleh dari Cekik tersebut menjadi penyelamat bagi satwa liar dan kebutuhan sehari-hari warga.

Air yang diambil dari Cekik diangkut menggunakan mobil tangki dengan kapasitas mencapai 6.000 liter serta dua mobil damkar dengan kapasitas masing-masing 800 liter.

Pasokan air ini dilakukan sebanyak dua kali dalam seminggu, disesuaikan dengan kebutuhan dan pemakaian.

“Jadi armada itu yang kami manfaatkan untuk ambil air bawa ke sini (Pos Penjagaan TNBB),” ujar Agus.

Hal ini sebagai bentuk kepedulian terhadap ekosistem dan keberlanjutan hidup satwa liar yang juga terdampak oleh musim kemarau yang berkepanjangan. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #musim kemarau #TNBB #buleleng